Analisis Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Menjelang pendaftaran capres tanggal 3 Agustus 2018 mendatang, sejumlah elite parpol (Partai Politik) pendukung Jokowi maupun Probowo, sibuk merahasiakan nama cawapresnya. Kesan yang saya serap selama berselincir dengan sejumlah parpol pendukung Jokowi-Prabowo di Jakarta, sama-sama saling mengintai. Bahkan muncul wacana capres ketiga, yang diusung Partai Demokrat, PKB dan PAN. Saya melakukan penelusuran bahwa sampai minggu yang lalu (7/07/2018) rata-rata partai politik dan koalisinya, masih wait and see. Informasi yang saya terima sampai Senin semalam, keduanya masih menunggu, melihat, mencermati dan mengintip sosok dan figur Cawapresnya. Bahkan dengan hiruk-pikuknya ujaran kebencian di media sosial, baik parpol pendukung Jokowi maupun Prabowo, terkesan tak ingin mengedepankan ketergesaan dalam mengumumkan dan memilih cawapres. Mereka seperti menyadari terburu-buru mengumumkan cawapresnya, bisa blunder. Meski demikian, sejauh ini sudah ada sejumlah nama yang dinominasikan sebagai cawapres, antara lain Gubernur DKI, Anies Baswedan, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi, mantan Gubernur Jabar Achmad Heriawan (Aher), Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar dan Gubernur Jatim Dr. Soekarwo dan Putra Ketua Umum Partai Demokrat AHY (Agus Harimurti Yudhoyono). Berikut analisis wartawan Surabaya Pagi, Dr. H. Tatang Istiawan, yang pekan lalu baru pulang dari Jakarta, menyerap informasi di sejumlah elite parpol pendukung kedua capres. Bahkan bertemu dengan relawan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Berikut analisisnya yang pertama.

Pak Jokowi Yth,

Minggu ini banyak tokoh politik dan birokrat di Indonesia yang deg-degan. Siapa yang bakal Anda pilih untuk maju dalam Pilpres 2019-2024

Ketua Umum PDIP Megawati Senin (09/07/2018) memberi isyarat bakal mengumumkan Cawapres pendamping Anda. Pengumuman ini dilakukan untuk mencari momentum tepat.

Istilah Mega yang melalui Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, seperti berbau klenis yaitu menunggu cuaca cerah, secerah ketika matahari terbit dari timur. Saya tidak tahu maksudnya.

Tapi, Hasto mengartikan, putri Bung Karno ini ingin mengintip bakal calon yang akan diusung rival Jokowi pada Pilpres 2019.

"Ya macam-macam. Bisa kita lihat dukungan dari partai lain, kan kita terus melakukan lobi-lobi. Bisa melihat untuk mengintip dulu kira-kira dari pihak sana yang dicalonkan siapa. Kemudian juga momentumnya. Karena, sekali lagi, setiap peristiwa politik harus dikalkulasi secara matang seluruh aspeknya," ungkap Hasto.

Nama yang beredar di permukaan sebulan ini adalah Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) yang juga pengurus Partai Demokrat. Sementara Pak De Karwo, Gubernur Jawa Timur yang tak kalah berprestasikan dengan TGB, lebih memilih diam.

Dua Gubernur yang sama-sama kader Partai Demokrat ini, tampaknya memiliki perbedaan kultur. TGB, kelahiran NTB, lebih terbuka berkomentar soal hiruk pikuknya politik menjelang pendaftaran capres=cawapres, 3 Agustus 2018 mendatang.

Sementara, Pak De Karwo, tidak ikut-ikutan dalam gegap gempitanya opini publik soal dikotomi nasionalis-Islam. Tampaknya suami Dra. Nina, dosen di perguruan tinggi swasta ini mengikuti kultur jawa, yaitu suka andhap asor. (rendah hati).

Dalam budaya Jawa, ada ajaran dari leluhur bahwa meski seseorang itu cerdas dan pintar agar tetap selalu bersikap rendah hati. Sikap rendah hati ini tercermin dalam aksara Jawa, ha na ca ra ka da ta sa wa la pa da ja ya nya. Abjad Jawa ini ditulis tidak di atas garis, tetapi ditulis di bawah garis.

