Hingga kini, Joko Widodo (Jokowi) menjadi calon presiden (capres) terkuat untuk bertarung di Pilpres 2019. Bahkan, berdasar survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, elektabilitas Jokowi meningkat setelah Pilkada Serentak 2018, dari 46% menjadi 49,3%. Jokowi juga satu-satunya capres yang telah memenuhi presidential threshold 20%. Sedang calon penantang Jokowi seperti Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, masih sibuk mencari parpol untuk diajak berkoalisi. Padahal, pendafataran capres-cawapres tinggal sebulan lagi. Tepatnya dibuka mulai 4-10 Agustus 2018. Kini, publik pun bertanya-tanya, siapa yang bakal menjadi lawan tangguh Jokowi di Pilpres 2019. Dari utak-atik yang dihasilkan survei, ada tiga skenario pasangan yang bisa menjadi penantang Jokowi. Selain Prabowo Subianto, ada nama mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kosgama) Pemenangan Pemilu Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Bagaimana kombinasinya dan seberapa kuat?

-------

Laporan : Tedja Sumantri – Jaka Sutrisna

-------

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengungkapkan Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan menjadi lawan tangguh bagi calon petahana Presiden Jokowi pada Pilpres 2019. Hal itu berdasarkan tiga jenis simulasi dari survei yang dilakukan LSI Denny JA terhadap 1200 responden pada periode 28 Juni-5 Juli 2018.

Dalam simulasi pertama, LSI mengombinasikan nama Prabowo dengan calon wakil presiden seperti Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono, mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) dan tokoh lainnya. "Pertama, jika Prabowo sebagai capres. Pasangan Prabowo-Gatot memperoleh dukungan tertinggi di angka 35 persen. Disusul Prabowo-Anies 19,6 persen, Prabowo-AHY sebesar 12,3 persen dan Prabowo-Aher 10,2 persen," ujar Adjie dalam rilis survei Pasangan Capres dan Cawapres Pascapilkada di kantor LSI Denny JA, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

"Dari simulasi ini, Prabowo berpasangan dengan Gatot adalah pasangan yang paling kuat untuk melawan Jokowi," lanjutnya.

Sementara kombinasi Prabowo dengan tokoh lainnya mencapai 12,4 persen. Responden yang tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 9,9 persen.

Pada simulasi kedua, LSI mengombinasikan nama Gatot dengan nama Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, Ahmad Heryawan dan tokoh lainnya. "Jika Gatot sebagai capres, yang paling ideal, paling tinggi Gatot-Anies di angka 31,8 persen, Gatot-AHY 21,5 persen, Gatot-Aher 13,3 persen. Gatot berpasangan dengan Anies adalah pasangan paling kuat untuk melawan Jokowi," papar Adjie.

Sementara kombinasi total Gatot dengan tokoh lainnya mencapai 18,7 persen. Responden yang tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 14,7 persen.

Pada simulasi terakhir, LSI mengombinasikan nama Anies dengan Agus Harimurti Yudhoyono, Ahmad Heryawan, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan tokoh lainnya. "Jika Anies sebagai capres, dari survei kita pasangan paling ideal adalah Anies-AHY. AHY adalah pasangan yang mampu mendongkrak Pak Anies di angka 33,4 persen. Disusul Anies-Aher 27,4 persen dan Anies-Cak imin (Muhaimin) 23,4 persen," kata dia.

Sementara kombinasi total Anies dengan tokoh lainnya sebesar 6,8 persen. Responden yang tak menjawab atau tidak tahu sebesar 9 persen. "Jadi Inilah lawan-lawan kuat Jokowi. Prabowo-Gatot, Gatot-Anies dan Anies-AHY," ujarnya.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling di 33 provinsi Indonesia. Adapun margin of error survei plus minus 2,9 persen. Artinya, angka survei bisa berkurang atau bertambah sebanyak 2,9 persen. Survei ini dibiayai secara mandiri oleh LSI Denny JA.

Jokowi Belum Aman

Meski mendapat dukungan banyak parpol seperti PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP, posisi Jokowi belum benar-benar aman. Pasalnya, berdasarkan survei LSI, elektabilitas Jokowi masih di bawah 50%. Ini menjadi peluang calon penantang Jokowi di 2019. Hanya saja, pasca Pilkada Serentak 27 Juni lalu, elektabilitas Jokowi naik sekitar 3%.

