Gus Li, bersama beberapa terapis di Spa, di acara syukuran Spa, Hotel Sun Palace, yang diposting di Facebook Agus Liantono, 17 Agustus 2016. (SP/facebook Agus Liantono)

SURABAYA PAGI, Mojokerto – Dalam pengajuan kreditnya, Agus Liantono alias Gus Li, di enam bank, tidak ada yang menyebut bisnis esek-esek. Gus Li, (35 tahun) mengajukan kredit untuk pembangunan hotel. Semula mengajukan Rp 60 miliar. Tetapi dikabulkan hanya Rp 45 miliar.

Sebelum mendapat kucuran dari Bank Pembangunan Daerah Papua, Gus Li, mencoba ke Bank Artha Graha. Ajuannya Rp 70 miliar. Setelah ditinjau, Bank milik grup Tomy Wunata ini menolak, salah satunya faktor background Gus Li. Informasi yang dihimpun Gus Li, diduga suka main cewek dan minum. Oleh karena ajuan ke Bank Artha Graha, ditolak.

Mengapa Bank Pembangunan Daerah Papua, bisa mengabulkan ajuan kredit Gus Li, sebesar Rp 45 miliar yang kemudian macet. Akibat tak membayar, hak tagih Bank Pembangunan Daerah Papua ini menjadi Rp 55 miliar. Dari sini, Gus Li, berurusan dengan bank. Pilihan bank melakukan media dan somasi, tetapi tak mempan mengetuk hati Gus Li. Akhirnya Bank Pembangunan Daerah Papua, mengajukan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) Gus Li dan perusahaannya yaitu CV Surya Naga Buana Jaya.

Prostitusi Terselubung

Dengan informasi yang dihimpun bahwa Gus Li juga memiliki bisnis Hotel di Mojokerto. Di dalam hotel tersebut, beberapa sumber juga menyebut ada spa dan massage pijat menjurus esek-esek. “Gus Li punya hotel di Raya Trowulan sana. Terkenal. Sun Palace Hotel. Pernah digerebek juga, karena ada esek-eseknya di dalam Spa. Coba aja cek sendiri, masih ada gak,” ucap salah satu anggota Satpol PP Pemkab Mojokerto, yang namanya meminta dirahasiakan.

Untuk itu, Wartawan Surabaya Pagi, Kamis siang kemarin (05/07/2018) menyusup (under cover) ke Spa di Hotel Sun Palace Trowulan Mojokerto, yang diklaim milik Gus Li. Undercover ini termasuk mem-booking cewek yang bertarip Rp 800 ribu sekali main atau Rp 400 ribu, hanya bermain (maaf) seks oral.

Meski terbilang baru, Hotel Sun Pallace yang berlokasi di Jalan Raya Trowulan, Mojokerto berbeda dibandingkan hotel-hotel di Mojokerto lainnya. Bagaimana tidak?.

Hotel Gus Li yang memiliki 34 kamar ini diakui warga Mojokerto sebagai pioner one stop hotel entertainment di bumi Mojopahit. Tak hanya itu, hotel yang berdiri sejak tahun 2013 ini juga menyuguhkan praktik prostitusi terselubung bagi para pria hidung belang.



Hotel Sun Palace di Raya Trowulan Mojokerto. (foto: SP/jo)

Hotel, Karaoke, Café, Spa dan Outbond

Meski Polres Mojokerto terus melakukan operasi terkait prostitusi, nyatanya hal itu belum bisa membuat jera pengusaha esek-esek di kota onde-onde. Praktik kotor itu bahkan terjadi di Sun Palace Hotel and Entertainment. Tempat penginapan dan hiburan ini menyediakan hotel, tempat karaoke, Cafe, SPA, hingga outbond.

Lokasinya berada jalan by pass Trowulan, Mojokerto. Letaknya persis di sebelah kanan dari arah Surabaya ke Madiun. Suasananya menurut pria hidung belang yang pernah mencicipi cewek di hotel Sun Palace, nyaman dan tenang.

