Direktur Utama Bank Jatim Drs Soeroso bersama Gubernur Jatim Soekarwo, saat pembukaan RUPS Bank Jatim, di kantor pusat Bank Jatim, Selasa (20/2/2018) kemarin. (Foto: SP/Byob Arlana)

SURABAYA PAGI, Surabaya – Secara mengejutkan, jajaran komisaris Bank Jatim mengalami perubahan. Entah kebetulan atau tidak, menjelang Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 ini, rapat umum pemegang saham (RUPS) Bank Jatim menunjuk Akhmad Sukardi, yang merupakan Sekretaris Daerah Pemprov Jatim, menggantikan Heru Santoso.

"Selamat kepada bapak Akhamd Sukardi, terpilih dalam RUPS sebagai Komisaris Utama. Selamat jalan bapak Heru Santoso yang sudah bekerjasama dan membina dengan baik," kata Direktur Utama Bank Jatim Soeroso saat konferensi pers RUPS Bank Jatim Tahun Buku 2017 di kantor pusat Bank Jatim, Jalan Basuki Rahmat, Selasa (20/2/2018).

Selain perubahan pada posisi komisaris utama. Juga ada perubahan pada komisaris yakni, Subagyo digantikan Budi S. "Terima kasih kepada Pak Subagyo, yang berturut-turut menjadi komisaris," tuturnya.

Saat ditanya pergantian Komisaris Utama Bank Jatim, yang kebetulan waktunya berbarengan dengan menjelang Pemilihan Gubernur Jawa Timur. Soeroso, enggan menjelaskannya, dan secara normatif menjelaskan alur sistem penggantian komisaris. Yakni, keputusan penggantian komisaris adalah hasil dari RUPS. "Diputuskan melalui RUPS. Secepatnya kami akan melaporkan (penggantian komisaris) ke OJK," jelasnya.

Laba Naik 13 Persen

Soeroso melanjutkan, dalam rapat tersebut juga dibahas penetapan penggunaan laba bersih perseroan tahun buku 2017. Termasuk juga pemberian bonus bagi pegawai, serta tantiem untuk direksi dan dewan komisaris.

Soeroso mengaku, meskipun ekonomi global mengalami ketidakstabilan pada 2017, Bank Jatim masih mampu menunjukkan pertumbuhan dan performa kinerja keuangan yang bagus. Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2017 (audited), laba bersih Bank Jatim tercatat Rp 1,16 triliun atau tumbuh 12,76 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY).

Soeroso melanjutkan, kredit Bank Jatim juga mengalami pertumbuhan sebesar 7,01 persen, atau sebesar 31,75 triliun (YoY). Begitu pun, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 21,48 (YoY) atau sebesar 39,84 triliun.

"Ini masih menunjukkan tren kepercayaan masyarakat teradap Bank Jatim cukup tinggi. CASA rasio Bank Jatim selalu berada di atas 65 persen. Di tahun 2017, CASA rasio Bank Jatim sebesar 69,89 persen," ujar Soeroso.

Soeroso mengungkapkan, rasio keuangan Bank Jatim pada Desember 2017 juga menunjukkan peforma yang membanggakan. Antara lain, Return On Equity (ROE) sebesar 17,43 persen, Net Interest Margin (NIM) sebesar 6,68 persen, Return On Asset (ROA) menjadi 3,12 persen, dan efisiensi pada Biaya Operasional dibanding Pendapatan Operasional (BOPO) dari 72,22 persen menjadi 68,63 persen.

Tren kenaikan harga saham Bank Jatim (BJTM) diakui Soeroso juga menjadi perhatian masyarakat. Mengingat selama 2017 pertumbuhan harga saham BJTM mencapai 17,60 persen, yang ditutup pada level Rp 710/ lembar.

"Di tahun ini pula, BJTM membukukan harga saham tertinggi dalam sejarah sejak IPO di 2012. Yaitu sebesar Rp 840/ lembar saham pada April 2017," kata Soeroso.

Namun demikian, lanjut Soeroso, Bank Jatim akan terus melakukan berbagai terobosan demi meningkatkan kepuasan nasabah. Bahkan, pada 2018, Bank Jatim berencana meningkatkan fee based income yang sejalan dengan pengembangan teknologi digital e-banking, yang telah dimiliki Bank Jatim.

Laporan: Riko Abdiono, Iskandar