menu.jpg
 
Pdt Aswin Digugat dan Dipidanakan

Laporan: Tim Surabaya Pagi

SURABAYA (Surabaya Pagi) – Pdt. David Aswin Tanuseputra, akan digugat oleh puluhan jemaat gereja Bethany, baik pidana maupun perdata. Lebih 20 orang Jemaat sudah mengadakan rapat di rumah Soyung di Margorejo Indah Surabaya, Kamis sore (14/6). Jemaat akan menunjuk kantor hukum dari Jakarta dan Surabaya.

Kepada Surabaya Pagi, Soyung menegaskan, jemaat yang telah bersepakat dengan dirinya, bertekad untuk mengamankan asset gereja yang berasal dari persembahan jemaat oleh oknum-oknum pribadi keluarga Pdt Abraham Alex Tanusaputra, agar tetap menjadi asset gereja untuk kepentingan Tuhan, fakir miskin dan yatim piatu. ‘’Kami mencurigai ada tikus-tikus yang merongrong kekayaan gereja untuk kepentingan pribadi, karena Pdt. Abraham Alex dari hari ke hari makin sadar bahwa gereja Bethany adalah milik Tuhan dan jemaat,’’ tegasnya.

Pihaknya kini membentuk paguyuban jemaat Bethany anti tikus-tikus yang merusak citra Bethany, termasuk dari anggota Keluarga Pendeta Abraham Alex. ‘’Kami bersama anggota manajemen gereja Bethany sudah menelusuri asset gereja yang digunakan Pdt Aswin mencapai Rp 500 miliar dalam berbagai bentuk barang bergerak dan tidak bergerak sampai lukisan mahal internasional,’’ Soyung menegaskan.

Soyung membuka diri bahwa ia bersama istri dan anak serta menantunya sudah menyumbangkan persembahan ke gereja Bethany sejak tahun 1990an. “Ketika itu dana tabungan keluarga berlebihan, sehingga tiap minggu istri saya saya menyumbang minimal Rp 40 juta dan pernah Rp 200 juta. Jadi kalau ditotal uang persembahan keluarga saya gak terhitung, bisa puluhan miliar. Masak persembahan kami digunakan foya-foya oleh Pdt. Aswin. Jujur kami tidak rela, makanya kami akan mengajukan gugatan perdata dan melaporkan pidana Pdt Aswin ke kepolisian, agar diusut tuntas, sebab uang persembahan milik Tuhan, bukan milik keluarga Pendeta Abraham Alex Tanusaputra,’’ ingat Soyung, yang dikenal pedagang batu permata dan barang antik termasuk lukisan dari luar negeri.

Dalam pertemuan dengan jemaat di rumahnya itu, Soyung menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengundurkan diri sebagai jemaat gereja Bethany. ‘’Saya tetap jemaat gereja Bethany, karena saya sudah di baptis oleh Pendeta Abraham Alex. Saya ditugaskan mengawasi jalannya penggunaan uang persembahan jemaat. Kalau ada pihak yang melawan akan saya libas, sebab gereja adalah tempat ibadah. Kalau ada pendeta termasuk anak Pak Abraham Alex yang mau kaya atau cari mamon, jangan menjadi pendeta di gereja ini. Pendeta jangan jadi tikus-tikus yang mengambili uang persembahan. Ingat, diantara yang menyumbang persembahan ada pula jemaat yang uangnya pas-pasan,’’ ingatnya.

Ditanya siapa saja tim pengacara jemaat yang akan menggugat Pdt Aswin, dengan diplomasi Soyung menyebut ‘’Tunggu tanggal mainnya. Saya sudah diberi mandate oleh puluhan jemaat. Saya berharap Pdt. Aswin tidak melarikan diri, sebab ia punya apartemen di Singapura dan Australia,’’ tambah Soyung
Periksa Pdt Aswin

Memiliki kekayaan Rp 200 miliar-Rp 500 miliar, Pendeta David Aswin Tanuseputra disebut-sebut obral uang hingga Rp 6 miliar untuk mengurus perkaranya di Polda Jatim dan Polda Sulawesi Selatan. Namun, gembar-gembor ini bakal menjadi bumerang bagi anak lelaki Bapak Bethany, Pendeta Abraham Alex Tanuseputra (Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Bethany Indonesia). Pasalnya, Pdt Alex bisa diseret aparat penegak hukum untuk diperiksa mengenai kebenaran uang yang diobralnya itu.

