Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Bu Risma,

Hampir semua media, terutama media sosial, menurunkan pernyataan Anda, Risma. Anda dengan didampingi Puti dan Gus Ipul, menyebut Jawa Timur, tidak butuh orang keminter atau sok pinter.

Pernyataan Anda ini mudah ditebak arahnya, kemana lagi, kalau bukan rival Gus Ipul dan Puti. Apalagi Anda menyebut “kinerja” Gus Ipul-Puti yang suka mendengar aspirasi masyarakat dengan cara turun ke lapangan.

Sebagai jurnalis saya diajarkan oleh senior-senior saya dulu untuk selalu bersikap kritis. Apalagi terhadap pejabat publik yang tidak menerapkan etika. Senior wartawan yang mengajarkan sikap kritis itu almarhum A. Azis, Rosihan Anwar, Zulkarmans dan tokoh Pers yang masih sehat, jacob Utama.

Bagi saya, pejabat publik itu setiap hari harus dikontrol gerak geriknya. Maklum, saat seorang manusia sudah menjadi pimpinan apalagi pejabat publik, pada hakekatnya dia sudah “mewakafkan” jiwanya untuk masyarakat dan Alloh. Ini tentu bagi pemimpin yang sadar tentang hakikat menjadi pemimpin yang sebenarnya yaitu menjalankan amanah.

Meski saya bukan pejabat publik seperti Anda, saya termasuk pemeluk Islam yang taat pada Firman-firman Allah dan sabda Rasulullah. Makanya, meski saya dilahirkan dari keluarga abangan, urusan agama tak boleh saya langgar. Termasuk ajaran amanah.

Bu Risma,

Literatur bahasa Arab, menyebut kata amanah diartikan sebagai titipan, kewajiban, ketenangan, kepercayaan, kejujuran dan kesetiaan.

Nah, berdasarkan pengertian bahasa dan pemahaman tematik al-Qur’an dan hadits, saya mengakui bahwa amanah itu adalah sikap mental yang di dalamnya terkandung unsur kepatuhan kepada hukum. Termasuk tanggung jawab kepada tugas, kesetiaan kepada komitmen dan keteguhan dalam memegang janji.

Maka itu, dalam perspektif agama Islam, amanah memiliki makna dan kandungan yang luas, di mana seluruh makna dan kandungannya bermuara pada satu pengertian bahwa setiap orang merasakan bahwa Allah subhanahu wata’ala senantiasa menyertai kita dalam setiap urusan di dunia dan konsekwensinya ada kesadaran bahwa kelak kita, termasuk Anda yang kini masih menjabat Kepala Daerah di kota Surabaya, akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan memimpin rakyat di Surabaya.

Guru ngaji saya pernah mengajarkan, amanah itu ada pada setiap orang dan bukan hanya pemimpin. Setiap orang dianggap memiliki amanah sesuai dengan apa yang dibebankan kepadanya.

Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang pernah diajarkan oleh guru ngaji saya, mengatakan : “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dalam memelihara harta tuannya dan ia akan ditanya pula tentang kepemimpinannya”. (HR Imam Bukhari).

Akal sehat saya meyakini bahwa siapa pun yang mengakui dirinya seorang muslim, termasuk Anda, amanah adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Mengingat, Rasulullah telah mengajarkan seorang muslim untuk saling mewasiati dan memohon bantuan kepada Allah subhanahu wata’ala dalam menjaganya. Bahkan ketika seseorang hendak bepergian diajarkan mendoakannya : “Aku memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar Ia terus menjaga agama engkau, amanah dan akhir amalan engkau”. (HR Imam Tirmidzi).

Pertanyaan saya, apakah saat Anda membuat pernyaataan itu, Anda sepertinya lupa ajaran Rasulullah, bahwa pemimpin itu menjaga amanah, bukan mendzalimi sesama muslim.

Apakah Anda saat itu lupa tentang etika pejabat publik juga? Atau Anda hanya memikirkan hal-hal yang pragmatis dalam politik praktis? Bagi saya, kegiatan politik praktis itu tak lebih dari sebuah permainan dan kepentingan terkait dengan kekuasaan. Beda dengan ukhuwah Insanah apalagi ukhuwah Islamiah.

Maka itu, saya bertanya kepada Anda, apakah Khofifah dan Emil, bukan bagian dari ukhuwah insaniah dan Islamiah yang Anda praktikan?

Bu Risma,

Pernyataan Anda di depan masyarakat yang saat itu ada di perumahan Jl. Urip Sumoharjo Surabaya, sepertinya tidak bisa membedakan antara orang cerdas dan orang keminter.

Saya menduga pernyataan Anda ini terkait jawaban-jawaban yang diberikan Khofifah dan Emil dalam debat publik Pilkada serentak 2018 yang telah ditayangkan sejumlah TV swasta Nasional.

Dalam debat publik yang saya ikuti, saya merekam dan sekaligus mencatat. Dalam rekaman dan catatan saya, baik Khofifah maupun Emil menjawab pertanyaan panelis maupun Gus Ipul dan Puti, dengan jawaban yang nalar, menggunakan data, dan referensi, sehingga jawabannya berisi penjelasan yang ditail dan rijid. Saya menilai, jawaban kedua pasangan ini bukan jawaban basa-basi, tapi jawaban seorang yang menguasai masalah yang ditanyakan. Paslon nomor satu ini menurut saya termasuk cagub - cawagub cerdas.

