Gloria Puspa Cendana

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Ada-ada saja polah Lurah-lurah di era Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Jika Lurah Tanah Kali Kedinding diproses hukum karena kasus pungutan liar (pungli) Program Nasional Agraria (Prona) dan Lurah Bubutan ditangkap lantaran pungli pedagang kaki lima (PKL), kini giliran Lurah Medokan Ayu Kecamatan Rungkut, yang berulah. Lurah perempuan bernama Gloria Puspa Cendana itu dicopot Walikota, diduga karena konflik rumah tangga. Wanita yang pernah menjadi ajudan Risma ini disebut-sebut memiliki pria idaman lain (PIL) alias selingkuh. Padahal, ia masih memiliki suami sah, Wahyu Agus Setiono. PIL Gloria kabarnya dinas di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota Surabaya. Benarkah?

------------


Meski tak lagi menjabat Lurah Medokan Ayu, Gloria Puspa Cendana masih beruntung. Sebab, Walikota masih memberi jabatan Gloria sebagai Kepala Seksi (Kasi) Olahraga Rekreasi Dinas Kepemudaan dan Olah Raga (Dispora) Kota Surabaya.


Mutasi Gloria Puspa Cendana dari jabatan Lurah Medokan Ayu cukup mengejutkan. Sebab jabatan lurah yang diemban perempuan lulusan STPDN itu, tak sampai satu tahun. Dalam catatan, Gloria Puspa dilantik sebagai Lurah Medokan Ayu pada Jumat, 4 Agustus 2017. Sebelumnya, Gloria menjabat Kepala UPTD Kenjeran.


Informasi yang diperoleh Surabaya Pagi, Gloria sempat melaporkan suaminya, Wahyu Agus Setiono, ke Polsekk Rungkut dengan tuduhan Kekerasaan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Laporan itu tertuang dengan nomor LP/B/18/1/2018/JTM/RESTABES SBY/SEK RKT tanggal 20 Januari 2018. Namun belakangan diketahui, laporan ke Polsek Rungkut itu telah dicabut. Justu Wahyu melaporkan dugaan perselingkuhan istrinya ke Inspektorat Pemkot Surabaya.


Abdul Malik, kuasa hukum Wahyu kepada Surabaya Pagi, Kamis (26/4/2018), mengungkapkan proses pemeriksaan Gloria oleh Inspektorat sebenarnya belum selesai. Di saat masih proses, Walikota Surabaya Tri Rismaharini malah memutasi Gloria.


Meski begitu ia mengapresiasi Risma yang langsung mengambil langkah mencopot Gloria Puspa Cendana dari jabatan Lurah Medokan Ayu, Rabu (25/4) lalu. “Saya salut Bu Risma tegas. Tapi kita sayangkan dia masih punya jabatan di Pemkot sebagai Kasi di Dispora,” ungkap Malik yang juga Ketua DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jatim.


Menurut Malik, kasus ini berawal tiga bulan lalu ketika Gloria yang ketika masih menjadi Lurah Medokan Ayu, diduga melakukan perselingkuhan dengan oknum Satpol PP. Dari itu, Wahyu Agus Setiono mencoba menyadarkan istrinya. Namun secara sepihak, Gloria malah melaporkan sang suami ke Polsek Rungkut dengan tuduhan KDRT.


“Namun aduan ke Polsek Rungkut sudah dicabut. Polsek sudah mengeluarkan surat Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dan akan ditindaklanjuti dengan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan),” jelasnya


Kemudian, lanjut Malik, pada pada 21 April 2018 Wahyu dipanggil Inspektorat Kota Surabaya untuk dimintai keterangannya terkait dugaan perselingkuhan Gloria. Sedang Gloria sendiri juga masih dalam proses pemeriksaan oleh Inpektorat. “Kami sebenarnya sudah mengusulkan kepada Pemkot untuk menonaktifkan Gloria dari jabatan strukturalnya, namun yang terjadi justeru pemindahan dia,” ungkapnya.


Ia meyakini pemindahan Gloria dari Lurah ke Dispora karena kedekatan Gloria dengan Walikota Tri Rismaharini, karena Gloria pernah menjadi ajudannya. “Kan karena dia (Gloria) itu bekas ajudannya (Bu Risma),” tutur Malik.


Masalah Pribadi

Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Pemkot Surabaya, Mia Santi Dewi, mengatakan pemutasian Gloria itu merupakan hal lumrah dan wajar bagi setiap ASN (Aparatur Sipil Negara). “ Ya mutasi siapa saja kan nggak apa-apa mas. Mutasi dilakukan setelah dilakukan evaluasi terhadap semua personil. Yang jelas Bu Walikota bisa melakukan kapan saja kepada siapa saja mutasi tersebut," ujar Mia Santi Dewi dikonfirmasi terpisah.


Dipindahnya Gloria Puspa Cendana memang cukup menyita perhatian di kalangan pegawai Pemkot Surabaya. Apalagi setelah dari lurah dipindah ke jabatan yang bukan promosi, hal ini mengingat perempuan itu pernah menjabat ajudan walikota Surabaya selama setahun.


Soal mutasi Gloria ini, Kabag Humas Pemkot Surabaya M Fikser yang juga sesama alumnus STPDN, mengatakan mutasi itu agar tak mengganggu kinerja Pemkot Surabaya. “Gloria ini kan sudah diperiksa oleh Ispektorat karena masalah pribadi. Tapi sejauh ini dia tak terbukti bersalah . Hanya demi pelayanan publik saja agar tidak terganggu,” terang Fikser.


Pemeriksaan Belum Selesei

Sementara itu, Kepala Inspektorat Kota Surabaya Sigit Sugiharsono enggan berkomentar tentang kasus Gloria. Menurut dia, pihaknya belum membuat rekomendasi atas pelaporan kasusnya. Ia juga mengatakan rotasi jabatan yang dialami Gloria tak ada kaitannya dengan kasus yang dilaporkan suaminya. "Kasihan lah. Ini belum selesai pemeriksaannya," ujar Sigit. n