Setya Novanto

SURABAYAPAGI.com - Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menelisik pertemuan antara mantan Ketua DPR Setya Novanto bersama pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong serta Direktur Biomorf Lone LLC, (Alm) Johannes Marliem, terkait pembahasan harga satu keping KTP Elektronik.

Dalam sidang pemeriksaan terdakwa, Setnov mengaku pernah menggelar pertemuan dengan Andi Narogong dan Johannes Marliem di kediamannya kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Pertemuan itu, diakuinya, membicarakan soal Automated Finger Print Identification System (AFIS).

"Ya, yang hadir itu Andi, Johannes Marliem, berdua saja," ucap Setnov di ruang sidang Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Hakim pun menanyakan apakah dalam kesempatan itu dihadiri Dirut Quadra Solution Anang Sugiana Sudiardja. Seingat, Setnov, saat itu salah satu tersangka kasus korupsi e-KTP tersebut tidak ada dalam pertemuan di kediamannya.

Lebih dalam Hakim pun menanyakan soal pembahasan pertemuan itu. Hakim mengonfirmasi adanya pernyataan 'bahwa siapa pun yang mendapatkan proyek e-KTP, saya yang akan diuntungkan di sini'.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar itupun menegaskan bahwa 'saya' yang dimaksud adalah Andi Narogong, bukan dirinya. "Soal itu, 'saya' itu adalah Andi," ucap Setnov.

Dalam persidangan sebelumnya, Direktur PT Cisco System Indonesia yang juga mantan Country Manager HP Enterprise Services Charles Sutanto Ekapradja menyebut pernah bertemu tiga kali dengan terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto (Setnov). Salah satu pertemuan itu berlangsung di kediaman Setnov di Kebayoran, Jakarta Selatan.

Dalam pertemuan itu, Charles mengungkapkan salah satu agenda pertemuannya adalah menanyakan harga satu kepingan dari e-KTP. Dia menyebut, Setnov sempat tawar-menawar harga dari satu kepingan e-KTP.

Menurut Charles, ketika itu Setnov sempat membandingkan harga chip e-KTP dengan menggunakan produk dari China. Mengingat, saat itu, kata Charles, Setnov sedang membandingkan harga untuk mencari yang paling murah.

"Saya tidak tahu kenapa dia tanya. Tapi memang kalau dari China lebih murah. Mungkin untuk cek hitungan harga," papar Charles saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta Selatan, Senin 22 Januari 2018. (oz/02)