Suasana outlet di Royal Plaza dan Galaxy Mall Surabaya yang sepi pembeli, Senin (2/7/2018).

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Pasca Lebaran, Pemerintah Jokowi memberikan kado pahit kepada masyarakat. Kado itu berupa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dampak kenaikan ini, daya beli masyarakat bakal melemah. Apalagi pada saat yang sama, harga elpiji 3 kg mulai naik menjadi Rp 40 ribu, meski kemasannya berbeda dengan gas elpiji melon. Sedang nilai kurs Rupiah terus melemah ke level Rp 14.375/dollar AS. Kini, rakyat mulai merasakan beban berat. Tak terkecuali masyarakat di Surabaya. Sejumlah pusat perbelanjaan pun tampak sepi pembeli. Mall-mall hanya menjadi objek wisata jalan-jalan. Pengunjung berseliweran, tapi tidak banyak yang membeli atau berbelanja.

----------

Pantauan tim Surabaya Pagi di lapangan mendapatkan fakta bahwa outlet-outlet di sejumlah mall mengalami penurunan dalam jumlah pembeli. Setidaknya, ini terlihat di Royal Plaza, Surabaya Plaza (Delta) dan Galaxy Mall. "Pembeli untuk saat ini mengalami penurunan hingga tiga kali lipat. Entah karena diskon yang diberikan masih belum sesuai atau banyak yang sudah buka store-store lain. Biasanya kita sampai kewalahan tapi sekarang biasa saja," ungkap Nova, salah satu pegawai Planet sport net di Galaxy Mall Surabaya, Senin (2/7) kemarin.

Selain itu, ditemukan banyak pengunjung pusat perbelanjaan hanya sekedar berjalan-jalan bersama keluarga tanpa membeli. Banyak pengunjung ke Galaxy Mall diantaranya membawa pulang dengan bahan belanjaan siap saji, seperti makan dan minuman.

Hal sama juga terlihat di Royal Plaza. "Ramai mas yang ke mall tapi kalau belanja jarang-jarang. Makanya banyak toko pasang harga promo," ujar Wati, salah satu pemilik toko baju wanita di Royal Plaza, Senin (2/7) kemarin.

Wati mengamati daya beli pengunjung terlihat menurun pasca lebaran. Hal tersebut menurut analisisnya, karena masyarakat yang sudah belanja besar-besaran menjelang lebaran. Ironisnya, pasca lebaran, justru harga BBM naik. Kurs Rupiah juga melemah.

"Biasanya belanja itu pas menjelang hari raya kan, kalau hari-hari gini biasa aja. Kabarnya di medsos juga BBM naik tuh, aduh," tambahnya saat ditemui di stannya.

Kebijakan Pemerintah Kurang Pas

Sementara, salah seorang Kepala cabang bank plat merah di Surabaya, mengatakan, ada kebijakan kurang pas dari pemerintah, sehingga menjadikan perputaran uang di tataran bawah semakin melemah.

"Lesunya ekonomi kali ini tak sama dengan era tahun 2008. Saat ini, daya beli masyarakat berkurang, beda dengan 2008 yang masih ada daya beli," ungkapnya di kantornya kawasan Basuki Rachmad Surabaya, Senin (2/7/2018).

Pria yang menjabat Manager Mikro ini mengaku prihatin melihat banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang membuka stan di ITC dan BG Junction mulai kesulitan membayar kredit. Bahkan ada yang sudah menutup lapaknya, karena dagangannya sepi.

Sedangkan, berdasarkan daftar harga terbaru yang dirilis Pertamina, harga Pertamax dan Dex Series di wilayah Pulau Jawa dan Bali naik per 1 Juli 2018. Sebelumnya Pertamax Rp8.900 per liter naik Rp600 menjadi Rp9.500 per liternya. Harga Pertamax Rp9.500 per liter juga ditetapkan untuk wilayah NTB, NTT, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu. Kemudian, Pertamax Turbo naik Rp 600 menjadi Rp 10.700 per liter, Pertamina Dex naik Rp 500 menjadi Rp 10.500 per liter, serta harga Dexlite naik Rp 900 menjadi Rp 9.000 per liter.

