Emil Dardak saat memberi pertanyaan kepada Gus Ipul dalam Debat Publik, Selasa (10/4/2018). (Foto: SP/Julian)

SURABAYA PAGI, Surabaya - Debat Publik pertama Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Jatim 2018, Selasa (10/4/2018) malam tadi sudah dilangsungkan di Dyandra Convention Center Surabaya dan disiarkan sejumlah TV Swasta. Hasil yang dicatat tim wartawan Surabaya Pagi, baik yang mendengar di lokasi debat publik maupun nonton bareng di layar TV bersama beberapa akademisi, penilaiannya hampir sama, paslon nomor 2, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Puti Guntur Soekarno (Puti), tampak gelagapan. Makin kentara gelagapannya saat Gus Ipul yang menjadi Ketua Penanggulangan Kemiskinan dicerca pertanyaan oleh paslon Khofifah. Sampai akhir debat, lagi-lagi paslon yang diusung PKB - PDIP, penguasaan materi lebih dikuasai oleh paslon nomor 1. Khofifah, makin dominan menguasai debat bak seorang guru. Apalagi saat menyentuh urusan teknologi informasi dan start up yang dipertanyakan cawagub Emil Elestianto Dardak, baik Gus Ipul maupun Puti, makin jomplang wawasannya. Sayang, paslon nomor 2, lebih sering bicara tanpa data. Bahkan pada saat debat langsung antara paslon cawagub Emil dan cawagub Puti, dua generasi milenial ini malah saling ngotot.

Dari pantauan tim wartawan Surabaya Pagi, dalam debat publik Selasa (10/4/2018) kemarin, Gus Ipul dan Puti Guntur terlihat kelabakan dengan pertanyaan dari paslon Khofifah-Emil. Salah satunya saat cawagub Emil Dardak yang melontarkan pertanyaan terkait program paslon Gus Ipul-Puti menghadapi era digital, yang ditonjolkan dengan program “Mas Metal”. Pertanyaan Emil yang dianggap Gus Ipul-Puti “cukup sulit” ini tidak bisa memberikan jawaban. Bahkan Gus Ipul keliru menjawab dan keluar dari jalur.

Kejadian itu terlihat nyata saat Emil Dardak menyankan soal apa program Gus Ipul-Puti menghadapi soal era digital khususnya bisnis digital start up yang selama ini kerap menggunakan cara cash burn out rates. Apalagi Gus Ipul-Puti punya program menumbuhkan 1000 pengusaha start up. Emil bertanya, bagaimana perkembangan cash burn out rates yang dihadapi para unicorn bisnis digital start up seperti Go-Jek, Grab, agar mereka bisa stabil?

Mendengar pertanyaan Emil, Gus Ipul terlihat gelagapan. Wagub Jatim selama 2 periode ini malah menjawab soal dukungannya dalam pertumbuhan bisnis start up di era kemajuan teknologi ini. “Kami mendorong warga Jawa Timur melek digital, kita mendorong anak-anak muda ini bisa memulai bisnis baru yang nanti kita fasilitasi supaya mereka mampu menciptakanlapangan kerja. Makanya kami tekankan pada program kami, “Mas Metal”,” jawab Gus Ipul, sambil mengusap keringatnya.

Kontan saja, Emil Dardak tidak puas, bercampur heran dengan jawaban Gus Ipul yang dianggapnya tidak nyambung itu. Bupati Trenggalek non aktif itu lantas menjelaskan ulang pertanyaannya terkait cash burn out rates. Yakni, sebuah strategi para pelaku bisnis start up digital besar seperti Gojek dan sejenisnya dengan cara membakar uang yang cukup untuk penguatan modal awal membangun start up. “Dengan segala hormat, maksud kami, cash burn out rates itu, pebisnis start up yang besar (gojek dll) itu sebenarnya masih bakar uang sampai hari ini. Jadi mereka bisa survive itu karena dimodali oleh investor besar, bukan karena usahanya sudah stabil. Nah ini yang saya takutkan, ketika (Gus Ipul) ada program 1000 start-up ternyata masih tergantung pada bakar uang tadi,” jelas Emil Dardak dengan gamblang.

