Dinsos Dibohongi Anjal
|
| Jumat, 13 Juli 2012 | 04:44 WIB |
|
|
|
SURABAYA – Niat baik tak selamanya disambut baik. Ini juga yang dialami Dinas Sosial (dinsos) Kota Surabaya. Berniat melakukan pendataan anak jalanan (anjal) justru mereka dibohongi. Beberapa waktu lalu, saat dilakukan pendataan di nyaris semua perempatan, diperoleh 40 nama anjal. Mereka diminta identitasnya seperti nama, alamat, dan keinginan masing-masing. Misalnya, ada yang ingin jualan buku, mainan, atau malah ingin fokus sekolah.
Saat pendataan dilakukan ternyata mereka memberi alamat palsu. Dinsos mengetahui itu saat akan melakukan verifikasi. “Kami kan minta data dulu. Lalu, kami carikan donatur atau pihak yang mau membantu. Pas verifikasi ke lapangan, ternyata yang mereka beri tidak sama dengan kenyataan,” kata Kadinsos Supomo.
Mantan Camat Kenjeran ini menduga kegagalan pendataan itu karena para anjal ragu dengan kesungguhan petugas. Sebab, para petugas adalah orang baru bagi mereka.
Ke depan, Dinsos bakal melibatkan pihak-pihak atau orang yang sudah biasa berhubungan dengan anjal. Dengan demikian, mereka bakal lebih percaya. Hasilnya pun akan lebih maksimal. “Pendataan dan intervensi yang kami lakukan diutamakan untuk warga Surabaya,” katanya.
Di sisi lain, dia berharap anjal bersedia jujur pada petugas. Sebab, pemkot tidak mungkin mencelakai atau menyusun rencana buruk bagi mereka. Sebaliknya, pemkot bakal mengoptimalkan potensi yang mereka miliki dan mengarahkan ke jalan yang tepat.
Terpisah, Ketua Komisi D bidang Kesra DPRD Surabaya Baktiono menuturkan, sudah menjadi tanggungjawab pemkot untuk menertibkan anjal. Bahkan, seharusnya anak warga Surabaya tidak dieksploitasi sedikit pun. Mereka harus dibiarkan hanya sekolah dan bermain.
Di sisi lain, dia menyoroti karakteristik anjal atau pengemis yang kerap ngeluruk ke Surabaya dari luar kota pada bulan Ramadan hingga Idul Fitri. “Ini harus dicegah masuk Surabaya. Dishub bahkan Polisi mestinya ikut membantu. Soalnya, ini termasuk menganggu kenyamanan dan ketertiban juga,” kata politisi PDI Perjuangan itu.
Dia menjelaskan, kondisi seperti ini merupakan pelanggaran. Sebab, truck digunakan mengangkut manusia apalagi ada unsur eksploitasi. Mungkin bisa dilakukan operasi atau razia di pintu-pintu masuk kota seperti bundaran Waru, Jalan Gersikan, dan Tambak Osowilangon.ov