Meski berhadapan langsung dengan jalan raya, sejumlah pengunjung merasakan tak akan mendengar kebisingan. Tempatnya cukup luas, dengan ornamen beberapa pahatan patung khas Trowolan.

Seorang satpam Hotel, mengatakan, tempat ini sudah berdiri sejak lima tahun lalu. Kalau dihitung mundur, Sun Palace berdiri sejak 2013 lalu. "Dulunya ini kan bekas rumah makan," kata satpam yang enggan disebutkan namanya.

Lantas di mana praktik Prostitusi itu dilakukan ? Menurut informasi Satpam, praktik ini terjadi di bagian SPA.

Undercover wartawan Surabaya Pagi, diawali dengan mendatangi resepsionis. Setelah bertanya ini-itu, diantar ke ruang SPA. Letaknya jauh di belakang yaitu sebelah kiri kompleks hotel.

Kamis siang kemarin, wartawan Surabaya Pagi harus menunggu beberapa menit, karena SPA baru buka pukul 12.00 WIB. Saat dikunjungi, tempat ini masih cukup sepi. Belum ada pengunjung yang datang,. Yang tampak beberapa pegawai termasuk Office boy (OB), kasir, dan beberapa terapis yang masih muda dan berpakaian seksi.



Lokasi Spa di Hotel Sun Palace, Trowulan Mojokerto milik Gus Li. Sementara suasana Spa, Kamis siang kemarin. (Foto: SP/jo/dwi)

Pengamanan ke Spa Ketat

Setelah dipersilahkan masuk, wartawan Surabaya Pagi, diminta untuk memilih paket SPA. Ada empat paket, yaitu Standar dengan tarif Ro. 325 ribu, VIP Rp. 350 ribu, VIP plus Rp. 375 ribu, dan VVIP Rp. 400 ribu.

Paket tersebut tidak ada perbedaan dalam durasi terapi, yaitu selama 90 menit. Namun jika pelanggan ingin menambah durasi pemijatan satu jam, bisa menambah duit sebanyak Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu. Tarip ini menyesuaikan berdasarkan kelas. Lantas bagaimana praktik esek-esek itu terjadi ?

Setelah memilih paket VVIP, staf Hotel Sun Palace mengajak masuk. Namun pengamanannya sangat ketat. Tas, Jaket, hingga Hand Phone harus diserahkan pada mereka untuk ditaruh di loker. Hal ini diduga untuk menghindari publikasi dan menjaga keprivasian SPA. Saat kami masuk ruang, banyak sekali fasilitas yang disediakan. Termasuk Sauna, fasilitas gym, hingga Bar.

Ternyata Bar di tempat SPA sangat luas. Bar menyediakan berbagai makanan dan minuman. Lampunya temaram. Wartawan Surabaya Pagi (SP) semakin berdegup kencang, ketika masuk sebuah ruang mirip kamar hotel, seorang perempuan berpakaian seksi menjemput dengan lemah gemulai.

Tarip Plus-plus

Perempuan itu mengenalkan diri dengan nama Astrid (27) asal Bandung. SP dipersilahkan masuk kamar SPA, dan Astrid sudah membawa beberapa perlengkapan SPA, termasuk lotion. Astrid meminta SP untuk bugil agar memudahkan pemijatan.

Perempuan berkulit putih mulus dengan baju seksi berwarna hitam itu kemudian memijat lembut. Sesekali ia juga memberikan kode dengan pijatan dan gerakan memancing di bagian sensitif. Penasaran dengan rumor yang beredar di tengah masyarakat, SP berusaha memancing Astrid untuk mengumpulkan data.

Beberapa informasi pun berhasil dikumpulkan. Pertama diawali dengan pertanyaan perbedaan perlakuaan untuk paket SPA. Dan wanita asal Bandung itu menegaskan tidak ada perbedaan perlakuan. Perbedaan tarif itu hanya pada ruang/kamar SPA. "Gak ada mas, semuanya sama. Bedanya hanya ruangnya saja. Kalau VVIP, kamarnya lebih luas, dan bisa berendam air anget di bak mandi," tutur Astrid.

