Bukit Brukoh

SURABAYAPAGI.com - Bukit Brukoh di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan, awalnya hanya semak belukar. Banyak ular berbisa dan binatang mematikan lainnya menghuni bukit tersebut.

Jalan menuju puncak bukit sudah beraspal, tapi sudah banyak yang tekelupas. Batu seukuran kepalan tangan, tampak di beberapa jalan yang sudah mulai berlubang.

Ketika akhir pekan, bukit Brukoh sering didatangi muda-mudi secara diam-diam. Maklum, di bukit tersebut, terdapat sebuah bangunan pemancar TV yang menjulang tinggi.

Selain itu, udara yang sejuk juga mengundang minat mereka ke bukit Brukoh. Bagi muda-mudi, melihat pemancar hanya sekedar alasan belaka. Padahal tujuannya hanya untuk pacaran.

“Kalau sudah hari Sabtu atau Minggu, banyak muda-mudi yang pacaran di bukit Brukoh. Bahkan beberapa kali ditemukan yang sedang mesum,” ujar Kepala Desa Bajang, Moh Mokri, Senin (19/3/2018).

Banyaknya muda-mudi berkunjung ke bukit Brukoh itulah, Moh Mokri kemudian berinisiatif untuk menyulap tempat tersebut menjadi tempat wisata. Inisiatif itu muncul ketika dirinya belum menjadi kepala desa. Mokri tidak ingin desanya dicap sebagai tempat maksiat.

“Dulu masih angan-angan saya waktu belum jadi Kades. Alhamdulillah sekarang sudah jadi kenyataan jadi tempat wisata,” tutur pria yang kini menempuh studi pasca sarjana ilmu komunikasi ini.

Tahun 2016 lalu, proyek pembangunan tempat wisata mulai dikerjakan. Dana yang digunakan berawal dari kantong pribadinya karena masih belum ada dana desa (DD) untuk dikelola.

Awalnya, semak belukar yang ada dibabat dan dibersihkan. Kemudian dibangun tempat nongkrong seadanya. Promosi menggunakan media sosial, baik foto maupun audio visual terus digencarkan.

Promosi ini kemudian didengar anggota DPRD dan Pemkab Pamekasan. Barulah Pemkab Pamekasan mulai tertarik untuk ikut mengembangkannya.

Perlahan, pembenahan tempat wisata dibangun. Dalam setahun, bukit Brukoh sudah berubah wajah. Bahkan banyak warga Pamekasan penasaran ingin berkunjung.

“Setelah kita rombak total ternyata banyak orang Pamekasan penasaran. Setiap pekan pengunjungnya selalu banyak. Bahkan kalau bersamaan dengan liburan, ribuan pengunjung yang datang,” imbuh Mokri.

Setelah bukit Brukoh disulap, banyak dukungan dari tokoh masyarakat dan ulama. Sebab Mokri dianggap memiliki jasa untuk memberantas tempat maksiat, menjadi tempat wisata. Bahkan lebih bagus dari tempat wisata yang sudah dikelola oleh pemerintah sendiri.

“Bukit Brukoh sudah berubah dari tempat maksiat jadi tempat rekreasi. Ini butuh dukungan semua pihak agar terus berkembang,” ujar Kiai Samsuri, tokoh ulama Kecamatan Pakong.

Bahkan, pada hari Jumat, di bukit Brukoh digelar doa bersama antara tokoh masyarakat dengan warga setempat. Di Jumat pagi, sementara bukit Brukoh ditutup bagi pengunjung. Baru siang harinya dibuka kembali setelah shalat Jumat.

Kini bukit Brukoh selain jadi tempat rekreasi, juga membantu perekonomian warga setempat. Sebab warga bisa berjualan di lokasi wisata.

Salah satu warga, Mahmud, tak henti-hentinya bersyukur. Awalnya ia ingin pergi bekerja ke luar negeri menjadi TKI. Namun diarahkan kepala desa untuk berjualan di bukit Brukoh. Ia tertarik dan mengurungkan niatnya menjadi TKI.

“Alhamdulillah setelah bukit Brukoh jadi tempat wisata, saya punya pekerjaan dan mengurungkan niat untuk ke Malaysia,” ungkat Mahmud, warga Desa Bajang. (kp/01)