Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin saat memberi penjelas ke media terkait peristiwa bom Surabaya dan Sidoarjo di Mapolda Jatim, Selasa (15/5/2018).

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Dari pengejaran terhadap para pelaku terduga terorisme ditemukan hal yang mengejutkan. Ternyata para bomber ini merupakan satu jaringan. Sebanyak 13 pelaku yang tewas adalah satu guru, yakni Dita Oeprianto (sblmnya tertulis Supriyanto).

"Mereka ini satu jaringan, satu guru. Gurunya Dita ini. Mereka dikoktrin pemahaman-pemahaman teror. Mereka ini melakukan pertemuan setiap minggu di rumah Dita di Rungkut Surabaya." Hal ini ditegaskan Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin, di Mapolda Jatim, Selasa (15/5/2018). Machfud menuturkan, mereka berkumpul setiap minggu sudah sejak lama. Mereka melakukan doktrin dan melihat film-film soal terorisme.

Tidak hanya para orang tua, tapi anak-anaknya juga ikut menjalani doktrin dari Dita. "Bahkan, anak-anak pelaku dilarang sekolah. Kalau ditanya home schooling, itu tidak benar. Ya tak boleh sekolah," ucap Machfud.

Orang nomor satu di Polda Jatim ini mengatakan, ada satu anak dari pelaku Sidoarjo (Anton) yang tak mau ikut. Dia memilih ikut neneknya dan memutuskan sekolah. Machfud menerangkan, para pelaku kompak melakukan serangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo ini lantaran ingin masuk surga. "Mereka (pelaku) ini ingin masuk surga bareng-bareng," terang Machfud.

Sedangkan disinggung barang bukti apa saja yang sudah diamankan di dua lokasi penggrebekan, jendral bintang dua ini mengaku kalau cukup banyak barang bukti yang sudah diamankan. "Banyak barang bukti yang diamankan," pungkasnya. nt