Ibu-ibu ini menunjukan hasil inovasi membuat kecap dari bahan duri dan kepala ikan, bukan dari kedelai. FOTO: SP/ MUHAJIRIN KASRUN

SURABAYA PAGI, Lamongan - Lagi inovasi dan ide kreatif di telurkan oleh ibu-ibu asal Lamongan. Terbaru ini Ibu-ibu warga Dusun Kauman, Desa Tawangrejo, Kecamatan Turi membuat kecap dari bahan duri dan kepala ikan Mujair dan Bandeng, bukan dari kedelai, hasilnyapun tidak kalah dengan kecap biasanya, dan yang ini lebih gurih.

Ide membuat kecap berbahan duri dan. Kepala ikan ini, seperti disampaikan oleh Siti Mufarokah ini, berawal karena melimpahnya hasil produksi ikan tawar di desanya. Akhirnya mereka berpikir keras agar ikan tak melulu disajikan begitu saja, namun ikan juga bisa diolah menjadi bahan olahan lain yang bernilai jual tinggi. "Daerah kami dikenal luas sebagai daerah dengan produksi ikan air tawar yang cukup besar, "katanya.

Dari itulah lanjutnya, ia mencoba mengolah kecap yang tidak berbahan dasar kedelai, tapi dari ikan. Kini, berkat inovasi ini lahirlah kecap berbahan dasar duri dan kepala ikan Lele, Mujair dan Bandeng. "Awalnya dari pelatihan di desa sini, akhirnya kami bisa membuat kecap dari duri dan kepala ikan," kata Siti yang juga menerangkan alasan mengapa mereka memilih ikan karena rasanya lebih nikmat dan lebih gurih daripada kecap yang lainnya.

Ditanya pembuatannya,, Siti mengaku kalau proses pembuatan kecap dari duri dan kepala ikan ini terbilang sangat muda. Awalnya, terang Siti, duri dan kepala ikan dibersihkan terlebih dahulu untuk kemudian dimasak. Setelah dimasak, Siti menjelaskan kalau duri dan kepala ikan tersebut kemudian fermentasi selama 3 hari dan dijemur dalam sinar matahari. "Usai difermentasi dan dijemur selama 3 hari, duri dan kepala ikan ini kemudian dibumbui rempah-rempah," jelas Siti.

Proses ini belum selesai. Pasalnya, kata Siti setelah ini duri dan kepala ikan yanf telah dibumbui ini kemudian dimasak lagi dan dijemur kembali selama 3 hari. "Setelah itu, sambil menunggu proses fermentasi, bahan-bahan pokok utama pembuatan kecap, seperti gula putih dan lainnya dimasak untuk kemudian juga difermentasi," ujar Siti.

Setelah usai proses fermentasi, lanjut Siti, kemudian dilakukan proses penyaringan terhadap duri dan kepala ikan untuk kemudian dicampurkan dengan bumbu yang sudah disiapkan sebelumnya untuk mendapatkan air dari duri dan kepala ikan tadi sehingga hanya air saja.

"Setelah itu, ketika air dari perasan duri dan kepala ikan ini sudah masak, kemudian disaring kembali lalu didiamkan hingga dingin," papar Siti yang menjelaskan sampai proses ini kecap dari duri dan kepala ikan ini sudah siap untuk dikemas.

Siti Mufarokah menyatakan, hambatan mereka selama ini hanya peralatan saja yang mereka rasa kurang lengkap. Kecap dari duri dan kepala ikan inipun sudah mereka jual meski belum secara luas dengan harga Rp. 10 ribu perbotol kecil.

Hingga kini, Siti Mufarokah mengaku, bisa mengolah ikan menjadi beragam olahan seperti daging bandeng, lele, dan mujair yang bisa diolah menjadi abon dan nugget. "Kami terkendala modal untuk membeli alat. Bahkan, kalau ada oven, kulit ikannya bisa diolah menjadi
kerupuk," pungkasnya. jir