Kanit Intelkan Polsek Wonokromo saat memeriksa pengunjung

SURABAYAPAGI.com, Wonokromo - Pasca insiden teror bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya pada Minggu (13/5) dan Senin (14/5), pihak kepolisian melakukan antisipasi dengan penjagaan ketat di markas komando baik Polda Jatim, Polrestabes Surabaya hingga polsek jajaran selama 24 jam.

Seperti yang terlihat di Mapolsek Wonokromo. Dari pintu gerbang radius 100 meter terpasang traficon dan barrier, untuk menutup akses jalan menuju mapolsek. Penjagaan tak biasa itu dilakukan untuk mensterilkan situasi sekitar markas komando dari kemungkinan adanya teror orang tak dikenal yang bisa saja terjadi.

Pengamanan berlapis itu dilakukan hingga kondisi di Surabaya dianggap kondusif oleh pihak kepolisian.

"Iya karena ancaman teror bom udah menjadi fakta bukan wacana. Sehingga semua mako siaga 1, tiap saat 2/3 lebih kuat anggota dimako dan kita bagi untuk jaga mako dan patroli ke tempat2 keramaian hotel, mall, gereja dan Rumah sakit," ujar Kapolsek Wonokromo,Kompol I Gede Suartika Selasa (15/5) sore.

Di depan gerbang mapolsek ditutup dan hanya dapat dilewati dengan satu orang saja. Selain itu ada polisi berpakaian dinas dan berpakaian preman dengan senjata laras panjang melakukan pemeriksaan kepada setiap pengunjung.

"Tolong dibuka tasnya mas," perintah kanit Intelkan Polsek Wonokromo kepada salah satu pengunjung.

Ahmad Zaini yang baru saja diperiksa mengaku memaklumi sikap dan tindakan kepolisian atas apa yang dilakukannya barusan. Menurut Ahmad polisi hanya mengantisipasi kemungkinan buruk pasca demam teror bom bunuh diri di Surabaya.

"Iya disini cuma mau sholat,tapi gakpapa sih mas. Wajar. Memang suasananya sedang mencekam gitu ya," ujar Ahmad.

Meski diperketat, Gede menjamin pelayanan kepolisian terhadap masyarakat tidak akan terhenti. Masyarakat tetap bisa melaporkan setiap kejadian dan polsek Wonokromo juga siap melayani sebagaimana mestinya.

"Pelayanan masyarakat tetap kita laksanakan namun kita barengi dengan budy system full," tukas perwira asal Bali itu.