Elzastrouw Ngatawi

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Salah satu problem kebangsaan Indonesia saat ini adalah problem inklusi. Problem itu terjadi karena nilai-nilai Pancasila belum dipahami secara menyeluruh. Utamanya dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

“Saya heran, onok wong ibadah tidak entuk (Saya heran, ada orang ibadah tidak boleh, red). Katanya ibadah tidak pada tempatnya. Padahal kita di NU, tiap hari Yasinan di rumah. Tidak selalu di tempat ibadah,” kata Elzastrouw Ngatawi dalam kegiatan Sosialisasi Pancasila Bagi Budayawan Jawa Timur, di hotel Singgasana, Rabu (7/3/2018).

Budayawan kondang itu menuturkan, banyak problem di tingkat masyarakat karena salah dalam memahami Pancasila. Akibatnya, orang begitu mudahnya menyalahkan orang yang memiliki perbedaan pandangan. Saling menyalahkan bahkan berujung pada caci maki.

“Mencaci maki orang lain atas nama Islam, atas nama syariat Islam. Itu jelas tidak boleh. Tapi itu terjadi,” katanya.

Padahal, menurut Ngatawi, Pancasila tidak mengajarkan beragama yang benar, tetapi beragama yang baik. “Beragama yang baik itu artinya, sejauh mana Anda memberikan manfaat pada orang lain. Bukan hanya Muslim. Itu yang diajarkan oleh Pancasila. Dan ini bukan saya loh yang ngomong, ini saya ambil dari yang dijabarkan dalam pidato Bung Karno,” katanya.

Selanjutnya, Ngatawi berharap Pancasila harus dijadikan sebagai ruh spirit menjalani kehidupan. Tapi yang dilihatnya, kehidupan sekarang belum mencerminkan Pancasila. Ironisnya, perilaku beberapa elit maupun tokoh negara juga tidak kurang baik.

Hal itu yang disebutnya sebagai problem keteladanan. Ngatawi justru memberikan apresiasi tinggi terhadap perilaku para seniman tradisional. “Misalnya di ludruk, para seniman ludruk itu ketika pentas kan tidak pernah ditanyai, dia agamanya apa. Seniman ludruk sangat toleran, sangat memahami nilai-nilai Pancasila,” katanya. (bj/04)