Sebelumnya, pada 24 Februari 2018 lalu, Pertamina juga menaikkan harga BBM non subsidi. Kenaikannya pun tertinggi sejak beberapa bulan terakhir, yakni mulai dari Rp300 per liter hingga Rp750 per liter. Tercatat, harga Pertamax naik Rp300 per liter menjadi Rp8.900 per liter dari harga sebelumnya Rp8.600 per liter.

Keluhkan BBM Naik

Hal sama diungkapkan Lina, penjaga toko baju di outlet lainnya. Secara pribadi ia mengeluhkan dengan naiknya harga BBM. Sebab baginya BBM merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat. "Tiap hari saya ke sini naik motor mas, kalau harga (BBM) naik berarti kan pengeluaran makin banyak," ucap dara cantik yang juga mahasiswa di salah satu kampus di Surabaya itu.

Dari pantauan, pengunjung Royal Plaza didominasi pengunjung remaja tersebut terbilang ramai. Apalagi secara geografis mall ini dekat dengan berbagai kampus. Terlihat muda-mudi lebih asyik mendatangi bioskop untuk nonton film dan food court, ketimbang belanja barang. Meskipun juga masih ada yang berbelanja pakaian, sepatu dan lainnya.

Salah satu pengunjung, Nirmala mengaku sering mendatangi Royal Plaza hanya untuk hang out bersama teman kampusnya. Biasanya dia nonton, makan dan jalan-jalan keliling mall. "Kalau belanja itu seringnya gak sengaja. Pas jalan liat baju bagus terus mampir tanya-tanya kalau cocok beli," ujar mahasiswa Unesa semester 6 tersebut.

Nirmala mengaku heran tiba-tiba harga BBM naik per 1 Juli. Pemerintah dianggap kurang komunikatif dengan cara yang mendadak tanpa ada pengumuman sebelumnya. "Tahunya dari IG (Instagram) banyak meme. Kalau BBM naik biasanya nanti semua jadi (ikut) naik," geramnya.

Mulai Terdampak

Begitupun dengan suasana di Surabaya Plaza (Delta Plaza). Mall yang terletak di tengah kota ini ramai pengunjung. Salah satu penjaga di salah satu stan, Andre mengungkapkan kalau di hari di awal kenaikan BBM ini belum terlihat secara signifikan. Tapi mungkin seminggu atau dua minggu lagi, dampaknya mulai terasa. "Kalau baru sehari masih sama (seperti) hari biasa, seminggu biasanya baru kelihatan. Sekarang sih ramai (masih) ramai," bebernya.

Santi, pengunjung Plaza Surabaya mengaku dengan naiknya harga BBM sudah dirasakan ketika dirinya membeli makanan. Menurutnya kalau harga baju naiknya tidak kelihatan, sebab masih bisa dinego. "Pas makan itu ya harga langsung naik. Eh.. kok gini ya cepet. Kalau ke mall kan kita kadang beli (barang) nawar, kalau makan masak mau ditawar," ucapnya sambil tertawa.

Waspada

Pakar Ekonomi dari Unversitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Dr. Methiana Indrasari menyebutkan naiknya BBM jenis Pertamax jangan dianggap remeh. Menurutnya, masyarakat diharap waspada. Sebab perekonomian Indonesia tidak bisa lepas dari perekonomian global. "Bagaimanapun masyarakat harus waspada dalam menyikapi kondisi perekonomian di daerahnya masing-masing. Kita juga turut mengawasi kebijakan-kebijakan bahwa seharusnya kebijakan itu harus pro rakyat," ungkap perempuan yang juga wakil rektor IV Unitomo tersebut, dihubungi terpisah, kemarin (2/7).

Kata Meithiana, pemerintah harusnya berpikir panjang sebelum memutuskan kebijakan yang sifatnya langsung berimbas pada masyarakat luas. Menaikkan harga BBM bukan solusi terbaik untuk meningkatkan pendapatan pemerintah.

"Pemerintah bisa bijak menentukan regulasi-regulasi atau kebijakan yang pro rakyat," imbuhnya.

Dirinya belum bisa memprediksi ada alasan apa di balik melemahnya rupiah dan naiknya harga BBM. Kalau dilihat faktor politik, ia menyangkal. Sebab dalam gelaran Pilkada serentak kemarin cukup kondusif dan lancar. "Kalau kaitannya dengan politik, nggak ya," ujar dia. Lebih lanjut, Meithiana menunggu terobosan perekonomian dari pemerintah ke depan seperti apa. n