Dosen Hukum Universitas Surabaya (Ubaya) Marianus Gaharpung SH, MS dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara (Ubhara) Dr. Joko Sumaryanto, SH, MHum, heran dengan gembar-gembor Pdt Aswin. Untuk apa saja uang Rp 6 miliar itu dan diberikan ke penyidik atau makelar kasus (markus).

“Bisa jadi lari ke markus. Namun jika itu (menghabiskan uang Rp 6 miliar untuk markus, red), maka malah melemahkan pasal-pasal yang dibuat laporan dia (Pdt Aswin, red),” ungkap Joko Sumaryanto, Kamis (13/6).

Terlebih lagi ia figur seorang pendeta. Seharusnya ia menghindari praktik suap atau main uang untuk memuluskan laporan yang dibuatnya di Kepolisian. Karena itu, Joko menilai Pdt Aswin patut diperiksa terkait gembar-gembornya itu. Ini untuk menelusuri benar tidaknya aliran dana Rp 6 miliar yang disebut-sebut dari Pdt Aswin.

“Harus ditelusuri kepada siapa Pendeta Aswin memberikan uang sebesar itu? Siapa markusnya? Dan apakah ada oknum polisi yang terlibat di dalamnya,” lanjut Joko.

Dari sisi etika, menurut Joko, seorang pendeta tidak pantas melakukan itu, praktik penyuapan dan main uang. “Bagi seorang pendeta melakukan perbuatan hukum dengan melawan hukum sangatlah tidak pantas,” tandasnya.

Hal sama dinyatakan Marianus Gaharpung. Menurutnya, ucapan Pendeta Aswin harus dibuktikan terbih dahulu. “Ucapan dia (pendeta Aswin, red) harus dibuktikan dulu benar apa salah?” tuturnya. Karena itu, lanjutnya, harus ada klarifikasi dari Pdt Aswin. Polisi pun boleh mengusutnya, apalagi ini menyinggung institusi Polri.

Menurutnya hukum harus sesuai dengan fakta. Nah, fakta itu yang harus dibuktikan. “Apakah benar ada aparat yang terlibat? Kalau benar itu harus diberikan sanksi tegas, dan bila ucapan Pendeta Aswin itu tidak benar, maka ia yang harus dihukum,” ujarnya

Semestinya, lanjut Marianus, Pendeta Aswin itu tahu bahwa perlindungan hukum seseorang itu gratis dan itu dijamin oleh negara. Sebab, mencari keadilan dengan melaporkan ke pihak berwajib harusnya tanpa embek-embel uang. Negara juga memberikan perlindungan mengenai hal ini. “Kalau memang pendeta Aswin dalam proses hukumnya merasa dipersulit, ia harus melapor. Dan bila ia memberi uang kepada oknum kepolisian atau jaksa, jelas itu bentuk suap,” jelas Marianus.

Karena itu, menurut dia, Pdt. Aswin harus dipanggil dan dimintakan pertanggungjawaban atas gembar-gembornya tersebut. Apa yang dikatakan Pdt Aswin telah menghabiskan Rp 6 miliar dalam mengurus perkaranya, menurut Marianus, itu sama saja dengan menampar aparat Kepolisian. “Bila memang pendeta Aswin mengeluarkan uang sebanyak itu, harus dibuktikan kepada siapa uang itu diberikan, jangan ditutup-tutupi, harus sesuai dengan fakta,” ungkapnya. Bila ucapan pendeta Aswin ini tidak benar, ia bisa diproses.

Marianus mengusulkan kepada polisi untuk membentuk tim khusus untuk mengusut ini. “Bentuk saja tim khusus, jika perlu penyidik dari Mabes Polsi untuk memeriksa pendeta Aswin. Selain itu, ajak pengacara yang betul-betul bersih dan profesional,” imbau Marianus.