Kesan yang saya serap selama berteman dengan Pak De Karwo, beliau acapkali merendah dengan kata yang sering diucapkan ‘’ini saya serap dari pikiran sampean.’’

Ucapan ini mengingatkan saya ketika masih SD yang diajarkan toto kromo oleh Guru bahasa Jawa saya. Guru saya menngajarkan sejak zaman dulu sifat andhap asor amat dianjurkan kepada kaum muda di kalangan piyayi khususnya kraton. Termasuk kepada para pangeran (anak raja), sentana dalem (keturunan raja), dan para abdi dalem (punggawa, pegawai kraton).

SBY, sejak masih menjabat Presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat (PD), sering disebut ‘’Pak Lurah’’. Bahkan dalam keseharian, ketika bertemu SBY, Pak De tampak menghormati seperti makna andhap asor.


Zainul Majdi, Pak De Karwo dan Ahmad Heryawan, masuk dalam cawapres Jokowi.


Pak Jokowi Yth,

Sebulan ini, nama Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi, menjadi perbincangan pro-kontra di media sosial. Maklum, beberapa bulan sebelum lebaran, telah digadang-gadang oleh kelompok Prabowo, Habib Rizqi, Amien Rais dan kawan-kawannya. Tetapi setelah lebaran, TGB balik mendukung Joko Widodo dalam pencapresan Pilpres 2019.

Menariknya, saat mendukung Jokowi, TGB mengaku belum berkomunikasi dengan Partai Demokrat (PD) tentang dukungannya ini. Ia malah menyatakan dukungan tersebut adalah sikap pribadi, bukan kapasitas sebagai Anggota Majelis Tinggi PD, seperti halnya Pak De Karwo.

Pertanyaannya apa prestasi selama memimpin Provinsi NTB selama dua periode?. Kok kini tiba-tiba namanya sering muncul di bursa capres-cawapres Partai Demokrat. Malahan TGB, diopinikan sebagai calon alternatif yang elektabilitasnya cukup lumayan dibanding politisi yang sering beriklan, seperti Prabowo, Zulkifli Hasan dan Muhaimin Iskandar.

Hal yang menjadi buah bibir adalah seama ini, TGB, telah membentuk relawan untuk memuluskan jalannya bertarung di Pilpres 2019. Beda dengan Pak De Karwo, yang selama ini memikirkan Pilkada Jatim harus aman bersama Kapolda dan Pangdam V Brawijaya.

ACI Lee Kwan Yew School of Publicity, sebuah universitas di Singapura, melakukan penelitian bahwa periode 2015-2016, t NTB memiliki tingkat daya saing yang fantastis yaitu dari peringkat 26 pada 2015 menjadi 19 pada 2016.

Dalam dua periode kepemimpinannya, TGB juga sukses mengangkat NTB dari predikat sebagai provinsi tertinggal.Artinya, periode 2014-2016, laju pertumbuhan ekonomi NTB meningkat dengan 9,9 persen. Prestasi ini membuat NTB diganjar predikat pertumbuhan ekonomi terbaik. Bahkan melampaui nasional yang hanya sebesar 4,9 persen.

Bahkan TGB juga berhasil menekan angka pengangguran di NTB hingga 3,32 persen. Prestasinya ini menempatkan NTB sebagai provinsi ke-6 dengan angka pengangguran terendah. Dengan sederet prestasi ini, TGB pernah meraih penghargaan sebagai salah satu Gubernur terbaik versi Kementerian Dalam Negeri pada 2017. Penghargaan ni berdasarkan penilaian aspek kepemimpinan, kredibilitas dan akseptabilitas dalam rangka menciptakan pemerintahan bersih

Pak Jokowi Yth,

Demikian halnya, Gubernur Provinsi Jawa Timur, Dr. Soekarwo, yang memimpin 41 juta jiwa penduduk. Selama dua periode memimpin provinsi yang multi kultural, Pak De bisa merangkul semua parpol. Baik parpol berbasis nasionalis maupun agama. Istilah para elite parpol di Jatim, Pak De ini, kader PD yang bisa menyejukan perbedaan kepentingan para elite parpol yang berbeda platform.