"Ditanyakan jika pilpres saat ini mana yang ibu atau bapak pilih, posisi Jokowi di angka 49,3 persen. Ini ada kenaikan (dibandingkan) sebulan sebelum pilkada, saat itu Pak Jokowi elektabilitas 46 persen, artinya kenaikan kurang lebih itu sampai 3 persen. Ini membuktikan bahwa ada tren kenaikan elektabilitas pasca-pilkada 2018," papar Alfaraby.

Menurut Adjie, elektabilitas Jokowi sebagai petahana belum dinilai aman karena masih di bawah 50 persen. Sedangkan, elektabilitas tokoh lainnya disebut Adjie tidak jauh berbeda dari survei sebelumnya. Namun, Adjie tidak menyebutkan spesifik terkait tokoh serta hasil survei kali ini. "Ini gabungan dari calon penantang Jokowi. Ada Prabowo, ada Anies Baswedan, ada AHY, ada Muhaimin, dan beberapa nama lain kita uji, dan hasil elektabilitas kita kumpulkan Mei itu 44,7 persen," ucap Adjie.

Selain itu, Adjie juga menyebutkan hasil survei tentang tren #2019GantiPresiden yang disebutnya makin populer. Tren itu menurutnya harus menjadi catatan penting untuk Jokowi. "Kita melihat kampanye #2019GantiPresiden makin populer dan makin disukai maayarakat, Pamor #2019GantiPresiden ini cenderung naik kalau dibandingkan dua survei LSI di bulan Mei 2018 saat itu popularitas #2019GantiPresiden di angka 50,80% namun saat ini udah ada di angka 54,40%," ungkap Adjie.

5 Cawapres Jokowi

LSI bentukan Denny JA juga meriset tingkat elektabilitas nama-nama yang masuk bursa cawapres Jokowi dari empat kategori. Dari kategori partai, Airlangga Hartarto (Ketum Golkar) menempati rangking pertama dengan angka 35,7%. Disusul Muhaimin Iskandar (Ketum PKB) 21,5%; Romahurmuziy (Ketum PPP) 16,0%; Gabungan Tokoh Lain 18,5%; dan yang menjawab Tidak Tahu atau Tidak Menjawab sebesar 8,3%.

Dari kategori profesional, Menteri Keuangan Sri Mulyani menempati urutan pertama dengan angka 32,5%. Di bawahnya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (24,5%); dan pengusaha nasional Chairul Tanjung (17,0%).

Dari kategori aparat hukum, Polri dan TNI, nama Kapolri Tito Karnavian memiliki elektabilitas paling tinggi dengan 32,6%. Disusul mantan Panglima TNI yang kini menjabat Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (29,0%), dan Menko Polhukam Wiranto (25,7%).

Dari kalangan tokoh agama, Ketua MUI KH Ma’rif Amin dengan 21,0%. Selanjutnya, tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin (17,2%), Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (12,3%), dan mantan Ketua MK Mahfud MD (9,5%).

Hasil expert judgement, cawapres Jokowi mengerucut ke lima nama yaitu Airlangga Hartarto, Mahfud MD, Tito Karnavian, Moeldoko dan Sri Mulyani. Expert judgement melibatkan para ahli yang mewakili Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur.

Koalisi Oposisi tak Jelas

Sementara itu, Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menyatakan koalisi partainya dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) masih belum secara gamblang memberi dukungan kepada Prabowo Subianto untuk Pilpres 2019. Kendati demikian ia mengakui sejauh ini baru Gerindra yang resmi mengusung Prabowo. "Yang baru memberikan dukungan atas pencalonan Pak Prabowo kan baru Gerindra. PKS dan PAN belum. Kita masih terus membicarakan tentang wakil presiden," ujar Muzani.

Soal pembahasan cawapres untuk Prabowo, Muzani mengklaim masih terbuka banyak kemungkinan. Selain ada nama AHY yang didorong oleh Demokrat, ia masih terus bertukar informasi dengan PAN dan PKS.

Cawapres Jokowi agar kuat di parlemen (kategori partai politik):

1. Airlangga Hartarto (Ketum Golkar) 35,7 persen

2. Muhaimin Iskandar (Ketum PKB) 21,5 persen

3. Romahurmuzy (Ketum PPP) 16,0 persen

4. Lainnya 22, 7 persen

5. Tidak tahu/tidak jawab 17,3 persen

Cawapres Jokowi agar kuat di hukum:

1. Kapolri Jenderal Tito Karnavian 32,6 persen

2. Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Moeldoko 29,04 persen

3. Menko Polhukam Wiranto 25,7 persen

4. Lainnya 7,1persen

5. Tidak tahu/tidak jawab 5,6 persen

(dhn/dhn)