Saat itu, SP mulai penasaran, dan memberikan pertanyaan lebih menjurus pada Astrid. Akhirnya ia pun buka suara. Awalnya Astrid meminta SP yang menentukan tarif “plus-plus”, namun setelah bernegosiasi, Astrid pun menyebut nominal Ro. 800 ribu sekali tarung. Meski ditawar, Astrid, tetap teguh dengan nilai Rp 800 ribu, sebagai tarip standar dari perusahaan. "Gak bisa mas, memang segitu. Udah standar disini, minimum disini," kata Astrid.



Salah satu area memasuki Spa di Sun Palace Hotel.

Service Lainnya

Setelah tak bisa ditawar, SP berusaha untuk mencari tahu servis lainnya. Ternyata di SPA ini pengunjung bisa menenetukan servis apa yang dimauinya. "Terserah pelanggan mas. Kalau ingin hand job (maaf, onani, red) Rp 350 ribu. Sementara oral (maaf, hisap alat kemaluan laki-laki, red) Rp. 400 ribu," terangnya. Namun berkali-kali Astrid berpesan agar tidak dibocorkan ke aparat.

Meski sudah melakukan undercover, SP berusaha mencari lebih jauh terkait praktik prostitusi ini. Astrid pun terbuka memberikan informasi. Dari keterangan Astrid, bisnis yang dikelola Gus Li, siang itu, memiliki sembilan terapis. Cewek ini yang menjadi bagian dari SPA Sun Palace. Empat dari Bandung, Satu dari Manado, dan sisanya dari daerah sekitar hotel, atau wilayah Mojokerto.

Menurut Astrid, semua cewek yang berdalih terapis Spa ini terlibat dalam praktek esek-esek terselubung. Perempuan yang mengaku sudah pernah berumahtangga itu menyebutkan, dirinya tinggal di mes yang disediakan Gus Li, dengan beberapa rekan lainnya. Astrid sendiri sudah dua bulan berpraktik SPA plus-plus di Sun Palace. Setelah 90 menit ditemani Astrid dalam keadaan bugil, wartawan SP pamit pulang, takut kena charge tarip tambahan.

Meski wartawan SP tak mempraktikan esek-esek, Astrid tetap meminta uang tip. Dan kemudian wartawan SP membayar tagihan penggunaan ruang dan pijat Spa sebesar Rp 415 ribu pada kasir.

Konfirmasi Gus Li

Sedangkan, sejak Kamis (5/7/2018) pagi, keberadaan Agus Liantono alias Gus Li masih belum bisa dilacak. Kamis siang kemarin, saat Surabaya Pagi hendak konfirmasi kepada Gus Li di rumah toko (ruko) di Jl Letkol Sumarjo No. 41 Mojokerto, juga tidak bisa ditemui.

Ditemui seorang wanita setengah baya, yang enggan menyebut namanya, menyebut Gus Li tidak berada di rumah yang dipakai bisnis jualan plastik. “Pak Agus gak ada ditempat. Sudah seminggu ini gak pernah pulang. Mungkin di Surabaya,” ucap wanita itu.

Sementara, saat Surabaya Pagi mencoba menghubungi di nomor 081333360608, pukul 14:18 WIB dan pukul 16:30 WIB, nomor tersebut tidak tersambung. Sedangkan, saat Surabaya Pagi mencoba mengirim pesan singkat melalui WhatsApp dan pesan SMS, hingga Kamis malam pukul 21:00 WIB, tidak ada balasan. “Selamat sore pak Agus. Saya komeng, wartawan harian Surabaya Pagi. Mau konfirmasi dan klarifikasi beberapa hal pak. 1) terkait perkara lelang yang dilakukan Central Asia Balai Lelang yg menyangkut bapak sbgi penilik jaminan debitur UD Surya Jaya Plastindo. 2) terkait dugaan bisnis hotel pak Agus yang diduga menjadi praktik seks terselubung. Mohon waktunya pak Agus. Terima kasih,” tulis pesan SMS yang dikirim pukul 18:19 WIB. jo/dwi/fir