Suramadu Wis Dienggoni “Pasar” Pacaran
| Tempat Mesum Nang Suroboyo Tambah Akeh (1) |
| Jumat, 9 Desember 2011 | 03:46 WIB |
|
|
|
Pantai Ria Kenjeran dadi panggonane gendakan? Iku biasa. Tapi nek Jembatan Suramadu dadi pusat gendakan anyar, iku lagi luar biasa. Risih nontoki pemandangan mesum nang jembatan paling dowo sak Indonesia iku, warga berniat protes. Iki suarane protes’e warga sing disampekno nang Fatoni, wartawan Surabaya Pagi.
Warga di sekitaran Pantai Ria Kenjeran geram dengan sikap pengelola tempat wisata yang terkesan membiarkan praktik mesum tersebut di hampir setiap sudut lokasi wisata. Apalag kin tak cukup di kawasan Pantai Ria Kenjeran saja, tapi sudah meluas ke Jembatan Suramadu.
Jembatan yang terletak di kawasan Kenjeran dinilai juga menambah masalah maraknya tempat-tempat wisata yang dijadikan ajang “pasar” mesum. Lhatlah tiap harinya, belasan pelajar dengan masih mengenakan seragam sekolah sering terlihat bermesraan di tepian jembatan berpanjang lebih dari 5 kilometer ini.''Terus terang kami risih dengan kondisi semacam ini, ini tidak bisa dibiarkan,'' ujar Ketua LKMK Kecamatan Bulak, Hanafi, kemarin.
Harapan perbaikan ekonomi warga sekitar yang sebelumnya disandarkan dengan keberadaan Pantai Ria Kenjeran, ucapnya, buyar seiring dengan praktik-praktik amoral yang kerap terjadi di kawasan tersebut. Menurutnya, selain pasangan muda-mudi terutama pelajar, pasangan selingkuh pun sering terlihat di lokasi wisata tersebut.
Keberaan Hotel Mini yang berada di tengah-tengah lokasi wisata, menurutnya, seakan memberi penawaran fasilitas kepada para pengunjung untuk melampiaskan nafsunya. ''Kita sering melihat sejumlah pasangan berjejer disana-sini, ujungnya mereka masuk ke hotel. Kasihan para orang tua yang mengajak anak-anaknya dengan niat berwisata di lokasi tersebut kalau disuguhi pemandangan seperti itu,'' ujar Hanafi.
Hanafi mengatakan, sudah pernah meminta pihak pengelola wisata menertibkan praktik-praktik semacam itu. Namun, katanya, hingga kini tidak ada tindakan. ''Keberadaan hotel di kawasan tersebut cukup memengaruhi para pengunjung, bagaimana tidak cukup bayar Rp 35 ribu untuk short time mereka bisa langsung pesan kamar, atau kalau tidak punya uang cukup bayar retribusi masuk lokasi wisata bisa langsung pilih tempat untuk “usrek” (berbuat mesum,red),'' katanya.
Dia mengatakan, warga bakal meminta pengelola tempat wisata untuk menutup hotel tersebut. Tujuanya, kata dia, agar lokasi tersebut benar-benar menjadi lokasi wisata, bukan jadi ajang mesum. Menurut Anggota Banser Kota Surabaya ini, apabila keluhan warga tidak disikapi oleh pengelola dan Satpol PP selaku penegak perda, maka Banser Surabaya terutama Kecamatan Bulak siap turun tangan. “Harapanya biar ditangani pemerintah, tapi kalau tidak bisa ya jangan salahkan kalau warga bertindak sendiri,'' katanya.
Ironisnya, di tengah menguatnya protes warga, beberapa warga sekitar lokasi tetap berusaha mengais keuntungan dengan keberadaan lokasi wisata tesebut. Tentunya sebagian besar mereka memilih profesi sebagai pedagang makanan ataupun mainan. Para pedagang pun mengakui, kerap menjumpai sejumlah pasangan yang nekad berbuat mesum di sembarang tempat. ''Kita pura-pura tidak tahu saja, khawatir dagangan tidak laku,'' ujar salah seorang pedagang.
Tidak hanya di hotel, sambung dia, pasangan-pasangan yang sedang dimabuk asmara juga sering terlihat 'bermain' di anjungan (dermaga) buatan. ''Risih mas, harapan kami ya kalau mau wisata ya silakan wisata-lah, jangan main mesum-mesuman segala,'' katanya.
Keinginan itu pun kemarin disampaikan warga kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surabaya yang menggelar silaturrahmi di Kecamatan Bulak. Sekretaris Umum MUI Kota Surabaya, KH Mochamad Munief MM yang hadir dalam pertemuan tersebut cukup menyadari banyaknya lokasi wisata di Surabaya yang dijadikan ajang mesum. Untuk itu, ujar dia, pihaknya akan segera melakukan kajian dan survey lebih mendalam terkait desakan warga yang menuntut penutupan hotel di kawasan Pantai Ria Kenjeran. n