Catatan Politik, Dr. H. Tatang Istiawan

Pak Prabowo,

Jujur, terlepas cara Anda mengintepretasikan novel fiksi  berjudul ‘’ Ghost Fleet’’ menggunakan pola pikir seorang politisi, ada sisi yang menonjol dari Anda. Apa? Anda suka melempar isu-isu actual. Ini tentu tidak bisa dilepaskan dari semangat Anda, yang suka membaca. Atau mendengar laporan dari staf-staf partai Gerindra atau tink thank Anda, yang bertugas membaca dan melakukan riset atau melakukan diskusi-diskusi publik dan ilmiah dengan para akademisi.

Kebiasaan membaca bagi seorang pemimpin, pernah dilakukan oleh Presiden yang memimpin Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, Harry S. Truman (1944). Truman kemudian berkata “Not all readers are leaders, but all leaders are readers.”

Bagi Truman membaca bagi seorang pemimpin itu penting. Mengingat, saat menjadi pemimpin, membaca baginya adalah fondasi yang sangat mendasar. Hal ini terbukti dengan banyaknya para pemimpin dunia atau CEO perusahaan besar selalu menyatakan bahwa kebiasaan yang harus selalu dimiliki oleh seseorang adalah kebiasaan membaca. 

Demikian juga Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Leonard (1953) yang pernah mendapatkan penghargaan nobel di bidang literatur. Kebiasaan membaca sejak dini membuatnya berhasil memberikan kontribusi bagi dunia melalui lebih dari 50 buku yang telah ia tulis.

Winston mengakui dengan membaca,  hidupnya menyenangkan dan banyak hal yang diperolehnya.  Diakuinya, membaca dapat membawa hal yang positif dalam membentuk jiwa pemimpin dalam diri seseorang. Artinya, membaca dapat membuat seseorang menjadi lebih pintar, karena perbendaharaan kata serta serta meningkatkan daya imajinasi. Kebiasaan ini juga dapat meningkatkan seseorang memiliki visi serta inovasi.

Nah, meningkatkan daya imajinasi bukan berarti membuat imajinasi yang menakutkan rakyat atau publik.

Menurut akal sehat saya, imajinasi seorang pemimpin adalah yang bisa membesarkan organisasi apa pun yang dipimpinnya. Maka itu, seorang pemimpin membutuhkan atau sering diminta membuat visi-misi dan program. Termasuk calon kepala daerah yang kini sedang berlaga dalam Pilkada serentak tahun 2018.

Apalagi pemimpin bangsa atau negarawaqn, sudah diberi contoh oleh Soekarno dan Hatta, founder father NKRI. Kedua bapak bangsa ini, mengajak pemimpin penerusnya mesti memiliki kemampuannya untuk melihat sesuatu di masa depan dengan jelas sebelum hal itu menjadi jelas bagi rakyatnya tanpa pandang bulu, suku, ras atau agama.  Gambaran mental yang jelas dalam mengapai masa depan yang lebih bagus, beradab, sejahtera dan berkeadilan sosial inilah yang oleh para pakar manajemen disebut sebagai visi kepemimpinan yang negarawan.

Saya termasuk generasi yang suka sekali mendengar  pidato maupun membaca tulisan Bung Karno, tokoh yang saya kagumi seperti juga Anda, yang pernah mengakui pengagumg BK. Menurut akal sehat saya, dari Bung Karno, saya mendapat pelajaran bahwa seorang negarawan pada hakikatnya selalu menghadirkan kualitas masa depan  sesegera mungkin. Pesan moralnya, negarawan setiap hari, setiap saat dan kapan pun sedang berlaku seperti merancang masa publik dengan lebih baik. Bagi saya, imajinasi seorang pemimpin adalah dari seorang pemimpin yang berbakat untuk membesarkan depan, bukan memberi baying-bayang menakutkan seolah tahun 2030 nanti Indonesia sudah bubar atau menjadi Negara gagal.


Pak Prabowo,

Saya termasuk jurnalis yang menilai sampai saat ini, belum banyak  keteladanan pemimpin dan tokoh bangsa. Misalnya, cukup banyak kepala daerah yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahkan menyengat juga ke salah satu ketua lembaga Negara yaitu Ketua MK, Akil Mochtar. Disamping beberapa Ketua umum Parpol seperti Setyo Novianto, Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningum, Ketua Umum Partai Demokrat dan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq.

Dengan penangkapan Ketua Parpol seperti itu, menggambarkan diantara pemimpin atau tokoh bangsa juga sibuk berpikir mencari uang. Akhirnya  melakukan tindak pidana korupsi.

Kira-kira dengan fakta seperti ini, Anda masih yakin diantara elite politik yang memimpin parpol mau mengubah pola pikir. Apa yang diubah? Tidak lagi berpikir sebagai politikus  yang mencari kekayaan semata.

