SURABAYAPAGI.com, CHIANG RAI - Penyelamatan 12 anak tim sepak bola junior Thailand dan seorang pelatihnya dari gua telah menjadi pemberitaan media di seluruh dunia. Insiden terjebak di gua yang kebanjiran selama lebih dari dua minggu dan evakuasi secara dramatis itu telah memikat produsen Hollywood untuk diangkat menjadi film.

Evakuasi 13 orang tim sepak bola oleh para penyelam itu berakhir sukses pada Selasa (10/7/2018). Penyelamatan berlangsung beberapa tahap dan telah menewaskan seorang mantan Navy SEAL Thailand.

Mereka terjebak di gua Tham Luang Nang Non yang kebanjiran sejak 23 Juni. Awalnya, mereka sedang berwisata, namun tiba-tiba gua tersebut dilanda banjir besar. Mereka bertahan hidup di atas gundukan tanah di gua yang kedalamannya mencapai sekitar empat kilometer.

Kisah ini mengingatkan pada penyelamatan 33 penambang Chili yang terperangkap di bawah tanah selama 69 hari pada tahun 2010. Insiden itu kemudian diangkat menjadi film "The 33" pada tahun 2015 yang dibintangi Antonio Banderas.

Mike Medavoy, produser film "The 33" yang masuk nominasi Oscar, mengatakan insiden di Chili dan Thailand memiliki kesamaan. Yakni, sama-sama menampilkan keberanian dalam menghadapi situasi yang mengerikan. Menurutnya, insiden di gua Tham Luang Nang Non itu bisa diangkat menjadi film atau serial televisi.

Produser dari Pure Flix, sebuah studio yang mengkhususkan diri dalam film Kristen dan keluarga, sudah berada di lokasi evakuasi gua Tham Luang Nang Non. Mengutip laporan AAP, Rabu (11/7/2018), dia telah melakukan wawancara awal untuk materi yang berpotensi dijadikan film.

"Saya melihat ini sebagai film Hollywood besar dengan bintang-bintang daftar A," kata managing partner Pure Flix, Michael Scott kepada AAP. Pure Flix belum menanggapi permintaan untuk berkomentar.




Tim penyelamat telah berpacu dengan waktu dan hujan dalam upaya penyelamatan 12 anak dan pelatih tim sepak bola tersebut. Setiap proses evakuasi dengan berbekal tabung oksigen yang banyak itu telah mewarnai ketegangan.

"Ini adalah kombinasi dari bahaya besar dan kepahlawanan besar," kata agen sastra Judi Farkas, yang mewakili penulis Antonio Mendez untuk penjualan hak film dari bukunya "Argo" untuk film Ben Affleck yang memenangkan Oscar.

Namun, untuk mengangkat insiden di Thailand ke layar lebar itu menghadapi beberapa rintangan.

Pertama, pembuat film harus mengamankan hak dari masing-masing keluarga anak laki-laki, pelatih, dan penyelamat yang ingin mereka gambarkan untuk mendapatkan keterangan pertama dari mereka tentang apa yang terjadi. Kedua, mereplikasi penyelamatan pada layar lebar bisa menelan biaya yang mahal.

Film "The 33" yang mengambil gambar di Kolombia dan Chili memakan biaya produksi sekitar USD24 juta. Menurut Medayov, biaya pembuatan film tentang penyelamatan di Thailand bisa lebih murah. Namun, para pembuat film akan memiliki tantangan tambahan saat penyelamatan berlangsung di dalam air keruh.

"Adegan air dan penyelaman akan mahal," kata Farkas. "Setiap kali Anda memfilmkan air, harganya mahal."
Penyelamatan di Thailand juga dapat menarik minat dari jaringan televisi. Hingga saat ini belum jelas siapa yang akan menjadi pahlawan jika kejadian itu diangkat dalam film atau serial televisi.

"Jelas anak-anak adalah inti dari cerita ini," kata Farkas. "Kami belum tahu siapa yang memimpin upaya penyelamatan. Kami tidak memiliki cukup detail dari cerita itu untuk mengetahui sudut pandang siapa yang akan menceritakannya."