Warga binaan Lapas Lamongan memasukan surat suara, usai menggunakan hak suaranya di TPS lingkungan Lapas, dalam pemilihan kepala daerah beberapa tahun yang lalu. (SP/MUHAJIRIN KASRUN)

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Pemetaan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Lamongan, banyak ditemukan tidak sesuai dengan domisili dari pemilih, hal yang demikian itu memicu keengganan pemilih untuk menyalurkan suaranya karena jauh dari tempat tinggal, dan akhirnya memicu angka golongan putih (Golput) dalam Pilgub mendatang cukup besar.

Penegasaan itu disampaikan Komisioner Panwaslu Lamongan Divisi Pencegahan dan Hubungan antar Lembaga Lamongan, Miftahul Badar kepada wartawan Selasa (6/2/2018), pasca pelaksanaan Coklit yang dilakukan oleh KPU lamongan belum lama ini.

"Temuan adanya pemetaan TPS yang tidak sesuai domisili ini, jika tidak segera dilakukan perbaikan maka dikhawatirkan akan mempertinggi angka ketidakhadiran di TPS atau golput," katanya karena pemilih enggan menyalurkan pilihanya lantaran TPS-nya jauh dari tempat tinggalnya.

Disebutkan Badar, pemetaan TPS yang tidak sesuai dengan domisili pemilih ini sangat signifikan selama pelaksanaan Coklit yang terdapat dalam form A-KWK yang dilakukan oleh KPU Lamongan. "Temuan terbanyak terdapat di Desa Wanar, Kecamatan Pucuk," ungkap Badar yang menyebut kalau hal ini akan mempersulit pemilih.

Dari temuan ini, lanjut Badar, pihaknya akan segera menindaklanjuti dengan membuat surat rekomendasi perbaikan ke KPU Lamongan. "Jika pemetaan TPS ini tidak segera dilakukan perbaikan, kami khawatir angka golput pada Pilgub Jatim 27 Juni mendatang di Lamongan akan semakin tinggi," tegas Badar.

Temuan lain yang berhasil diungkap oleh Panwaslu selama pelaksanaan Coklit yang masih berlangsung ini, menurut Badar, adalah nama ganda dalam daftar pemilih. Nama ganda ini juga dikhawatirkan akan membuat warga untuk enggan menggunakan hak pilihnya.jir