Saya berpandapat seperti ini antara lain mempelajari sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Language Science. Pada era teknologi modern, orang cerdas dituntut untuk bekerja serba cepat. Entah itu membalas e-mail, menyerahkan tugas, dan menelepon balik. Maka orang-orang yang bisa berpikir dan memberi tanggapan dengan cepat akan jauh lebih disukai. Bahkan orang-orang yang benar-benar pintar, justru senang mencari risiko. Walau banyak yang menganggap mereka yang berani ambil resiko (risk taking) tergolong bodoh, naif, dan nekat. Dan hanya orang pintar lah yang berani ambil risiko berbahaya. Ini karena mereka punya kehausan untuk mendapatkan pengalaman belajar. Makanya mereka umumnya memaksa keluar dari zona nyaman. Dengan begitu, mereka bisa memuaskan rasa penasaran mereka dan melatih diri untuk menguasai berbagai keadaan.

Penelitian ini juga menjelaskan bahwa orang cerdas umumnya tidur larut malam dan bangun siang, karena sepanjang malam membaca dan menulis. Jadi, ada kecenderungan, orang yang suka membaca sampai malam cenderung berilmu, cerdas dan kreatif dibanding dengan orang-orang yang tidur lebih cepat.

Peneliti yang sama menyebut orang yang sok pintar biasanya suka mengulur ulur waktu dengan berbagai alasan. Padahal dia sedang bingung.

Bahkan, diteliti orang yang sok pintar cenderung terlihat sok sibuk. Artinya, ia sebenarnya tidak punya kegiatan apa pun. Namun karena ingin terlihat bahwa kepintarannya diperlukan di banyak tempat, dia sering membuat dirinya terlihat sibuk. Mondar-mandir meskipun kegiatannya sebenarnya kosong.

Apakah benar Khofifah yang mantan Menteri sosial dan Emil Dardak yang masih menjabat bupati Trenggalek, layak dituding keminter? Apakah Anda tidak pernah mau membaca track recordnya, baik sebagai aktivis, politisi maupun birokrat.

Dan apakah Anda melihat paslon satu menyerupai “snob” yaitu sikap sok yaitu sok tahu, sok mengerti dan sok pintar. Padahal, paslon ini diketahui publik menjawab dalam debat publik dengan jawaban aplikatif yang didasarkan referensi, penelitian dan pengalaman empiriknya.

Justru menggunakan akal sehat, Anda yang suka mencela, tetapi Anda tak berani mencalonkan diri sebagai cagub Jatim. Teman saya yang mengajar psikologi di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya mengatakan, orang yang suka mencela, acapkali memiliki sikap sirik. Pada dirinya, selalu punya perasan tidak suka terhadap apa yang dikatakan orang. Pikirannya cenderung negative thinking. Bahkan pemimpin yang suka mencela pimpimpin lain di depan publik, kadang menganggap dan merasa dirinya lebih superior daripada orang lain.

Pertanyaannya, apakah Bu Risma lebih superior dibanding Bu Khofifah? Secara subyektif hanya Bu Risma yang paham. Tetapi secara obyektif, publik yang mengikuti debat publik antara paslon 1 dan 2, bisa menilai kecerdasan Khofifah dan Emil.

Pesan moral dari saya jurnalis yang warga kota Surabaya, mari kita sebagai warga kota mau bercermin dari Bu Risma. Fakta yang terjadi, atas sikapnya itu, suara PDIP untuk Gus Ipul-Puti, di kota Banteng seperti Surabaya, malah jeblok. Padahal saat Pilkada Walikota Surabaya tahun 2015 lalu, Anda mendapat 87 % dari pemilih sah di Surabaya. Tapi kali ini, suara dari pemilih PDIP plus PKB menurut riel qount tinggal 49.20 %. Sementara perolehan suara Khofifah-Emil, 50.80%.

Logikanya, dengan diusung dua partai besar kemudian disuport partai menengah (Gerindra dan PKS) mestinya paslon 2 yang Anda dukung bisa mengais 87 persen plus-plus.

Menggunakan ilmu marketing dan konsep bisnis, peristiwa ini menggambarkan “pendapatan” suara PDIP - PKB plus PKS-Gerindra, menurun drastis. Baik di Surabaya maupun Jawa Timur. Anda sebagai marketer Gus Ipul-Puti, dengan hasil real count diatas menurut akal sehat saya gagal total. Menghadapi kenyataan seperti ini, pemimpin di Jepang umumnya hara-kiri, minimal mengundurkan diri. Pertanyaannya, apakah Anda sudah berpikir seperti umumnya pemimpin di Jepang, hara-kiri atau mundur sebagai Walikota Surabaya? Hanya Anda yang tahu.

Sebagai jurnalis yang berada di lapangan, saya perlu melaporkan kepada Anda, cukup banyak warga kota, termasuk kaum wanitanya kecewa dengan sikap Anda dalam mengkampanyekan paslon Gus Ipul - Puti. Sikap kekecewaan mereka pada last minute adalah tidak mau nuruti perintah dan ajakan Anda untuk mencoblos gambar Puti dan Gus Ipul.

Fakta menunjukan bahwa yang dicoblos oleh warga kota Surabaya adalah paslon yang Anda tuding sok pinter, Khofifah-Emil. Akal sehat saya berbisik, siap-siaplah dicopot Ketua Umum PDIP, atau Anda pantas mundur atas kesadaran sendiri. Atau menerima resiko, Anda sudah tak dihargai pemilih Anda yang militan seperti Pilkada tahun 2015. Ini bisa sebagai isyarat, pasca pencoblosan 27 Juni 2018, kewibawaan Anda mulai tergerus. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)