Sholichin Humas PA Lamongan. (SP/ MUHAJIRIN KASRUN)

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Handphone teryata menjadi salah satu pemicu perceraian di Lamongan.  Buktinya dari perkara perceraian yang masuk di Pengadilan Agama Lamongan, pemicunya adalah handphone, dengan segala kecanggihannya menjadi awal perselingkuhan yang berakhir dengan perceraian.
 
Sholichin Humas PA Lamongan menyebutkan, angka perceraian di Lamongan masih cukup tinggi. Ia lalu menyebutkan pada bulan Januari kemarin, kalau perkara perceraian yang masuk ke PA ada sebanyak 300 perkara, sementara untuk bulan Februari yang baru lalu ada sekitar 200-an perkara.
 
Dikatakan oleh Sholichin, angka perceraian di Lamongan untuk tahun ini tertinggi terjadi pada bulan Januari yang pada saat yang sama dibarengi dengan musim panen. Sholichin mengaku, penelusuran dari PA Lamongan, faktor utama meningkatnya angka perceraian yang dari hasil penelusuran biang keroknya adalah adanya penggunaan  handphone. 
 
"Masa panen itu ada pengaruhnya dengan jumlah perceraian itu walaupun kecil," kata Sholihin yang mengaku kalau masa panen berhubungan dengan biaya para pemohon mendaftarkan proses perceraian.
 
Sholichin mengaku, proses perceraian di Lamongan didominasi oleh pengaruh orang ketiga yang dipicu mudahnya komunikasi melalui handphone. Melalui Handphone, lanjut Sholichin, orang dengan mudah bisa mengakses media sosial semacam Facebook, Twitter, WhatsApp dan BBM serta media sosial lainnya. 
 
"Kita tidak menghitung persis, tapi perceraian yang disebabkan orang ketiga ini ada di urutan kedua setelah faktor ekonomi," tutur Sholichin yang menyebut orang ketiga itu rata-rata biang keroknya adalah adanya handphone dengan medsos-nya.
 
Disinggung siapa saja yang mengajukan proses perceraian tersebut? Sholichin mengaku perceraian karena handpone atau gadget itu hampir merata di semua kalangan masyarakat. "Dari kalangan pejabat juga ada, dari unsur pegawai negeri ada, dan dari masyarakat biasa juga ada, mereka ini rata -rata selingkuh karena duit ada dan kesempatan ada," tandasnya.
 
Sementara, untuk perceraian yang dipicu kekurangan nafkah batin, Sholichin mengungkapkan, kalau hal itu umumnya adalah adanya pasangan yang pergi merantau ke luar negeri untuk menjadi TKI. "Dengan yang cukup lama menjadi TKI, disitulah biasanya menjadi alasan kurangnya pemenuhan nafkah batin," tuturnya.jir