Kawasan Gresik

SURABAYAPAGI.com, Gresik - Moncernya pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik tidak sebanding lurus dengan pergerakan inflasi.

Buktinya, selama bulan Januari 2018, inflasi di kabupaten tersebut mencapai 4,27 persen.

Angka itu, termasuk tertinggi dibanding Provinsi Jawa Timur yang inflasinya hanya mencapai 4,04 persen. Malahan di tingkat nasional, angka inflasinya hanya sebesar 3,61 persen.

Ada beberapa item yang menjadi penyebab tingginya inflasinya di Gresik. Salah satu di antaranya adalah tidak lancarnya distribusi barang, meningkatnya konsumsi masyarakat, naiknya biaya produksi, dan adanya spekulan.

"Agar angka inflasi stabil Pemkab Gresik melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) berupaya menurunkan angka inflasi. Pasalnya, tahun ini Pemerintah Pusat menurunkan angka penetapan inflasi sebesar 3,5 persen," ujar Wakil Bupati Gresik, M.Qosim selaku Ketua tim TPID, Selasa (27/02/2018).

Dia mengatakan, untuk menurunkan angka inflasi di Gresik, dia memerintahkan seluruh Kepala OPD yang ikut dalam TPID tersebut serius melakukan langkah-langkah sesuai tugas dan kewenanganya masing-masing.

"Hal yang menjadi penyebab inflasi seperti ketidaklancaran distribusi barang, konsumsi masyarakat yang meningkat, kenaikan biaya produksi dan spekulan harus segera dikendalikan," ujar M.Qosim.

Ia menambahkan, tim TPID harus terus memonitor sumber tekanan inflasi dan pergerakan harga dan mengusulkan rekomendasi kebijakan. Semua data teknis yang ada di OPDm baik itu harga komoditi pasar, jumlah tenaga kerja di Gresik atau luas lahan dan produksi pertanian, jumlah ternak yang terkait dalam pengambilan kebijakan harus dilaporkan ke TPID.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim, penyumbang inflasi bulan Desember 2017 di Jawa Timur sebesar 0,71 persen yakni telur ayam ras, beras, daging ayam ras, tomat sayur dan wortel.

Sedangkan inflasi bulan Januari 2018 sebesar 0,60 persen dipicu oleh beras, daging ayam ras, emas, cabai, melon, dan rokok kretek. (bj/irs)