Spanduk “Khofifah Gubernur, AHY Presiden” yang tersebar di Surabaya dan Sidoarjo akan merugikan pasangan nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, di kontestasi Pilgub Jatim 2018. Ada indikasi bahwa spanduk dibuat untuk menggerus suara Khofifah-Emil, lantaran memiliki basis pendukung di luar Partai Demokrat. Khususnya, perebutan klaim dukungan dari Jokowi.

----------

Demikian penilaian dari pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Hari Fitrianto dan pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surraochim Abdul Salam.

Menurut Hari Fitrianto, ia menduga spanduk tersebut sengaja dibuat sebagai manuver elit politik. Mereka sengaja memanfaatkan momen pemilihan gubernur (Pilgub) untuk mengambil keuntungan di tingkat pusat. “Logika masyarakat terhadap pilgub (pemilihan gubernur) berbeda dengan logika elite. Nah, saya melihat, spanduk tersebut lebih menjadi manuver elite,” kata dosen Fisip Unair ini, Rabu (21/3/2018).

Hari juga menilai spanduk tersebut sengaja dibuat untuk menggerus suara Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Pasalnya, Khofifah juga memiliki basis pendukung di luar Partai Demokrat. Sementara mereka juga berada di barisan Jokowi. “Spanduk itu berkaitan dengan perebutan klaim dukungan dari Jokowi,” katanya.

Kendati demikian, Hari menilai manuver tersebut tidak akan berpengaruh signifikan terhadap perolehan suara Khofifah di Pilgub Jatim 27 Juni nanti. Pasalnya, Khofifah memiliki basis massa yang cukup kuat dan militan, yakni Muslimat dan NU. “Kalau pun berpengaruh, paling hanya di wilayah perkotaan yang basis massanya memang sangat cair. Kalau sampai ke pelosok saya rasa tidak,” katanya.

Hal sama juga disampaikan Surraochim Abdul Salam. Menurutnya, spanduk tersebut akan berdampak pada swing voters pendukung Jokowi. Apalagi jumlahnya juga relatif cukup besar. “Mereka ini (swing voters pendukung) tidak berafiliasi kepada partai politik manapun. Karenanya, spanduk itu bisa memengaruhi dukungan,” papar dia.

Di lain pihak, spanduk tersebut kata dia juga bagian dari strategi untuk menyolidkan dukungan pemilih Demokrat. Harapannya, pemilih Demokrat yang saat ini masih belum menentukan pilihan (swing voter) menjadi solid. “Dalam spanduk tersebut ada kesan untuk memainkan sentimen pendukung Jokowi dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tetapi untungnya, ini masih dalam situasi kampanye. Sehingga sentimen itu bisa sedikit diabaikan. Sebab semua komponen ingin menambah ceruk suara,” ungkap Surraochim.