Rektor Universitas Airlangga (Unair), Prof Mohammad Nasih. (kanan)

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Guru Besar Fakultas Farmasi Unair, Prof. Dr. Suharjono, MS., Apt dalam pidatonya menyampaikan tentang kajian polifarmasi, dari aspek interaksi, efektivitas dan keamanan obat. Ia mengatakan Polifarmasi adalah penggunaan obat- obatan yang saling bersamaan dan sering dijumpai pada orang tua (geriatri). Namun, sering pula dilakukan oleh anak dan remaja dewasa.

Rektor Universitas Airlangga (Unair), Prof Mohammad Nasih, kembali mengukuhkan tiga guru besar secara bersama di Gedung Rektorat Unair, Jl. Mulyorejo, Surabaya, Kamis (28/12/2017). Ketiga Guru besar yang dikukuhkan berasal dari Fakultas Farmasi, di antaranya Prof. Dr. Suharjono, M.S., Apt dalam bidang Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik, Prof. Dr. Suko Hardjono, M.S., Apt dalam bidang Ilmu Kimia Medisinal dan Prof. Dr. Achmad Fu’ad, M.S., Apt dalam bidang Ilmu Biologi Farmasi.

Rektor yang kerap disapa Prof Nasih itu mengungkapkan kebahagiaan dalam mengukuhkan tiga guru besar hari ini. Sebab, ketiganya memberi alternatif terkait pengobatan bagi masyarakat.

"Kami Universitas Airlangga berbahagia dalam pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Informasi dan obat obatan sehingga dapat berguna terhadap masyarakat, bangsa dan negara" dalam penyambutan pengokohan tiga guru besar dari Fakultas Farmasi.

Selain itu, Rektor Unair mengungkapkan harapan terbesar terhadap Fakultas Farmasi Unair agar menjadi fakultas terbaik kedua di Indonesia setelah adanya pengukuhan tiga gubes baru.

"Pertama, polifarmasi menyebabkan terjadi interaksi obat di dalam tubuh pasien melalui mekanisme farmakodinamik seperti contoh penggunaan alkohol bersama sedatifa yang akan membahayakan pengkonsumsi, dan Farmakokinetik yang terjadi pada fase aborsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat. Kedua, polifarmasi yang efektif adalah apabila obat yang digunakan memiliki efek aditif, sinergis dan efek samping. Ketiga, keamanan polifarmasi memperhatikan dan mencegah kemungkinan terjadi efek samping," paparnya.

Sementara itu, Prof Dr. Suko Hardjono, MS., Apt menyampaikan tentang peran kimia medicinial dalam pengembangan obat anti kanker. Ia menjelaskan jika kanker adalah salah satu penyebab meningkatnya kematian dalam negara berkembang seperti Indonesia.

"Pengembangan obat melalui modifikasi induk dan salah satu obat yang dikembangkan adalah obat anti kanker, karena kanker merupakan salah satu penyakit penyebab utama kematian di negara berkembang dan juga di seluruh dunia. Di Indonesia, penyakit kanker merupakan penyebab kematian pada urutan kelima setelah penyakit jantung, stroke, saluran pernafasan dan diare," jelas Suko dalam pengukuhan di Unair.

Sedangkan Prof. Dr. Achmad Fu'ad, MS., Apt dalam pidatonya menyampaikan keanekaragaman kandungan kimiawi dan bioaktivitas dalam bahan alami. Ia mengatakan Indonesia adalah negara terkaya kedua setelah Brazil dengan julukan Mega Diversity namun dalam perkembangannya belum dapat diterapkan.

"Indonesia mempunyai tanaman biotalaut yang dapat difungsikan sebagai antivirus dalam berbagai penyakit, namun kurang dimanfaatkan. Sedangkan Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam biotalaut yang harus didukung pemerintah," ungkap Prof. Fu'ad.

Selanjutnya Prof Fu'ad berharap ada kebijakan pemerintah terhadap kemandirian pembuatan obat. "Pemerintah dapat mendukung kemandirian pembuatan obat yang ada di Indonesia apalagi Indonesia adalah salah satu negara terkaya kedua setelah Brazil dalam potensi tanaman obat obat," pungkasnya. js