SURABAYAPAGI.com - Masyarakat dari beberapa kecamatan di Lampung Barat yang mayoritas berprofesi sebagai petani mengeluhkan terus naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi tanpa pemberitahuan oleh pemerintah.

Keluhan tersebut dikarenakan satu-satunya Stasiun Pengisian Bahan bakar umum (SPBU) di kecamatan Batubrak, Lampung Barat yang melayani warga dari tujuh kecamatan di wilayah tersebut sejak awal 2017 lalu tidak lagi menjual premium.

"Bapak presiden yang kami hormati, tolong perhatikan nasib kami yang hanya petani, kami tidak meminta untuk di kasih uang, tapi tolong pom bensin (SPBU) Batubrak itu jual bensin (premium). Kalau kayak gini, makin susah. Mau bajak sawah saja pakai Pertalite. Mana harganya naik terus," keluh Suminto, seorang petani di kecamatan Sukau usai mengisi Pertalite di SPBU Batubrak, Minggu (1/7/2018).

Suminto mengatakan SPBU Batubrak merupakan satu-satunya SPBU yang menyuplai kebutuhan warga dari tujuh kecamatan, mulai dari kecamatan Lumbok Seminung, Sukau, Balikbukit, Batubrak. Kemudian Kecamatan Belalau, Batuketulis, Suoh dan Bandarnegeri Suoh.

"Dari tujuh kecamatan ini, hampir semua petani kopi, padi, dan sayur mayur. Mesin bajak sama motor ojek saja pake Pertalite," cerita dia.

Hal senada dikatakan Saidi, warga Balikbukit yang mengaku cukup kaget atas kenaikan harga BBM non subsidi.

"Sekarang saya mau tanya khusus untuk kami petani di Liwa ini, apa bentuk perhatian pemerintah dengan petani. Kalau alasannya yang naik itu BBM nonsubsidi, toh selama ini kami memang tidak merasakan premium karena tidak ada jualannya," kata dia.

Dari pantauan di SPBU Batubrak, sejak pagi hingga petang, kondisi SPBU cukup lenggang, hanya beberapa kendaraan yang terlihat mengisi BBM.