Fajar penderita gizi buruk di Menganti terbaring lemas. Sejumlah dermawan pun tampak berdatangan membantu. (SP/MIS)

SURABAYAPAGI.com, Gresik - Menjadi sebuah daerah industri, ternyata bukan suatu jaminan Kabupaten Gresik, Jawa Timur, sudah bebas dari kasus gizi buruk. Muhammad Fajar, warga Desa Putat Lor, Kecamatan Menganti, Gresik, adalah buktinya. 
 
Pria berusia 12 tahun ini hanya bisa tergolek lemas di tempat tidur. Badannya kurus kering, dan tulang-tulang-tulangnya tampak. Ia terkena gizi buruk.
 
Muhammad Fajar, sebenarnya pernah menjalani rawat inap di RSUD Ibnu Sina. Namun, pihak keluarga tidak punya biaya untuk menebus biaya obat, menjadi alasan dia dipulangkan ke rumah. Konon, biaya yang dibutuhkan Rp 3 juta.
 
Sejak foto anak buah pernikahan pasangan Ahmad Baidowi (42) dan Wijayanti (37), ini viral di media sosial. Sejumlah dermawan pun turut berdatangan ke rumahnya. Selain ingin melihat kondisi Fajar, mereka juga membantu meringankan beban kedua orang tuanya.
 
Ibu Fajar, Wijayanti mengemukakan, faktor ekonomi yang melanda keluarganya tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga kurang memperhatikan makanan bergizi bagi anak-anaknya. 

"Gara-gara tidak ada dana, keluarga kesulitan membeli makanan bergizi," ujar Wijayanti kepada Surabayapagi.com, Selasa (30/1/2018).
 
Wijayanti, ibu Fajar, mengaku heran suaminya sangat sulit memperoleh lapangan pekerjaan layak. Sehingga sehari-hanya hanya bisa bekerja serabutan. Padahal sambung dia, Gresik dikelilingi ratusan pabrik yang mestinya mengedepankan warga asli Gresik direkrut sebagai pekerja.
 
Menurut Wijayanti, terkait kasus gizi buruk yang dialami putranya, sebenarnya sudah lama diketahui. Namun, ia hanya bisa pasrah lantaran keadaan ekonomi yang tak mendukung. Membeli bahan makanan tahu tempe saja sangat susah, apa lagi makanan yang mengandung gizi seperti ikan, daging, susu maupun sayur-sayuran. 
 
"Bantuannya yang saat ini diberikan para dermawan, sangat membantu meringankan beban kami. Khususnya untuk memulihkan kondisi kesehatan putra kami, Fajar," tandasnya.
 
Lantas apa sikap Pemkab Gresik terkaut temuan kasus gizi buruk ini? Kepala Dinas Kesehatan Gresik hingga kini belum bisa dikonfirmasi. 
 
Meski demikian, keluarga Fajar mengaku belum ada petugas yang memberikan tindakan khusus psfa putranya itu. Termasuk pada saat berada di RSUD milik Pemkab Gresik. Ibnu Sina. Bahkan, Fajar harus di keluarkan dari rumah salit plat merah tersebut, lantaran tidak punya biaya.
 
"Kami kan tidak pakai BPJS. Boro-boro bayar BPJS, wong biaya sehari-hari saja terseok-seok," kata Ahmad Baidowi. 
 
Banjirnya kepedulian para dermawan untuk membantu Fajar, diharapkan pihak keluarga Fajar bisa segera pulih. Agar ia dapat bermain layaknya teman-teman seusianya.
 
Sementara itu, Siti Ibdoh yang turut berkunjung ke rumah orang tua Fajar di Menganti, menyayangkan masihnya ada kasus gizi buruk yang menimpah masyarakat. Padahal, dewasa ini program Posyandu yang melibatkan kader PKK desa, Puskesmas untuk aktif turun ke masyarakat melakukan kegiatan keposyanduan.
 
"Nah, ini bukti bahwa kader Posyandu dan petugas kesehatan tidak jalan. Ini yang jadi pertanyaan," terang Siti yang baru tujuh bulan pensiun sebagai petugas kesehatan di Surabaya.
Mis