Ia menegaskan pendeta itu corong kebenaran umat Kristiani. Karena itu, ucapan Pendeta Aswin itu harus dibuktikan dahulu betul atau tidaknya.

Pdt Aswin Berkelit

Sementara itu, Pendeta Aswin berkelit menyusul memanasnya pemberitaan atas gembar-gembor mengobral uang Rp 6 miliar. Ketika dihubungi melalui telepon, tadi malam, Pdt Aswin menyangkal dirinya telah mengeluarkan uang 6 miliar untuk mengurus perkaranya di Polda Jatim dan Polda Sulawesi Selatan. “Saya gak pernah ngomong gitu kok. Lebih baik tanya ke pak Reno (Pendeta Reno, salah seorang pendeta Gereja Bethany, red). Dia yang lebih tahu urusan manajemen,” cetus Pdt Aswin. “Dan ucapan saya itu bukan untuk publik,” imbuhnya.

Menurtnya ia lebih fokus mengurusi urusan di dalam Gereja Bethany. Ia mengaku bingung mengapa sampai masalah pribadinya diungkap ke publik. “Itu kan gak etis, saya sendiri gak tahu perkaranya apa? Kok tiba-tiba nama saya muncul di koran, saya sendiri lebih fokus mengurusi gerejanya, sebenarnya ada apa ini?” tanyanya kepada Surabaya Pagi.

Untuk urusan hubungan masyarakat, lanjutnya, yang mengurusi adalah pendeta Reno yang tahu menahu persoalan manajemen gereja Bethany. “Hubungi Pak Reno saja mas,” ujarnya lagi.
Seperti diberitakan, satu minggu ini di kalangan jemaat dan pengurus Gereja Bethany, membicarakan gembar-gembornya Pdt. David Aswin Tanusaputra, yang menyatakan selama mengurus perkara di di Polda Jawa Timur maupun Polda Sulawesi Selatan, telah menghabiskan dana sebesar Rp 6 miliar. Kabarnya, dana ini untuk aparat, pengacara dan wartawan.
Ini seiring dengan konflik antar pendeta gereja Bethany ini, yakni Pdt Abraham Alex Tanuseputra (Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Bethany Indonesia); Pendeta Yusak Hadisiswantoro (menantu Pdt. Abraham Alex), Ir. Leonard Limato (pendiri Badan Hukum Gereja Bethany), Pdt. David Aswin Tanusaputra (anak lelaki bapak Bethany, Pdt. Abraham Alex) dan advokat George Handiwiyanto. Mereka saling melapor satu dengan yang lain.

Pendeta Yusak dilaporkan melakukan dugaan pemalsuan dokumen dalam pengalihan sertifikat hak milik (SHM) Gereja Bethany dan memberikan keterangan palsu. Ancamannya pasal 263 dan 266 KUHP. Pendeta Abraham Alex, dilaporkan oleh Pdt. Leonard Limanto, diduga menggelapkan uang gereja. Pdt. Leonard Limanto, dilaporkan melakukan fitnahan dan pencemaran nama baik. Demikian juga advokat George, selaku kuasa Pdt. Leonard, juga dilaporkan melakukan perbuatan tidak menyenangkan, fitnahan dan pencemaran nama baik. n

Berita lainnya
Semalam, Pabrik di Kalianak Terbak...
Lumpuh, Janda Miskin Butuh Bantuan
Ribuan Orang Ikuti Lari 10 K
Keliling Jual Gula Aren, Bisa Naik...
Pdt. Aswin Belum Jalankan Putusan ...
Jemaat Desak Kasus Pdt Aswin Diper...
Pdt. Aswin Kena Batunya
Masih Ada Pejabat Pemkot Terima So...
Tinggalkan Istana, Ani Yudhoyono S...
Embarkasi Surabaya Tingkatkan Laya...
Asma Kambuh, Jangan Diremehkan!
Jual Sawah untuk Berangkat Haji
Alim Markus ‘Sogok’ MK
Sukses Jadi Motivator Dunia
Suhu Madinah Capai 45 Derajat Celc...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  94