TIM Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) FST UNAIR saat di laboratorium dan berhasil membuat Membran Barrier yang dapat meregenerasi jaringan untuk terapi kelainan periodontal. Setelah melalui berbagai uji, hasilnya aman bagi tubuh.

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Mahasiswa program studi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berhasil membuat inovasi berupa membran barrier yang dapat memicu regenerasi jaringan untuk terapi kelainan periodontal. Salah satu kelainan periodontal itu ialah periodontitis, penyakit yang menyebabkan inflamasi kronis karena adanya bakteri yang menyebabkan kerusakan gigi dan gusi, hilangnya jaringan ikat, terkikisnya tulang alveolar dan kerusakan gigi.

”Jika tidak segera ditangani penyakit ini akan menimbulkan masalah yang besar dan sistemik, seperti aterosklerosis, diabetes, penyakit jantung dan auto-imune," kata Mohammad Bagus Lazuardi, satu diantara tiga mahasiswa FST yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE).

Bersama dua rekannya, yaitu Fitria Renata Bella dan Marsya Nilam Kirana, mereka melaporkan penelitiannya dalam proposal berjudul Membran Guided Tissue Regeneration PCL-AgNPs Aloe vera untuk Terapi Kelainan Periodontal. Proposal ini berhasil lolos seleksi Dikti, sehingga memperoleh dana hibah penelitian dalam program PKM Kemenristekdikti 2017-2018.

”Seperti yang dilaporkan suatu media, dari empat orang terdapat satu orang yang mengidap permasalahan gigi dan mulut, sehingga proyeksinya diperkirakan 65,275 juta jiwa yang mengidap permasalahan gigi dan mulut," lanjut M Bagus Lazuardi mengutip hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013).

Sehingga salah satu penanganan klinis untuk periodontitis membutuhkan membran barrier, atau penahan yang disebut Guided Tissue Regeneration (GTR) yang berfungsi mencegah keluarnya jaringan penyusun gusi (ephitelium) dan memastikan tumbuhnya sel ligament pada daerah periodontal yang rusak.

Seperti diketahui, membran GTR klinis yang digunakan saat ini menggunakan bahan polimer non-biodegradable (PTFE), sehingga secara fisik membutuhkan prosedur operasi kedua kali untuk pengangkatan membrane, dan secara kimiawi kurang mendukung pertumbuhan sel.

”Kegagalan penyembuhan sering terjadi karena infeksi yang disebabkan oleh kolonisasi pathogen pada lokasi periodontitis, atau terjadi respon benda asing. Karena itu dibutuhkan membran GTR yang biokompatibel dan antibakteri, kata M. Bagus Lazuardi," ketua tim inovasi.

Dibawah bimbingan Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., tim peneliti ini mencoba membuat membran GTR berbahan dasar Poly(?-caprolactone) (PCL), nanosilver (AgNPs), dan lidah buaya (Aloe vera).

“Kami mencoba membuat membran GTR dari Polycaprolactone (PCL), AgNPs, dan Aloe vera. PCL ini aman bagi tubuh karena dapat terdegradasi, kemudian dieliminasi dari tubuh melalui siklus asam sitrat, kemudian dikombinasikan dengan AgNPs produk biosintesis Aloe vera yang dilaporkan dapat membunuh bakteri penyebab periodontitis secara efektif," tambah M Bagus.

Membran GTR ini berupa lembaran sekumpulan fiber yang dibuat dengan instrumen electrospinning. Membran GTR ini juga sudah diuji menggunakan FTIR dan menunjukkan PCL-AgNPs Aloe vera telah terkandung pada membran. Pengamatan dibawah mikroskop elektron menunjukkan bahwa diameter fiber yang terbentuk berkisar 106 113 nm sehingga dapat menyerupai extracellular matrix (ECM).

Membran GTR yang dihasilkan juga memiliki keunggulan dibandingkan membran GTR klinis saat ini, yaitu membran dapat terdegradasi serta laju degradasinya yang dapat diatur. Hasil penelitian ini juga lolos dari uji antibakteri menggunakan bakteri E.coli dan S.aureus yang merupakan bakteri penyebab awal periodontitis. Hasil ujinya, membran GTR yang dihasilkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut.

Ditambahkan oleh M Bagus, agar lebih meyakinkan bahwa membran GTR yang dihasilkan tidak menyebabkan reaksi benda asing dan beracun bagi tubuh, maka dilakukan uji sitotoksisitas menggunakan sel limfosit. Hasilnya, membran GTR tersebut tidak toksik, sehingga aman bagi tubuh. yaq