Aktivitas di kota Beijing China.

SURABAYA PAGI, Beijing - Kekuatan ekonomi China saat ini telah mendekati Amerika Serikat, bahkan di beberapa tempat, produk-produk China telah menggeser produk Amerika di kancah global. Profesor bisnis kenamaan China Zhang Weining menjelaskan mengapa China saat ini bisa mengambil alih ekonomi global dari tangan Amerika.

Zhang yang menghabiskan banyak waktu di kedua negara, menilai bahwa perbedaan besar cara pandang masyarakat di antara negara tersebut telah membuat ekonomi China meningkat tajam.

Zhang adalah profesor di Sekolah Bisnis Pascasarjana di Cheung Kong, tumbuh di China, meraih gelar master dari Western Kentucky University dan mendapat titel PhD di University of Texas di Dallas.

Ia membagi waktunya antara Amerika dan China. Kepada Business Insider, Sabtu (30/6/2018), saat dia mengunjungi desa-desa di China, percakapan yang banyak dia dengar antara penduduk desa, petani, dan kebanyakan orang adalah tentang teknologi, model bisnis, dan kecerdasan buatan.

Sementara itu, saat Zhang kembali ke bekas rumahnya di Kentucky atau Texas, percakapan dominan baik di kalangan akademisi dan orang biasa adalah masalah politik, topik politik terpanas seperti kontrol senjata atau aborsi.

"Orang China umumnya hanya peduli tentang ini: siapa yang bisa menjadi lebih kaya? Bagaimana cara untuk menjadi kaya tanpa melanggar norma? Kami lebih banyak berdebat tentang model bisnis dan teknologi baru," ujarnya.

Sedangkan, kata Zhang, orang Amerika Serikat saat ini terobsesi terhadap politik sehingga menyedot energi dan waktu. Sejatinya energi dan waktu tersebut digunakan untuk bekerja mengembangkan teknologi dan bisnis baru.

"Ketika Anda hanya berdebat tentang politik, itu tidak membantu hidup Anda sama sekali. Tidak ada yang membayar Anda untuk itu," tegasnya.

Zhang mengakui bahwa diskusi politik terjadi di AS karena begitu banyak budaya didasarkan pada kebebasan pribadi. Bagaimana mempertahankan kebebasan pribadi. Sementara, kata dia, orang-orang China saat ini fokus pada jenis kebebasan berbeda: kebebasan untuk pembangunan ekonomi.

Sebagai contoh, Zhang menunjuk 1,2 juta pekerja kurir di China alias kuaidi yang berkeliaran di kota-kota China mengantarkan paket, makanan, dan barang-barang lainnya. Sebagian besar bekerja hingga 12 jam sehari, enam hari seminggu. “Ini hampir tidak terbayangkan di AS,” katanya.

Menariknya, saat jurnalis dari Amerika datang ke China dan mewawancarai para kurir, banyak dari mereka adalah lulusan universitas. Mereka tidak mempermasalahkan kerja kasar. Karena umumnya, mereka sangat menginginkan pekerjaan, terlepas dari waktu kerja yang lebih panjang dibanding di Amerika.

Penghasilan kurir di China rata-rata sebesar USD2.000 atau setara Rp28,5 juta per bulan (kurs Rp14.278 per USD) setelah dipotong pajak. Jumlah tersebut cukup di China untuk biaya hidup dan menabung bagi masa depan.

Obsesi kemajuan ekonomi, tambah Zhang, bukan hanya terjadi di kelas menengah bawah di China juga di kalangan kelas menengah atas. Pekerja kelas menengah atas di China terobsesi bekerja untuk mengejar impian mereka dan mengejar status sosial. ch