menu.jpg
 
Ruko-Ruko di Surabaya Jadi Tempat Prostitusi

SURABAYA- Ruko-ruko (rumah Toko) di Surabaya saat ini disoroti DPRD Kota Surabaya. Pasalnya, izin ruko tersebut diduga banyak yang beralih fungsi menjadi tempat spa dan panti pijat. Bahkan, kompleks ruko tersebut disinyalir menjadi tempat prostitusi terselubung.

Ketua Komisi A (Hukum dan Pemerintahan) DPRD Surabaya Armudji mengatakan, berdasarkan catatan yang dimiliki komisinya, banyak ruko di Surabaya yang telah beralih fungsi menjadi tempat spa dan rekreasi lain. Menurutnya, ini tidak sesuai dengan perijinan awal. “Kita akan minta data dari pihak Pemkot, berapa tepatnya peralihan fungsi tersebut,” tandas Armudji kepada Surabaya Pagi, Minggu (13/2).

Politisi PDIP ini menambahkan, dalam mengeluarkan izin, Pemkot seharusnya juga secara berkala melakukan pemantauan dan evaluasi atas izin yang telah diberikan tersebut, dengan demikian jika ada perubahan peruntukan Pemkot bisa melakukan tindakan dengan cepat dan tepat. “Jangan seperti saat ini, banyak pelanggaran namun diam saja tidak ada tindakan,” tegasnya.

Komisinya, lanjut Armudji, juga mendapaatkan masukan dan aduan dari masyarakat soal adanya peralihan peruntukan ruko di kawasan Sukomanunggal yang digunakan untuk usaha spa. “Kita akan cek ada atau tidak ijinnya ke Pemkot, jika tidak akan kita hearingkan di dewan, ” jelasnya.

Informasi yang diperoleh, spa di ruko daerah Sukomanunggal itu adalah Mister Spa. Rumah hiburan dan relaksasi ini juga disebut-sebut menyediakan spa dan pijat plus-plus. Namun, penelusuran Surabaya Pagi, tidak hanya Ruko yang ditempati Mister Spa saja yang bermasalah. Tetapi kompleks ruko lainnya juga diduga mengalami perubahan fungsi izin.

Di Ruko Kompleks Darmo Park I dan II Jalan Mayjen Sungkono dan Ruko Jl Kedungdoro, tampaknya paling parah. Di dua ruko itu seperti menjadi Dolly kedua, sebab menjadi lokalisasi prostitusi baru di Surabaya. Di Darmo Park, misalnya, ada sejumlah salon dan panti pijat. Tapi itu hanya kedok belaka. Sebab, pada dasarnya menyediakan layanan esek-esek. Salah satunya, di Ina Massage seperti diinvestigasi Surabaya Pagi, beberapa waktu lalu.

Lokasinya satu kompleks dengan Diskotek Lido atau sampingnya Polsek Dukuh Pakis. Tempat ini menjadi pilihan pria hidung belang karena menyediakan stok cewek Sunda (asal Jawa Barat), yang dikenal pintar memuaskan om-om. Sementara tarifnya tidak terlalu mahal. Rp 200 ribu sudah all in (pijat dan service plus-plus-nya). Informasi yang diperoleh, pemilik Ina Message ini juga mengelola panti pijat lainnya di Darmo Park, seperti Rizky, Orange dan Sherly.

Selain salon dan panti pijat, di komplek Ruko Darmo Park ini juga terdapat kafe-kafe yang ditengarai liar. Kafe ini seperti diskotek yang menghadirkan live DJ dan minuman-minuman beralkohol yang telah diracik. Hanya saja, kafe liar ini hanya dihadiri penggemar dugem kelas bawah.

Ruko di Jalan Kedungdoro tak jauh beda dengan Darmo Park. Di sini juga ada layanan esek-esek berkedok salon dan panti pijat, mulai kelas menengah hingga atas. Kelas menengah bawah itu seperti di Panti Pijat D’King dan Primadona. Bahkan, dua tempat ini berdekatan. Tarif di sini Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu.

Sedang Panti Pijat Gandaria biasanya dihadiri kalangan menengah-atas. Sebab, di sini tak hanya menyediakan cewek-cewek lokal. Tapi juga impor asal China, bahkan dari Uzbekistan pun tersedia. Selain di Kedungdoro, Gandaria juga buka di Ruko Jl Embong Malang.

Kompleks Ruko Jl Kedungdoro ini juga dilengkapi dengan sejumlah tempat dugem, di antaranya LCC dan d’Boss. Jadi, lengkap sudah ruko ini menjadi kawasan “merah” Surabaya.

Tak hanya di tengah kota, Ruko di pinggiran Surabaya juga menggeliat tempat pijat plus-plus. Di antaranya di Panti Pijat “Bu Mamik” di Ruko Jl Baratajaya Blok B. Hanya dengan tarif Rp 220 ribu, penikmat sahwat sudah mendapatkan layanan pijat dan servis plus-plus.

Di dekat Panti Pijat “Bu Mamik” juga terdapat panti pijat plus-plus, yakni Pataya-16. Lokasinya di Ruko Jl Bratang Jaya 16. Pijat plus-plus di sini lebih mahal sedikit dibanding Bu Mamik, yakni di kisaran Rp 270 ribu-300 ribu.

Armudji ketika disinggung soal lokasi-lokasi itu mengaku sudah mendengar jika Ruko tersebut disinyalir menjadi tempat prostitusi terselubung. Karena itu, pihaknya juga mengagendakan untuk memanggil pihak-pihak terkait.

Untuk menghindari pelanggaran peruntukan perijinan, Armudji meminta kepada dinas-dinas terkait agar membuat pos pengaduan, sehingga masyarakat bisa berpartisipasi secara aktif terhadap banyaknya pelanggaran perijinan yang ada di Surabaya. “Jangan berdiri terpisah-pisah, sehingga banyak celah yang dimanfaatkan oleh para pengusaha,” pungkasnya. n ton

Berita lainnya
Pocong, Genderuwo , Wewe Gombel Un...
Pemerintah Siap Hadapi Gugatan New...
TUTUP! Hotel Milik Setiaji Yudho
Pemerintah Ramadan, 29 Juni 2014
Dolly Bukan Tempat Prostitusi Lagi
Muhammadiyah Puasa 28 Juni, NU Tun...
Warga Dolly Ngotot Beroperasi Lagi...
YKS Dihentikan Selamanya
Komnas HAM Dukung Tutup Lokalisasi...
Baru 6 Merk Rokok Pasang Gambar Me...
Kemasan “Gambar Seram” Tak Efe...
Alumni Dolly Lari ke Sidoarjo
Biasanya Dapat 11-15 Tamu, Sekaran...
Wiranto: Penculikan Inisiatif Prab...
“Ayo Mas, Dolly Masih Buka”
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  61