Suasana rumah sakit National Hospital di Surabaya barat.

SURABAYA PAGI, Surabaya - Masih ingat kasus dugaan pelecehan seksual di rumah sakit National Hospital Surabaya akhir Januari 2018? Kasus dengan tersangka Zunaidi Abdillah, mantan perawat National Hospital, kini memasuki babak baru. Pasalnya, Zunaidi melakukan perlawanan dengan mengajukan permohonan praperadilan terhadap Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan. Pada saat yang sama, penyidik melakukan pelimpahan tahap dua ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, setelah berkas dinyatakan P-21 (sempurna). Zunaidi pun kini ditahan di Rutan Medaeng. Sedang kasus dugaan pelecehan ini mencuat setelah Widya dan suaminya, advokat Yudi Wibowo Sukinto, melaporkan Zunaidi ke Polrestabes Surabaya.

----------

Zunaidi Abdillah (ZA) rupanya tidak terima dengan penetapan tersangka yang dilakukan penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya. Karena itulah, ia mengajukan gugatan praperadilan melalui kuasa hukumnya, Muhammad Sholeh di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (6/3/2018).

Upaya praperadilan ini, menurut Sholeh, dilakukan karena pihaknya merasa ada kejanggalan dalam proses penetapan tersangka Zunaidi. "Setelah mendengar langsung keterangan dari ZA bahwa ZA tidak pernah melakukan tindakan asusila, sebagaimana yang dituduh sebagaimana yang ada divideo-video yang beredar," terang Sholeh.

Ia menyebutkan kejanggalan dari kasus ini dimana kejadian tuduhan dilakukan pada tanggal 23 Januari 2018 antara pukul 11.30-12.00 Wib. Sementara ZA yang menemui korban terjadi pada tanggal 24 Januari 2018. "Tidak logis, dalam gugatan kami, tindakan asusila, tiba-tiba mengakui tiba-tiba meminta maaf, tiba-tiba khilaf. Tetapi yang benar menurut ZA adalah sebelum kejadian pada tanggal 23, sedangkan permintaan maaf pada tanggal 24, ada selang waktu 24 jam," papar advokat yang juga politisi Partai Gerindra ini.

Ia menambahkan, ZA pada hari tersebut, pagi harinya dipanggil oleh managemen RS National Hospital yang katanya ada klaim tindakan asusila. Oleh sebab itu ia disuruh mengakui supaya nama baik rumah sakit dipertaruhkan. "Daripada masalah ini berlarut-larut, ZA ini disuruh mengakui meski tidak bersalah, lebih baik kamu (ZA) meminta maaf supaya masalah ini selesai, toh menurut suaminya dengan meminta maaf, urusan selesai. Akhirnya ZA menuruti itu, dan membuat surat pernyataan, sekitar jam 12. Ternyata pada saat ditemui ZA kaget dengan ditampar tangisan dan tuduhan, suaminya merekam kejadian tersebut," ungkap Sholeh.

Suami yang dimaksudkan itu tidak lain advokat Yudi Wibowo Sukinto. Sedang Windya mengklaim dirinya sebagai korban pelecehan yang dilakukan oleh Zunaidi. Sholeh mengibaratkan kasus ini layaknya sebuah sinetron yang harus kejar tayang.

Selain itu, Sholeh juga mempertanyakan mengapa penyidik Polrestabes Surabaya tidak pernah menyita rekaman CCTV milik National Hospital soal pertemuan ZA dengan korban dan pihak rumah sakit ketika ada permintaan maaf. "Klien saya juga tidak lari dan bersembunyi, tapi dikatakan kabur. Keberadaan di hotel juga atas permintaan orang rumah sakit, sepertinya ini memang dijebak," ujarnya.

Selain itu, Majelis Kode Etik Keperawatan Indonesia (MKEKI) Jatim juga tidak dimintai keterangan atau diperiksa penyidik. Padahal, MKEKI sudah menggelar sidang soal kasus ZA, yang hasil keputusannya menyatakan kliennya tak melanggar kode etik. Sidang kode etik itu dilakukan tanggal 3 Februari 2018.

"Kasus ini bukan kasus pembunuhan yang penyidik harus bergerak cepat menangkap pelaku kasus ini. Juga bukan perkosaan. Tapi kasus ini hanya tindakan asusila. Memang kesalahan dari ZA, ia mengalami tindakan kekerasan saat penangkapan akhirnya dalam BAP semua dituruti, lalu kami proses supaya gugatan praperadilan melalui PN ini agar hakim tunggal menyatakan penetapan tersangka dibatalkan," papar Sholeh.