Tak hanya Gus Ipul, penjelasan Emil lainnya juga bikin Puti Guntur tidak bisa menjawab alias gelagapan dan tidak berdasarkan data. Yakni ketika ditanya soal berapa angka gizi buruk di Jawa Timur, tatkala Puti Guntur mengkritisi soal balita penderita stunting (gizi buruk) di Trenggalek. “Mengapa di Trenggalek masih menjadi kabupaten dengan stunting (bertubuh pendek), di desa-desa juga,” kritik Puti.

Pernyataan Puti itu lantas dijawab dengan pertanyaan oleh Emil. “Mbak Puti tahu nggak? Angka gizi buruk di jawa Timur berapa persen?,” tanya Emil. Pertanyaan itu sampai diulang hingga dua kali oleh Emil. Namun Puti Guntur terdiam beberapa detik, tak punya jawaban. “Apa? Nggak jelas,” lontar Puti. Jawaban Puti yang terlihat sedang tidak menguasai data itu membuat para penonton di Dyandra senyum kecewa.


Gus Ipul dan Khofifah bersalaman usai acara debat pilgub.


Khofifah vs Gus Ipul

Tak hanya Emil, Khofifah juga sempat membuat Gus Ipul gelagapan beberapa kali, dan membawa nama Gubernur. Ini muncul saat Khofifah dan Gus Ipul debat soal kemiskinan. Awalnya, Gus Ipul bertanya ke Khofifah, apa yang menjadi unggulan di Jawa Timur selama ini.

“ Jawa Timur pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata, ekspornya tertinggi di semua provinsi, Migas kedua setelah Riau. Namun dari pertumbuhan yang tinggi, kita melihat ada PR (pekerjaan rumah, red). Jantung republik ini ada di Jawa Timur, tidak boleh ketimpangan tidak cepat diatasi. Kemiskinan di Jatim menggelembung di pedesaan 15,58 persen, di perkotaan 7,7 persen. Jadi apa yang sudah dilakukan Gus Ipul selama 9 tahun ini?" kata Khofifah membalas pertanyaan Gus Ipul tadi.

Gus Ipul lantas menjawab. Dia menuturkan, selama pemerintahan Soekarwo-Saifullah Yusuf, angka kemiskinan bisa ditekan. Namun belakangan terjadi pelambatan. "Dari 16 sekian persen sekarang 11,2 persen. Memang ini masih tinggi dari rata-rata nasional. Kenapa melambat? Ada beberapa hal, kemiskinan sudah masuk kerak, kedua pertumbuhan tidak merata. Sekarang di Surabaya, di sini, tanda kutip serba ada, coba nyeberang di Pulau Madura," jawab Gus Ipul.

Namun Khofifah ingin penjelasan lebih detail, terkait ketimpangan yang ada. "Saya ingin dijelaskan ini bukan soal kemiskinan, ini ketimpangan di perkotaan sampai dua kali, apa yang dilakukan menanggulangi kemiskinan yang di pedesaan 15,58 persen? Apalagi Gus Ipul adalah Ketua tim penanggulangan kemiskinan" tanya Khofifah lagi.

"Ini tentu bersama Pak Gubernur, karena saya masih wakil gubernur. Jadi saya belum kerja sepenuhnya," elak Gus Ipul yang disambut gelak tawa.

Mendengar jawaban Gus Ipul, Khofifah lagi-lagi mencecar Gus Ipul, bahwa di Indonesia, pusat hingga daerah, tim penaggulangan kemiskinan di berbagai daerah itu Wakil Gubernur,” cecar Khofifah. Namun lagi-lagi Gus Ipul gelagapan, justru Gus Ipul malah menyebut Wakil Presiden. "Di Jakarta Wakil Presiden," jawab Gus Ipul lagi. "Saya bilang di daerah," tegas Khofifah. "Di Jakarta memang Wakil Presiden, di daerah Wakil Gubernur," elak Gus Ipul.

