Putus Cinta Penyebab Anak Bunuh Diri
|
| Selasa, 24 Juli 2012 | 02:42 WIB |
|
|
|
JAKARTA - Selama semester pertama tahun 2012 ini, Komnas Perlindungan anak menerima 686 kasus pelanggaran hak anak. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat pada semester dua tahun 2012.
"Bentuk pelanggaran terhadap hak anak ini tidak semata- mata pada tingkat kuantitas jumlah saja yang meningkat, namun terlihat semakin kompleks dan beragam modusnya," ujar Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, di Jakarta, (23/7)
Dari pengaduan tersebut, yang paling fenomenal adalah tingginya angka percobaan bunuh diri anak yang terjadi selama enam bulan ini. Pengaduan kasus bunuh diri anak yang mencapai 20 kasus dengan rentang usia 13-17 tahun. "Kasus bunuh diri pada anak ini, 13 di antaranya meninggal dunia, dan 7 anak berhasil selamat," kata Arist.
Arist mengatakan, dari 20 kasus bunuh diri, hampir seluruhnya merupakan anak yang berasal dari keluarga kalangan miskin dengan modus antara lain gantung diri sebanyak 9 kasus, memakai senjata tajam 8 kasus, terjun dari ketinggian gedung 2 kasus, dan minum racun 1 kasus. "Sedangkan penyebab terbanyak karena urusan putus cinta remaja 8 kasus, fustasi akibat ekonomi 7 kasus, disharmonis keluarga 4 kasus, dan masalah sekolah 1 kasus," ujar Arist.
Arist menjelaskan, tingginya angka percobaan bunuh diri yang dialami anak bukan hanya masalah persoalan pribadi. Kriminalitas dan eksploitasi anak juga kerap terjadi. "Jika pengawasan lemah, anak memungkinkan mencari pelarian ke dunia luar hingga akhirnya terjerumus dan salah jalan," katanya.
Karena itu, lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga harus meluangkan perhatian lebih agar anak tidak terjerumus ke jalan yang salah. "Di sini semua elemen dalam lingkup terdekat seperti keluarga, lingkungan rumah dan sekolah perlu meluangkan perhatian lebih. Mental anak belum stabil sehingga harus dibimbing," katanya. jak