SURABAYAPAGI.com - Pariwisata menjadi salah satu sektor penting bagi pembangunan. Namun sayangnya Indonesia masih berada di rangking 131 dari 134 negara soal pengelolaan sampah di area destinasi wisata.

Padahal menurut Staf Ahli Menteri Bidang Pariwisata Berkelanjutan, Valerina Daniel, Kementerian Pariwisata tidak hanya fokus pada bagaimana meningkatkan kunjungan wisatawan tetapi juga memperhatikan pariwisata berkelanjutan.

"Wisata bukan hanya makan, jalan-jalan saja. Pasti mereka membawa sisa-sisa seperti sampah. Jangan sampai keuntungan dari masyarakat lokal habis untuk olah sampah yang lebih besar dibandingkan kedatangan wisatawan," kata dia saat ditemui di Gedung Sapta Pesona Jakarta Pusat.

Menyikapi masalah tersebut, Kemenpar mengadopsi program pariwisata berkelanjutan dari UNWTO dan bekerja sama dengan lima kampus di Indonesia.

Kelima itu antara lain, Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Udayana, dan Universitas Mataram.

Kegiatan yang dilakukan antara lain pengelolaan limbah sampah misalnya seperti pengelolaan kotoran sapi menjadi tenaga gas. "Hal ini dilakukan supaya masyarakatnya tetap bisa melakukan pariwisata tapi tetap bisa menjaga lingkungan," ujarnya menjelaskan.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa kelima daerah yang terpilih sebagai daerah percontohan tersebut memang dinilai siap mengembangkan konsep pariwisata berkelanjutan.

"Kita menjadikan daerah ini percontohan karena mereka lebih siap. Selain itu ada keinginan dari masyarakat untuk melakukan konsep pariwisata berkelanjutan."