Dalam pergaulan saya dengan Pak De, selama ini, Doktor Ilmu Hukum lulusan Inversitas Diponegoro Semarang tahun 2004 ini lebih mewakili tokoh politik dari Islam abangan atau nasionalis yang relegius.

Dengan atribut politiknya ini, yang saya kagumi, Pak De bisa dekat dengan semua tokoh dan kelompok islam lain yang memiliki jaringan ke Timur tengah.

Bahkan perang dingin antara ketua umum Partai Demokrat SBY dengan Ketum PDIP Megawati, di pusat, bisa tidak menjalar ke Jawa Timur. Malahan Pak De Karwo, dalam kedudukan sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, bisa membangun akses sendiri ke Megawati dan jajaran elite DPP PDIP. Padahal dalam Pilkada 2008, Pakde Karwo, kepontang-panting setelah dirinya ditolak oleh partai pimpinan Megawati.

Pak Jokowi Yth,

Sebelum mendapat penghargaan Astha Brata Utama Pamong Praja, dari Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo (9/5/2018), Soekarwo, sudah menerima penghargaan Parasamya Purna Karya Nugraha selama tiga kali berturut-turut.

Penghargaan ini merupakan tanda kehormatan tertinggi di lingkup kementerian Dalam Negeri terkait prestasi Gubernur Jawa Timur dalam membangun Jawa Timur. Malahan, penghargaan Parasamya Purna Karya Nugraha selama tiga kali berturut-turut, menunjukkan bahwa pembangunan di Jatim era Pak De Karwo, telah berhasil sehingga pertumbuhan ekonomi Jatim selalu di atas rata-rata nasional.

Tak salah bila Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Gunawan Sumodiningrat menilai sosok Gubernur Dr Soekarwo, sebagau birokrat yang teknokrat sarat berpengalaman, bahkan tidak diragukan memimpin dalam skala nasional.

‘’Soekarwo itu birokrat murni dari bawah yang sukses jadi kepala daerah di Jatim, hingga dua periode. Ia sangat berpengalaman dalam hal birokrasi,” komentar Prof. Gunawan, setelah mendengarkan paparan Soekarwo dalam kuliah umum “Menghidupkan Ekonomi Kerakyatan Succes Story Jawa Timur” di Auditorium Magister Manajemen UGM, beberapa waktu lalu.

Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM ini, selain berkualitas, Soekarwo, dianggap memiliki program ekonomi yang berpihak pada rakyat.

Konsep ekonomi pro-rakyat Pak De Karwo, dinilainya tidak hanya berteori, melainkan praktik langsung di lapangan.

Praktis dibanding TGB, prestasi di pemerintahan, Pak De Karwo, lebih teruji. Soekarwo, yang pernah mendapat Dr (HC) bidang ekonomi dari Unair, adalah penyelenggara negara dari bawah. Ia pernah menjadi Kepala Dinas Pajak Daerah, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur dan Gubernur Jawa Timur dua periode. Bahkan menulis buku tentang peran abdi negara sampai masalah ekonomi.

Bahkan tahun 2018 ini menjelang akhir dua periodenya ini, Pak De Karwo, dicatat oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) mempunyai catatan prestasi bawa perekonomian Jawa Timur terbaik kedua se Indonesia, setelah DKI Jakarta.

Menurut akal sehat saya sebagai jurnalis yang pernah meliput peristiwa kriminal, hukum, olahraga, bisnis dan politik serta CEO harian Surabaya Post, latar belakang penyelenggara Negara yang teknokrat, politisi dan ahli hukum serta keuangan seperti Pak De Karwo, sangat membantu Anda dalam memecahkan masalah bangsa, terutama ekonomi dan hiruk pikuk dikotomi nasionalis - Islam. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)