Agus Liantono alias Gus Li

SURABAYA PAGI, Mojokerto - Agus Liantono alias Gus Li dan Tri Dewi Sugiarto, warga Jalan Letkol Sumarjo, Nomor 41, Kota Mojokerto, sampai semalam tak bisa ditemui. Baik rumahnya di Mojokerto, hotel Spa di dan rumah mewahnya di Citraland, tidak bisa dijumpai. Bahkan nomor teleponnya, 081333360608, dihubungi Rabu (4/7/2018) malam melalui telepon dan pesan WhatsApp, tidak diangkat dan tidak direspon.

Beberapa staf bank yang dibobol mencurigai, Gus Li, tak bisa dihubungi, diduga menyembunyikan asset-asetnya. Diantaranya ada yang diatasnamakan temannya. “Kami terus lacak kemana saja asetnya, sebab aset Gus Li dan istrinya sudah masuk bundel pailit,” jelas kurator dari Jakarta, Martin Pasaribu, SH, MH.

Sementara itu kuasa hukum Gus Li, advokat Sugianto SH, meluruskan bahwa ia tidak pernah menyatakan uang kredit yang dipakai Gus Li, untuk tutup lubang gali lubang. “Saya mendengar asset yang dijaminkan ke bank lebih besar dari nilai kreditnya. Itu saja,” kata Sugijanto dalam keterangan kepada Surabaya Pagi, kemarin.

Gus Li, kini dinyatakan pailit bersama istri dan perusahaannya, CV Surya Naga Buana Jaya, yang dikelolanya. Baik CV maupun alamat Gus Li dan istrinya, sama yaitu di Jl. Letkol Sumarjo 41 Mojokerto.

Sebelum dinyatakan pailit oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga Surabaya, 2 Januari 2018, akhir tahun 2017, Gus Li dan CV Surya Naga Buana Jaya, dimohonkan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) oleh Bank Pembangunan Daerah Papua. Gus Li, tak bisa membayar utangnya Rp 55 miliar, dari utang pokok Rp 45 miliar.

Melaporkan Pidana

Sisa dari total utang Rp 181 miliar, diperoleh Gus Li dari lima bank lain yaitu Bank Amin, Bank Mandiri cabang Diponegoro Tbk, Bank Pembangunan Daerah Papua, Bank Danamon Tbk, Bank Index Selindo dan Bank Mestika Dharma Tbk. Bank yang menderita kerugian terkecil adalah Bank Mandiri cabang Diponegoro yaitu sebesar Rp 2 miliar. Kerugian Bank terbesar diderita Bank Mestika Dharma Tbk, yaitu Rp 55 miliar.

Telepon Redaksi dan seluler Pemimpin Redaksi Surabaya Pagi, seharian kemarin dihubungi beberapa pejabat bank dan pengusaha yang mengenal Gus Li. “Kok bisa ya, anak muda seusia Gus Li, bisa bobol enam bank sebesar itu. Dimana letak kelemahannya,” kata seorang pengusaha lulusan ITS, yang dekat dengan politisi Ridlwan Hisyam.

Seorang pejabat Bank bahkan meminta enam bank itu melaporkan Gus Li dan Istrinya, secara pidana, karena kerugian sebesar itu bisa menganggu perekonomian Indonesia, khususnya di Surabaya. “Bila dana Rp 181 miliar itu disalurkan ke koperasi dan UKM (Usaha Kecil Menengah) bisa puluhan pelaku bisnis terbantu permodalannya. Ini ada pemusatan kredit corporate. Pejabat Banknya bisa disorot,” kata pejabat yang lulusan keuangan dari Inggris.



Rumah toko (Ruko) Gus Li di Jl Letkol Sumarjo Mojokerto.

Jualan Plastik

Sementara, wartawan Harian Surabaya Pagi, Rabu sekitar pukul 08.30 WIB, mendatangi rumah toko (ruko) milik Gus Li dan Tri Dewi Sugiarto, di Jalan Letkol Sumarjo, Kota Mojokerto. Ruko berpagar biru, pagi itu masih tertutup rapat.

Ruko yang sudah berdiri sejak tahun 1970 an ini sudah digunakan oleh keluarga Gus Li untuk usaha jualan segala macam plastik. Pagi itu, Gus Li dan istrinya, Tri Dewi Sugiarto, tidak bisa dijumpai, apalagi Gus Li.

Ima (50), salah satu tetangga Gus Li mengaku kenal pria keturunan Tionghoa itu sejak kecil. "Saya tahu Gus Li sejak dia masih kecil, kelurganya sudah menetap di situ sudah sejak Gus Li lahir hingga sekarang," terang Ima.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berdinas di Kecamatan Magersari ini mengatakan, 4 ruko yang berjajar di Jalan Letkol Sumarjo itu semuanya milik keluarga gus li. "Istri gus li setiap hari yang menjaga toko plastik. Sedangkan kakak gus li membuka usaha jual beli onderdil mobil tepat di sebelah ruko milik gus li ini," terangnya.

Tetangganya Kaget Bobol Bank

Ditanya kesehariannya, Ima mengaku sosok Gus li sebagai sosok yang familiar. Setiap ada kegiatan lingkungan, baik Gus li maupun istrinya, menyempatkan diri untuk hadir. "Orangnya biasa aja, gak sombong atau anti lingkungan. Setiap diundang acara pasti hadir. Semisal acara 17 Agustusan kemarin mereka juga datang kok," terangnya.

Ima, mengaku kaget dengan pemberitaan pembobolan uang senilai ratusan miliar. Sebab ia melihat selama ini, keluarganya dikenal sebagai keluarga yang kaya. "Mereka itu keluarga kaya, jadi rasanya gak percaya kalau mereka membobol bank segitu banyaknya?," sergahnya.

Pabriknya Pernah Digrebek

Terpisah Yahudi, anggota Satpol PP Kota Mojokerto juga mengaku tahu terkait kiprah keluarga Gus Li ini. Pasalnya, sekitar lima tahun lalu, dirinya pernah ikut melakukan penggerebekan pabrik plastik yang diduga milik keluarga Gus Li di Jalan Empunala Kota Mojokerto.
"Pabriknya ditutup Pemkot karena perizinannya kurang lengkap dan tidak ada pengolahan limbahnya. Dengar-dengarnya lagi sekarang pabriknya pindah di Kelurahan Gunung Gedangan Kota Mojokerto," jelasnya.

Yahudi mengaku tak kaget jika Gus Li punya sangkut paut piutang yang banyak dengan pihak Bank. "Pabriknya yang di gunung gedangan itu besar, karyawannya juga banyak. Wajar saja jika bank percaya memberikan pinjaman yang nilainya fantastis," tuturnya. dw/rmc