Tapi menjadi pemimpin bangsa yang fokus membenahi, serta membangun bangsa dan Negara. Pertanyaannya apakah Anda dan kader partai Gerindra lainnya sampai di daerah, berkomitmen membangun negeri ini agar tidak buyar?

Katakan, pidato Anda yang mencukil sebagian novel fiksi ‘’Ghost Fleet’’, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan buyar tahun 2030, bertujuan sekedar peringatan, mestikah disampaikan secara terbuka di publik yang heterogen? Apalagi novel yang ditulis  Singer dan Cole, tahun 2015 Anda munculkan akhir tahun 2017, dan bahas tahun 2018 mendekati pilpres 2109.

Pengurus dan kader Anda menyebut motif Anda membuat pidato dari novel fiksi itu untuk mengingatkan semua anak bangsa menjaga persatuan, agar tidak membuat konflik horizontal.? Pertanyaan, dengan Anda ikut menemui tokoh-tokoh ormas yang mengkritik Jokowi dengan sudutpandang lain, apakah ini bukan menunjukan Anda memberi ruang konflik horizontal. Paling tidak yang mencuat saat pilkada serentak di Jakarta 2017?

Catatam bank data Surabaya Pagi menunjukkan bahwa selama ini  kerusahan atau konflik horizontal di NKRI yang berkaitan dengan SARA, cukup banyak. Diantaranya kerusuhan di Sampit (1996, 1997, 2001) yaitu konflik antara suku Dayak dan Madura. Kemudian kerusuhan Sambas (1999) konflik antara suku Melayu dan Dayak dengan Madura. Berikutnya kerusuhan di Ambon (1999) konflik antara masyarakat beragama Kristen dan Islam. Disusul kerusuhan di Sampang (2012) yaitu penyerangan terhadap warga Syiah. Semua kerusuhan yang dipicu oleh faktor SARA tersebut mengakibatkan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit.

Padahal, founding father NKRI  membangun Negara ini  dengan menjunjung tinggi perbedaan. Mengapa makin lama usia kemerdekaan Indonesia, masih rentan dengan ancaman terjadinya kerusuhan yang disebabkan oleh konflik SARA.?

Apakah Anda menyadari konflik horizontal atau kerusuhan SARA ini juga melibatkan elite politik yang tidak puas dengan pemerintahan yang sedang berkuasa?

 

Pak Prabowo,

Selain soal kesenjangan ekonomi, saya menyimak ada juga pemahaman soal nasionalisme, Indonesia atau internasional?. Pertanyaannya benarkah saat ini aspek nasionalisme melemah yang  menyebabkan sensitive. Terutama melalui media sosial? Bahkan ada indikasi perbedaan berpikir dan keyakinan, acapkali dianggap sebagai hal yang kurang bisa diterima. Terutama di Media sosial.

 Dalam pembelajaran saya elama ini ada fenomena seseorang yang menyudutkan kelompok agama tertentu kemudian saling bertengkar satu sama lain. Ini yang menurut saya memprihatinkan, karena fenomena beragama telah berupa menjadi hal yang dipertontonkan.
Pendeknya, informasi yang terus berkembang telah membalut iklim baru menjadi masyarakat yang gampang mudah tersulut emosi dan egois. Kini dalam Negara yang berbhineka, bicara soal agama mulai rentan dibicarakan, karna hal ini mencangkup keyakinan.

Mengapa Anda sebagai elite politik di negeri ini tidak ikut hadir mewakili ‘’Negara’’ agar masyarakat yang berdebat soal agama, bersatu tidak mendekatkan keyakinannya, tetapi mencintai negara dan pemerintah dalam satu kesatuan tanah air yang sama, terkait tulisan novel fiksi ini.

Menurut saya, komitmen membangun persatuan dan kesatuan tanah air jauh lebih penting ketimbang menafsirkan makna novel fiksi yang bertuliskan ‘’Indonesia bubar tahun 2030.’’ Pertanyaan saya ini menggunakan sudut pandang lagi ‘’Tanah Airku’’ yang syairnya, ‘’Tanah airku tidak kulupakan; Kan terkenang selama hidupku; Biarpun saya pergi jauh;Tidak kan hilang dari kalbu; Tanah ku yang kucintai; Engkau kuhargai; Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang; Tetapi kampung dan rumahku; Di sanalah kurasa senang; Tanahku tak kulupakan; Engkau kubanggakan.’’

Makanya, saya sebagai anak bangsa (nasionalisme Indonesia) bertanya-tanya, Anda yang selalu berpakaian meniru pakaian Bung Karno dan menyatakan pengagumg Soekarno, tidak malah menyejukkan persatuan dan kesatuan bangsa dengan memunculkan isu bahwa negara Indonesia pada tahun 2030, bubar?. Dimana optimism dan positif tingking Anda terhadap persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia.

