Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan digugat Pra peradilan oleh kuasa hukum perawat National Hospital Mohammad Sholeh bersama istri perawat ZA.

SURABAYA PAGI, Surabaya –  Sidang praperadilan yang diajukan Zunaidi Abdillah, mantan perawat Rumah Sakit (RS) National Hospital, terhadap Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan, batal digelar. Pasalnya, pihak Polrestabes selaku termohon tidak datang ke persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (19/3/2018) kemarin. Praperadilan ini diajukan lantaran Zunaidi ditetapkan sebagai tersangka pelecehan seksual terhadap Widyanti, istri advokat Yudi Wibowo, yang saat itu dirawat di National Hospital.

-----------------

 

Ketidakhadiran pihak Polrestabes Surabaya membuat pihak Zunaidi selaku pemohon geregetan. Selanjutnya, sidang perdana praperadilan akan digelar kembali pada 26 Maret mendatang. M Sholeh, kuasa hukum Zunaidi menuding ‘mangkirnya’ Polrestabes Surabaya ini diduga sebagai upaya mengulur-ulur waktu. Dugaan ini beralasan, pasalnya pokok perkara kasus ini tidak lama lagi bakal disidangkan di PN Surabaya.

 

“Kalau pokok perkara (pelecehan seksual dengan tersangka Zunaidi, red) disidangkan, bisa gugur permohonan praperadilan yang kita ajukan, dan itu sesuai KUHAP,” ungkap Sholeh ditemui di PN Surabaya, kemarin.

 

Masih Sholeh, tujuan diajukannya gugatan ini adalah menganulir status tersangka dan juga memulihkan nama baik kliennya (Zunaidi) di hadapan publik.? Dalam gugatan praperadilan diuraikan kronologis kasus ini versi pemohon, bahwa pada tanggal 23 Januari 2018 sekitar jam 11.30-12.00 Wib setelah operasi penyakit pasien Widyanti, pemohon dituduh telah melakukan tindakan asusila terhadap pasien dengan memegang dada pasien Widyanti.

 

Pemohon juga dituding telah meremas-remas dada pasien Widyanti. "Bahwa kejadian tuduhan tindakan asusila yang dilakukan pemohon terjadi pada tanggal 23 Januari 2018 antara jam 11.30-12.00 Wib terhadap korban Widyanti. Sementara pemohon menemui korban yang diantar oleh Bu Dyah dan Bu Amalia terjadi pada 24 Januari 2018 jam 12.00 Wib. Artinya ada durasi waktu 24 jam setelah kejadian. Pertanyaannya, apakah logis, orang mendapatkan tindakan pelecehan payudaranya diremas-remas, puting dibuat mainan dia diam saja, baru setelah 24 jam dipermasalahkan?," papar Sholeh.??

 

Sholeh menambahkan, satu jam pasca operasi pemohon mengajak korban komunikasi. Pemohon bilang “Bu pindah ruangan ya”, pasien menjawab “ya” dan tidur lagi. Artinya, tidak benar jika korban tidak berdaya, saat itu kondisi korban sudah bisa berkomunikasi. "Tentu jika pemohon meremas-remas payudara korban tentu korban bisa protes, ini sebuah kejanggalan," tambahnya.??

 

Penyidikan Kilat

Selain itu, lanjut Sholeh, Polrestabes Surabaya selaku termohon tidak pernah memeriksa Majelis Kode Etik Keperawatan Indonesia Jawa Timur yang menyidangkan dugaan pelanggaran Kode Etik yang di dalam keputusannya menyatakan pemohon tidak melanggar Kode Etik Keperawatan Indonesia, tertanggal 3 Februari 2018.??Menurut Sholeh, kasus a quo bukanlah kasus pembunuhan yang penyidik harus bergerak cepat menangkap pelaku. Kasus ini juga bukan perkosaan atas nama kemanusiaan penyidik harus segera menangkap pelaku.

 

Kasus ini, lanjut Sholeh, hanya tindakan asusila. Dilihat dari pengakuan korban sebenarnya bukan kasus besar dan bukan kasus predator anak-anak. Seharusnya termohon (Polrestabes) hati-hati. Tapi yang dilakukan termohon seperti dikejar tayang. Tanggal 25 Januari 2018 dilaporkan, tanggal itu juga termohon mengeluarkan sprindik, tanggal 26 Januari 2018 pemohon langsung ditetapkan menjadi tersangka. Tanggal itu juga pemohon ditangkap dan ditetapkan menjadi tersangka.??

 

"Pertanyaannya, kapan termohon memeriksa saksi-saksi, kapan termohon melakukan visum et repertum, kapan termohon memeriksa ahli, kapan termohon melakukan gelar perkara. Sepertinya antara tanggal 25-26 Januari 2018 termohon tidak ada kasus lain yang disidik," beber pria yang juga politikus Partai Gerindra ini.??

 

Jawaban Kapolrestabes

Dikonfirmasi terpisah, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan, mengatakan pihaknya masih mempersiapkan materi untuk menghadapi praperadilan yang diajukan tersangka Zunaidi.  “Penyidik masih menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Dokumen-dokumen sedang dilengkapi dan disiapkan,” ujar Kombes Pol Rudi Setiawan, Senin (19/3) kemarin. Ia mengekasn penyidik selalu siap untuk mengikuti proses persidangan praperadilan yang diajukan tersangka Zunaidi.

 

Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar menambahkan, Bagian Hukum Polrestabes Surabaya sudah siap menangani adanya gugatan praperadilan yang diajukan tersangka Zunaidi Abdillah. “Ditangani bagian hukum, kebetulan hari ini (kemarin) berhalangan. Minggu depan akan datang ke persidangan,” tandas Lily.

 

Laporan: Budi Mulyono / Firman Rachmanudin

Editor: Ali Mahfud