Jadi Simpanan Pejabat Surabaya, Dijatah Rp 5 Juta per Bulan
| Pengakuan Purel Klub Malam di Surabaya Timur |
| Senin, 11 Juni 2012 | 03:51 WIB |
|
|
|
Tempat hiburan malam di Kota Surabaya begitu tumbuh subur. Karena itu pula, banyak wanita yang tertarik bekerja di tempat tersebut, karena dianggap bisa mendatangkan lembaran rupiah dengan mudah. Meski setiap malam harus menemani suami orang lain, itu menjadi bagian risiko pekerjaan sebagai purel. Belum lagi mabuk minuman keras, kena marah, bahkan terkadang kena pukulan tamu yang lagi marah. Suka duka inilah yang diceritakan Agnes (bukan nama sebenarnya), seorang purel di klub malam kawasan Surabaya Timur, kepada wartawan Surabaya Pagi, Ali Machfud.
Aku bukan asli Surabaya. Tapi cukup betah tinggal di kota pahlawan ini. Warga di sini ramah-ramah. Teman-teman satu pekerjaan juga asyik-asyik. Kalau mau jalan-jalan, di sini banyak teman yang enak. Tapi aku lebih sering hang out di Sutos (Surabaya Town Square). Dari pada stres di kos-kosan, lebih baik jalan-jalan di mall. Apalagi, tak jarang ketemu relasi di sana.
Bagaimana bisa aku ‘terdampar’ di Surabaya? Ceritanya cukup panjang. Semua ini tak lepas dari persoalan ekonomi keluarga. Sebenarnya, orang tuaku cukup berada. Papaku sebagai kontraktor atau rekanan di pemerintahan kota Bandung. Sedang mamaku membuka toko dengan berbisnis baju dan sepatu. Namun, semuanya menjadi hancur ketika papa menceraikan mama. Kala itu, usiaku masih 15 tahun. Belum tahu betul bagaimana kehidupan rumah tangga orang dewasa.
Namun, dampaknya sangat jelas aku rasakan. Sejak bercerai, papa tak pernah mengurusi aku. Usaha mama lama-lama juga sepi, hingga akhirnya mama menjual rumah dan kami hidup di kontrakan. Yang sangat menyakitkan, aku mendengar cerita, jika papaku menceraikan mama karena kecanthol dengan wanita lain. Hancur banget hati ini. Papa yang dulu kubanggakan, kini menjadi rasa kebencian yang amat sangat.
Hingga akhirnya, sekolahku pun berantakan. SMA tak tamat. Parahnya lagi, lingkungan pergaulan ku tak mendukung. Sempat pacaran dengan anak seorang pengusaha, tapi akhirnya juga menyakitkan. Dia meninggalkan aku, setelah meniduriku. Dalam serba kacau, aku sempat menjual diri ke om-om. Saat itu diberi tips Rp 1 juta. Lumayan untuk bantu mama. Namun, perilakuku yang nakal ini membuat aku khawatir. Jika mama tahu, pasti marah besar. Akhirnya, aku pamit kerja di Jakarta.
Namun, oleh seorang teman disarankan kerja di Surabaya saja. Kebetulan dia punya kenalan seorang agency yang menyalurkan cewek-cewek ke tempat hiburan malam. Hingga akhirnya aku ditempatkan di sebuah klub malam di kawasan Surabaya Timur. Sudah hampir dua tahun aku kerja di sini. Penghasilan ku juga lumayan. Bisa sampai Rp 10 juta setiap bulan, bahkan lebih. Ini karena sudah empat bulan ini, aku beranikan diri menjadi simpanan seorang pejabat. Untungnya, pejabat ini tidak begitu mengekang. Aku tetap diperbolehkan bekerja, tapi tidak boleh aneh-aneh.
Meski begitu, kerja seperti ini sungguh melelahkan. Hampir setiap malam selalu mabuk. Pengalaman buruk pernah menimpaku. Kala itu, aku dibooking seorang pria tambun bermata sipit. Kepalanya agak botak dan berkaca mata. Dia tak sendiri, datang bertiga dengan temannya. Begitu masuk di room, sudah tersedia tiga botol Chivas. Ya, ampun…. Ternyata pria ini benar-benar ‘ngerjain’ diriku. Aku dicekoki hingga ku benar-benar tak sadarkan diri. Tahu-tahu sudah berada di kamar hotel, dengan tanpa pakaian sehelai benang pun.
Yang membuatku sakit hati. Pria ini malah memaki-maki aku. Dia bilang, layanan ku kurang atau apalah, dengan hinaan-hinaan yang merendahkan martabatku. Sakit banget rasanya jika mengingat itu. Apalagi, aku hanya diberi tips Rp 1 juta. Padahal, biasanya jika ada yang mengajak tidur di hotel, tarifku minimal Rp 2 juta.
Untung sekarang aku mengenal si pejabat ini. Meski dia sudah memiliki istri dan dua orang anak, dia tetap baik kepada ku. Kos-kosan dibayar dia dan jika mau kemana-mana ada sopir yang akan mengantarkanku. Dia sendiri tidak mau menginap di kosanku. Jika perlu aku, dia pasti mengajakku ke luar kota. Soal jatah dari dia, paling tidak Rp 5 juta per bulan selalu ditransfer ke rekeningku. Tapi jika aku butuh lain-lain, dia tetap kasih aku uang.
Kini, secara materi aku sudah cukup lumayan. Tapi aku tetap merasa menjadi wanita hina. Ibuku aku kirimi uang dengan hasil yang mungkin tidak halal. Tapi apa boleh buat. Aku hanya bisa seperti ini. Maafkan aku mama. Tuhan, ampuni dosaku. n at