Petugas PDAM melakukan pengecekan meteran air pelanggan.

BUMD milik Pemkot Surabaya akhir-akhir ini menjadi sorotan, setelah korupsi di Perusahaan Daerah Pasar Surabaya (PDPS) dan PD Rumah Pemotongan Hewan (RPH) disidik Kejaksaan. Ternyata, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada juga memiliki problem serius, setelah kebobolan Rp 300 miliar akibat bocornya meter pencatat rekening air yang terpasang di persil pelanggan. Di sisi lain, warga Surabaya sempat dihebohkan modus kejahatan yang menyaru sebagai perugas PDAM.

---------------

Laporan : Alqomar

-------------

Dalam waktu dekat direksi PDAM Surya Sembada akan dipanggil Komisi B DPRD Surabaya, terkait bocornya air di kawasan industri PT SIER dan Margomulyo hingga merugikan Rp 300 miliar. Seperti diketahui, hasil sidak pengecekan meteran di kawasan SIER awal April lalu terungkap jika ada kebocoran pendapatan hingga sekitar 53 persen dari pemasukan yang diterima saat ini sekitar Rp 16 miliar. Harusnya jika pengecekan dan laporan itu akurat maka pemasukan bisa mencapai Rp 36 miliar. Total kerugian terkait meteran rusak di kawasan Surabaya bahkan mencapai Rp 300 miliar per tahun.

Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Erwin Tjahyuadi meminta direksi PDAM tidak mendiskriminasi terhadap pelanggan. Apabila pelanggan air rumah tangga terlambat dua bulan, maka langsung diputus hingga air tidak mengalir. Ia meminta perusahaan besar yang melakukan pelanggaran juga disanksi yang sama.”Perusahaan besar atau industri yang jelas melakukan pelanggaran harusnya diberi sanksi,” terang Erwin Tjahyuadi, kemarin.

Wakil Ketua Komisi B Anugrah Ariyadi menambahkan, PDAM juga harus meningkatkan pelayanan ke masyarakat. Di tengah sikap tegas yang dilakukan kepada pelanggan nantinya timbal baliknya terhadap pelayanan yang memuaskan. Selain tidak gampang mati, kualitas air harus semakin bersih. "Profit penting tapi ya harus ditambah pelayanan," tandas politisi PDIP ini.

Dikonfirmasi terpisah, Dirut PDAM Surya Sembada, Mujiaman Sukirno berjanji akan melakukan langkah tegas akibat kebocaran yang merugikan itu. Ia menerangkan dari 33 persen kebocoran ini dari meter pelanggan primer, seperti pelanggan industri, dan hotel. “ kebocoran ini sudah berlangsung kurang lebih sepuluh tahunan. Maka dari itu kami ingin mengembalikan kerugian itu,” ungkap Mujian, kemarin.

Menurut Mujiaman ini, kerugian 300 milyar itu jika dihitungan dengan harga rata-rata. Namun jika dihitung dari harga atas itu kerugian PDAM Surya Sembada ini bisa mencapai Rp 1 triliun. Hampir semua kawasan mengalami problem yang sama hingga menimbulkan tingginya tingkat kebocoran air PDAM.

“Untuk saat ini kami masih melakukan pembahasan di internal dulu, dan melakukan perbaikan,” ungkapnya.

Mujiaman menerangkan, pihaknya sudah menduga kuat dalam kebocaran ini pasti ada dugaan pelanggaran yang dilkukan oleh oknum PDAM sendiri. Khususnya pencatat meter. Dari pelanggan sendiri juga bisa. “Bagaimana bisa kerusakan meteran itu terjadi selama sepuluh tahun tidak ada perbaikan? Terus bagaimana pembayaranya? Pasti ada tawar menawar atara oknum dengan pelanggan,” duga dia.

Dari hasil pengecekan lapangan di Rungkut, beberapa hari lalu, ditemukan sebanyak 70 pelanggan utama PDAM mengalami meter air rusak dan belum pernah diganti sama sekali. “Kami akan sisir lagi, pelanggan primer seperti industri, hotel dan perumahan mewah,” tegas Mujiaman.

Untuk mengatasi masalah kebocoran itu, pihaknya berencana akan memasang Auto Meter Reading (AMR ) agar bisa memantau informasi pemakain air pelanggan secara cepat dan tepas. “Dan sekarang saya bisa langsung memantau pencatatan meteran ini, jika ada penyimpangan atau pelanggaran saya langsung tau,” pungkasnya. n