Ronny Suwono, Direktur Utama PT KJS, salah satu perusahaan di Sipoa Grup.

Sudah Jadi Tersangka TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) dalam Skandal Sipoa, masih juga Belum Ditahan. Sementara Tiga Owner Sipoa lainnya, sudah Duluan Huni Rutan Polda Jatim. Sejumlah Karyawan Sipoa Heran. Padahal Pdt Ronny, dengan PT KJS, satu-satunya Penghimpun dan Pengelola Uang Kastemer Sipoa Terbesar diluar SIP .



SURABAYA PAGI, Surabaya – Pdt Ronny Suwono dan Aris Birawa, sudah ditetapkan jadi tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU). Ia tersangka satu-satunya pemilik Sipoa yang belum ditahan. Luar biasa kekuatan Pdt Ronny Suwono. Tersangka lain yang disangkutkan dalam kasus TPPU adalah Sugiarto Tanojohardjo dan Harisman Susanto, yang adalah karyawan biasa yang dipacaki direksi. Sementara pemilik Sipoa lainnya yaitu Budi Santoso, Klemens Sukarno Candra dan Aris Birawa, sudah lebih dulu menikmati sel di rumah tahanan Polda Jatim.

Padahal Pdt Ronny Suwono, melalui PT KJS (Kurnia Jedine Sejahtera) menghimpun mayoritas dana kastemer di Surabaya dan Bali. Sementara Budi Santoso, Klemens dan Aris Birawa, adalah pemakai dana yang dikelola dan dikumpulkan Pdt Ronny. Pengumpul dana lain adalah Sugiarto Tanojohardjo dan Harisman Susanto, yang dibukakan oleh Budi Santoso, sebuah perseroan bernama PT Sipoa Investama Propetindo (SIP). Sugik, sapaan Sugiarto dan Harisman, disewakan oleh Budi, Ruko (Rumah Toko) dekat Rumah Makan Cianjur dan Holland Bakery, di Raya Jemursari Surabaya. Dalam dua tahun, Pdt Ronny memiliki dua rumah mewah di Darmo Hill dan Graha Famili Surabaya.

Sejumlah karyawan/ti Sipoa Grup yang dihubungi Surabaya Pagi, sejak Kamis pagi hingga siang kemarin kecewa dengan perlakuan terhadap Pdt. Ronny, yang tidak ditahan. Ada yang menilai, Ronny diistimewakan. ‘’Biar adil, Ronny ditahan sekalian bareng Aris, Budi dan Klemens. Merekalah pucuk pimpinan Sipoa,” kata karyawati Sipoa, Kamis (2/08/2018) kemarin.


Tanah, Mobil dan Sertifikat

Sementara Kasubdit Hardabangtah Direskrimum Polda Jawa Timur AKBP Ruruh Wicaksono, yang ditemui Surabaya Pagi, secara terpisah Kamis (2/8/2018) kemarin menjelaskan, hingga kini, laporan TPPU masih 6 tersangka yang sudah ditetapkan. Tiga tersangka lainnya sudah ditahan.

“Kita masih terus melakukan penyidikan dan pemberkasan secara marathon. Karena proses ini, perlu penyidikan yang jeli dan cermat. Setidaknya sudah 50 persen,” beber Ruruh, kepada Surabaya Pagi.

Pemberkasan yang masih 50 persen, kata Ruruh, karena banyaknya asset dan lokasi yang perlu didalami, yaitu tidak hanya di Surabaya. “Ini karena banyaknya asset Sipoa yang mencar dimana-mana. Jadi kita perlu telusuri satu-satu. Ada yang di Surabaya, Sidoarjo dan Bali. Kita juga masih mendalami di tempat lain,” jelas Ruruh.

Dijelaskan oleh AKBP Ruru, setelah terkumpul lengkap, pemberkasan akan dipecah satu per satu perbuatan masing-masing tersangka dan temuan-temuan lapangan. Hal ini, untuk mempermudah pengelompokkan sejumlah asset, baik yang sudah disita dan yang belum.



Para direksi Sipoa yang sudah ditetapkan menjadi tersangka oleh Polda Jatim.



Rumah Galaxy Bumi Permai

Aset yang sudah disita, selain tanah dan bangunan di lokasi proyek pembangunan apartemen Royal Afatar World (RAW), juga sejumlah tanah di Tambakoso dan Gunung Anyar serta beberapa kendaraan bermotor milik Direksi dan sejumlah sertifikat tanah.

“Untuk TPPU lumayan banyak yang sudah kami sita. Cuma yang di Bali saja, yang masih terkendala. Pihak PN Bali menolak permintaan penyitaan kami. Jadi kami masih berkoordinasi dengan Polda Bali,” jelas pria dengan pangkat dua melati di pundak ini.

Termasuk beberapa rumah pribadi milik para bos Sipoa yang sudah disita, diantaranya di Galaxi Bumi Permai. “Rumah pribadi milik tersangka, di Galaxy situ (Galaxy Bumi Permai, red), ada lima tempat, sudah kami sita untuk penyidikan,” bebernya.

Rumah pribadi yang dimaksud Ruruh, diantaranya milik Aris Birawa, yang dimintakan oleh Juliana, diserahkan padanya dalam gugatan perceraian di PN Surabaya. Alhamdulillah, Majelis Hakimnya masih belum terpengaruh, sehingga dalam putusan sidang gugatan cerai, soal permintaan Juliana, untuk menghaki empat rumahnya, tidak dikabulkan oleh Pengadilan.


Istri Tersangka Diperiksa

Perwira menengah ini menegaskan bla blsa, tetap akan membidik dan memeriksa para istri tersangka untuk laporan TPPU. “Memang sampai saat ini, keterlibatan istri tersangka belum ada. Kita masih minta keterangan sejauh mana suami mereka melakukan kegiatan di Sipoa,” kata Ruruh.

Sedangkan, untuk penelusuran rekening istri, anak dan keluarga, yang diduga terkait dengan TPPU, Polda Jatim sedang berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Diantara empat istri pemilik Sipoa, yang paling aktif adalah istri Budi Santoso.

Hingga kini, Subdit Hardabangtah Dirreskrimum Polda Jatim, sudah menerima 20 laporan dari para korban Sipoa grup, dengan sangkaan penipuan, penggelapan dan TPPU. Dari 20 laporan tersebut, mayoritas terlapornya yakni Budi Santoso dan Klemens Sukarno Candra. Selain ada yang melaporkan Ronny Suwono, Direktur PT Kurnia Jedine Sejahtera, salah satu perusahaan di bawah lingkup Sipoa. Dari 20 laporan baru itu, kini masih dalam penyelidikan.

  • Sementara, trio Sipoa, Budi, Aris dan Klemens, selama penyidikan di Polda Jatim, didampingi empat kuasa hukum, yang silih berganti menemani selama proses penyidikan. “Yang selama ini ada, 4 kuasa hukum yaitu Sabron, Franky, Arifin dan George. Mereka hanya kuasa di penyidikan,” tambahnya. nt/bd/rmc