Ilustrasi.

SURABAYAPAGI.com - Beberapa waktu lalu, Kepala Seksi SIM Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kompol Fahri Siregar mengungkapkan wacana penerapan tes psikologis sebagai salah satu persyaratan wajib dalam penerbitan semua golongan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Veloz Community, Bambang Bangun Wibowo menilai, tes psikologis untuk pengemudi kendaraan pribadi tidak terlalu penting, kecuali angkutan umum.

Kata dia, yang dibutuhkan pengemudi kendaraan pribadi adalah keterampilan dan pengetahuan rambu-rambu lalu lintas.

“Lebih penting keterampilan pengemudinya, kemudian pengetahuan rambu-rambu lalu lintas. Selama ini, Polda Metro Jaya menerapkan test psikologi kepada pengemudi angkutan umum,” ujar Bambang di Jakarta Pusat, Senin 25 Juni 2018.

Menurutnya, tes tersebut dibutuhkan sopir angkutan umum, karena membawa orang dalam jumlah banyak. Maka dari itu, mental atau kejiwaan dari sopir harus benar-benar normal ketika di jalan.

“Jadi, dari psikologisnya diperlukan mental yang kuat, tidak hanya sekadar keterampilan saja. Kalau pengemudi pribadi sebenarnya perlu juga, tapi tidak seperlu pengemudi angkutan umum,” tuturnya.

Sementara menurut Ketua Umum Avanza Xenia Indonesia Club, Taufik Hdayatulloh, sisi positif Kepolisian ingin menerapkan tes psikologis adalah untuk mengurangi angka kecelakaan atau antisipasi kecelakaan.

"Perilaku berkendara orang berbeda-beda, tergantung dari kejiwaannya. Yang penting, jangan dipersulit dan biayanya jangan dimahalkan," ungkapnya.