Puluhan kapal yang terbakar di Pelabuhan Benoa beberapa waktu lalu

SURABAYAPAGI.com, Bali - Pengurus Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Provinsi Bali menduga 40 kapal ikan yang terbakar di Pelabuhan Benoa, Denpasar, tidak didaftarkan sebagai peserta asuransi oleh pemiliknya.

"Sepertinya 40 kapal yang terbakar ini tidak diasuransikan oleh perusahaan yang rata-rata kapal yang terbakar ini hampir semua merupakan anggota ATLI," kata Ketua II ATLI Provinsi Bali, Agus Dwi Siswantaputra, di Denpasar, Selasa (10/7).

Dahulu anggota ATLI ingin mengasuransikan kapal yang terbuat dari kayu itu, beberapa perusahaan asuransi pun datang. Namun, pihak asuransi tidak berani menindaklanjuti lantaran kapal seluruhnya terbuat dari kayu berlapis fiber.

Walaupun ada yang berani, mereka menetapkan premi tinggi untuk masing-masing kapal, sekitar 300-500% dari kapal besi. Dwi menambahkan ada juga pihak asuransi yang berani ambil dengan persyaratan jarak operasinya tidak boleh melebihi kemampuan jenis kapal. Seperti kapal longline, bisa berlayar lebih dari 60 mil.

"Jadi ini yang menjadi kendala untuk diasuransikan. Namun, rata-rata memang diakui semua kapal ATLI yang terbakar tidak diasuransikan," ujarnya.

Untuk para anak buah kapal (ABK), lanjut Dwi, wajib diasuransikan oleh anggota ATLI. Karena kalau ABK tidak diasuransi, kapal tidak bisa beroperasi.

Pihaknya belum bisa menjelaskan berapa kerugian dari kapal yang terbakar di Pelabuhan Benoa itu, karena yang mengetahui detil adalah masing-masing perusahaan pemilik kapal.

"Kami harus komunikasi dahulu di internal pengurus ATLI, karena saat ini kami belum mengomunikasikannya," pungkasnya.

Ia menyatakan prihatin dengan kebakaran kapal milik para anggota ATLI, dan menyerahkan penyelesaiannya ke pihak berwenang. Harapan Dwi, tidak ada lagi kejadian serupa, serta komunikasi antar pengguna jasa, pemilik jasa, dan otoritas operasional terjalin baik.