Kemudian, Gus Ipul kemudian menjelaskan secara normative, bahwa agenda utama kita mengatasi kemiskinan dan ketimpangan. “Tentu agenda utama kita bagaimana mengatasi kemiskinan dan ketimpangan itu agenda kami. Kalau saya ditanya tim penanganan ketimpangan Jawa Timur tidak mandiri ini tergantung juga dengan gubernur. Wakil Gubernur tidak bisa menentukan sendiri, anggaran tetap ditentukan Gubernur. Dan saya mendampingi Pak Gubernur ketika menanggulangi masalah kemiskinan. Saya di samping Pak Gubernur," jelas Gus Ipul.



Demografi dan Sinyal 4G

Bonus demografi di Jatim bisa jadi masalah. Apalagi jika dikaitkan dengan pekerjaan dan anak-anak muda. Bagaimana solusi cagub-cawagub?

Emil Dardak diberi kesempatan awal menjawab pertanyaan itu. Bupati Trenggalek nonaktif ini mengatakan banyak anak muda, terutama berusia 16-18 tahun, yang tak bersekolah. Masalah ini jadi konsen pasangan nomor urut satu.

"Kita memasuki era digital. Kerja nggak harus nenteng map. Tapi kini banyak profesi baru yang bisa dilakukan seperti desainer, marketer, dan lain-lain. Untuk itulah, kami siapkan job center. Khususnya untuk start up. Pemerintah harus support," kata Emil

Giliran Gus Ipul menjawab pertanyaan yang sama. "Kata kuncinya adalah pendidikan. SMK perlu diberdayakan, dimaksimalkan. Saat ini 2.000 SMK," kata Gus Ipul sambil mempersilakan Puti ikut menjawab.

"Yang paling penting adalah ketrampilan. Apalagi bagi generasi mileneal. Kami punya program Superstar (Sentra UMKM, Pemberdayaan UMKM dan Startup). Juga program Masmetal, masyarakat melek digital. Kami memastikan internet terpasang untuk anak muda," urai Puti.

Saat diberi giliran memberi tanggapan, Khoffah tersenyum. "Mbak Puti, saya turun ke berbagai daerah. Mereka (anak uda) sudah 4G. Di Jatim, melek digital sudah selesai. Waktunya masuk pada milenial job center. Dan Gus Ipul, tidak semua SMA harus grade A. Lebih penting SMK punya ruang agar lulusan diserap. Misalnya untuk bidang perhotelan, pariwisata," papar Khofifah.

Gus Ipul tak merespons tanggapan Khofifah. Dia menekankan pada pentingnya infrastruktur agar sampai desa. Masyarakat perlu diajak terutama untuk menciptakan iklim usaha. "Saya datang ke desa wisata seperti di Banyuwangi, Pujon (Malang), yang bisa menciptakan lapangan kerja. Dan mereka adalah anak-anak muda," kata Gus Ipul mengakhiri sesi menjawab dan memberi tanggapan ini.



Berlangsung Dinamis

Secara umum, debat perdana yang digelar KPU Jatim berlangsung dinamis, Kedua Paslon Cagub-Cawagub Jatim tersebut saling beradu program untuk lima tahun ke depan. Paslon nomor urut satu Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak mengusung visi misi dengan sebutan ’Nawa Satya Bakti’, sedangkan lawannya paslon nomor urut dua Saifullah Yusuf-Puti Guntur Sukarno mengusung ’Dik Dilan, Satria Madura, Desa Cemara, Tebar Jala’.

Acara ini digelar mulai pukul 19.00 WIB dengan dibuka oleh Ketua KPU Jatim Eko Sasmito. Turut hadir juga Ketua KPU RI Arif Budiman, dan juga panelis dari akademisi dari beberapa Kampus di Jatim.

Dalam debat ini kedua belah paslon diberikan pertanyaan terkait tema Kesejahteraan Rakyat yang ditentukan KPU. Namun pertanyaan ini diberikan dari panelis profesional yang tidak diketahui sebelumnya. Para panelis menulis pertanyaan yang kemudian dimasukkan dalam baseball yang kemudian secara bergilir paslon mengambil pertanyaan untuk dijawab secara bergiliran.


Laporan: Ainul Yaqin, RIko Abdiono, Raditya Khadaffi