Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto didampingi Ketua Komite Etik Dokter RS Sartika Asih sekaligus dokter spesialis kesehatan jiwa, Leony Widjaja, dan dokter Leni Irawati.

SURABAYAPAGI.com, Bandung – Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto akan tetap melanjutkan penyidikan dan menyerahkan keputusannya kepada hakim, meskipun psikiater RS Sartika Asih menyatakan jika pelaku penganiayaan KH Umar Basri, yakni A, dinyatakan mengalami gangguan jiwa berat

"Penyidikan tetap, sebelum melengkapi hasil dari ahli dan kami menunggu hasil lab di mana tersangka A selain menggunakan tangan, juga menggunakan alat. Penyidik melihat ada bercak darah di pegangan mic. Jika identik dengan darah korban maka ada korelasinya. Jadi nunggu hasil dari dokter dan labfor, tetap akan diberkas. Nanti menentukan apakah tersangka A itu termasuk dalam Pasal 44 KUHP itu adalah hakim. Prosesnya diikuti saja sesuai dengan sidang," jelas Agung di Bandung, Selasa (30/1/2018).

Seperti diketahui, Pasal 44 Ayat 1 KUH Pidana menyatakan tidak dapat dipidana barang siapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal.

Sedangkan Pasal 44 Ayat 2 menyatakan, jika nyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal, maka dapatlah hakim memerintahkan memasukkan dia ke rumah sakit jiwa selama-lamanya satu tahun untuk diperiksa.

Sementara itu, Ketua Komite Etik Dokter RS Sartika Asih sekaligus dokter spesialis kesehatan jiwa, Leony Widjaja, mengatakan, pihaknya akan melakukan observasi pemeriksaan selama 14 hari. Namun, jika waktu dinyatakan kurang maka akan ada penambahan waktu hingga 14 hari lagi.lx/kmp