Apakah Anda yakin dengan memviralkan Indonesia bubar tahun 2030, sebagian rakyat Indonesia tidak gusar dan gelisah akan nasibnya, anak dan cucunya yang pada tahun 2030 berusia produktif?

Mantan Presiden B.J Habibie pernah berkata, “Hanya anak muda sendirilah yang bisa diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan dari bangsa lain”

Pernyataan Habibie ini menyiratkan anak muda adalah tumpuan utama bangsa untuk melakukan perubahan.

Nah, meski Anda saat ini sudah tidak muda lagi, perlu menghargao karakter yang dituntut unutk pemuda Indonesia yaitu cara berpikir positif (positive thinking) membangun negeri, bahwa Indonesia tidak akan bubar kapan pun, apalagi tahun 2030. Warga Negara Indonesia yang berpikir positif, menurut akal sehat sata, perlu memiliki pemahaman bahwa meski ada banyak masalah yang terjadi di negeri ini, harus bisa diselesaikan melalui persatuan dan kesatuan berpikir bhineka tunggal ika, bukan sektarial.

Saya yang mengikuti pelatihan positive thinking beberapa kali, berpendapat bahwa dengan mindset positif terhadap upaya pemimpin pemerintahan Indonesia sekaligus Negara membangun negeri ini adalah untuk memajukan Indonesia.

Konsepsi warga Negara yang katakana seperti Anda memposisikan oposan, ada tugas ‘’mengkontrol’’ pemerintahan Jokowi? bagaimana, apakah mesti mendengung-dengungkan Negara Indonesia akan bubar tahun 2030. Apakah Anda tidak bisa membedakan makna antara Negara dan pemerintahan?

Dalam pendidikan hukum yang saya pelajari di kampus dulu, saya mendapat pelajaran bahwa Negara dan pemerintahan merupakan dua istilah yang hampir sama, akan tetapi jauh berbeda. Negara merupakan persatuan yang kekal, dimana pemerintahan bersifat sementara. Artinya, persatuan komunitas dalam Negara tidak bisa di taklukkan oleh siapa pun, walaupun Negara tersebut telah terjajah.

Sedangkan pemerintahan bisa berubah sewaktu- waktu dalam persatuannya, layak seperti lahirnya partai- partai baru. Disini maka berubahlah pemerintahan tersebut. Kelak bila dalam pilpres 2019 nanti, Anda dan partai Gerindra menang, otomatis pemerintahan Jokowi berubah beralih ke Anda.

Tetapi, negara tidak bisa berubah, karena Negara adalah kedaulatan. Dan kedaulatan adalah sifat dasar yang diperlukan untuk mendirikan Negara. Maklum, dalam hukum tata Negara dinyatakan bahwa kedaulatan bukanlah atribut pemerintahan, jelasnya kedaulatan bukan miliknya pemerintahan. Maknanya, meski sesungguhnya pemerintahan memiliki kekuasaan atas Negara, tetapi perlu diingat kekuasaan tersebut diberikan oleh Negara dan terbatas pula masanya.

Nah, ada apa sebenarnya, sebagai politisi dan bukan akademisi, Anda sampai serius mempidatokan dan menseminarkan tulisan dalam novel fiksi berjudul ‘’Ghost Fleet’’? Terutama pada tahun politik?  Apakah ingin mencari perhatian publik dan penguasa sekarang?  

Akal sehat saya menggunakan cara positive thinking, mengajak Anda, Prabowo Subianto,  berpikir positif bahwa Indonesia sampai kapan pun tidak bisa bubar. Tentu selama para pemimpin negeri ini untuk tidak terus-menerus eker-ekeran untuk memperkokohkan dirinya hanya menjadi politisi semata. Politisi yang mencari uang untuk partai, kelompoknya dan dirinya .

Contoh nasib sial yang dialami oleh elite politisi bahkan yang telah menjadi ketua umum parpol sudah didahului oleh tiga pimpinan parpol yaitu PKS (Luthfi Hasan Ishaaq ), Demokrat (Anas Urbaningrum) dan Partai Golkar (Setyo Novianto).

Ingat ketiga politisi ini sampai Kamis hari ini (29/03/2018) sama-sama masih menghuni rumah tahanan korupsi KPK. Alhamdulillah Anda, masih memimpin Gerindra dengan tegar tanpa mengalami jeratan urusan korupsi. Selamat, semoga di tahun kapan pun Anda tidak terjerat kasus korupsi oleh elite politik seperti Luthfi, Anas dan Novianto. (tatangistiawan@gmail.com)