Meme Jokowi-Ma’ruf Amin sudah bersebar di berbagai media sosial, Kamis (9/9/2018) sore

SURABAYA PAGI, Surabaya – Dipilihnya KH. Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden (Cawapres), diprediksi bakal memudahkan Joko Widodo (Jokowi) untuk memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sosok Ma’ruf Amin yang kini menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Am Pengurus Besar Nahdhatul (PBNU), tak hanya memiliki basis massa yang kuat. Tapi ulama jebolan Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang itu, juga dinilai sosok yang bisa menghadapi kelompok 212. Posisi Jokowi juga aman dari konflik, lantaran keberadaan Ma’ruf Amin bisa diterima semua parpol pendukungnya. Baik PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP maupun PKB. Dengan duet Jokowi-Ma’ruf Amin, maka kekuatan Prabowo Subianto akan berat jika berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Demikian kesimpulan dari pakar politik di Surabaya, setelah mencermati dinamika politik menjelang pendaftaran capres-cawapres yang berakhir Jumat (10/8/2018) hari ini. Pakar politik yang dihubungi Surabaya Pagi, Kamis (9/8) malam itu Suko Widodo (Universitas Airlangga), Abdul Chalik (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel) dan Yayan Sakti Suryandaru (Universitas Airlangga) dan Hari Fitrianto (Universitas Airlangga).

Menurut Abdul Chalik, digandengnya Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi maka kubu penantang Jokowi harus menyiapkan Cawapres yang kuat. Sebab Ma’ruf Amin merupakan reperesentasi umat Islam Indonesia. Jika Prabowo menggandeng Sandiaga Uno, Wagub DKI Jakarta, maka Pilpres 2019 akan diminangkan Jokowi.

"Kubu Pak Prabowo harus memikirkan ulang apakah Sandi ini mampu menggaet kelompok muslim kanan dan kelompok muslim kiri. Karena tidak mudah mengimbangi Kyai Ma’ruf karena dia Ketua MUI yang membawahi puluhan ormas Islam. Juga dekat dengan kelompok (muslim) kanan," ungkap Chalik.

Ia tak yakin Prabowo akan berduet dengan AHY, mengingat keduanya sama-sama dari militer. Di sisi lain, Sandiaga Uno secara politik tidak memiliki basis massa yang kuat, karena berasal dari pengusaha yang kemudian menjadi bagian dari Partai Gerindra. "Harusnya bukan Sandi, tapi Anies Baswedan," ucap dosen Ilmu politik dan Tata Negara Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Mediasi Kelompok 212

Hal senada disampaikan Hari Fitrianto, dosen Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menurutnya, KH Ma’ruf Amin dipilih Jokowi karena memiliki kantong suara besar yang tersebar di Banten dan Jawa Barat. Selain itu Ma’ruf Amin juga tokoh yang bisa diterima oleh semua golongan. Termasuk parpol pendukung Jokowi.

"Karena dia (Ma’ruf Amin) tumbuh dan besar dari rahim Nahdlatul Ulama. Kakeknya juga ulama besar dari Banten. Kedua, nama Makruf Amin relatif diterima di kalangan kelompok 212, terlebih dia juga sebagai dewan penasehat 212. Saya kira Ma’ruf Amin dibutuhkan Jokowi untuk mediasi kelompok 212 itu dan sedikit mencuri afiliasi politik yang kemarin itu," ungkapnya.

Ia memprediksi pertarungan Jokowi-Makruf Amin dengan Prabowo-Sandiaga Uno tidak seimbang. Justeru Jokowi-Makruf Amin akan menang mudah di Pilpres 2019 nanti. Sebab Sandiaga Uno tidak memiliki basis masa yang jelas kuat. "Saya kira akan timpang ya, kita tahu Sandi itu pengusaha muda yang aktif di Gerindra yang seolah-olah hanya pertarungan satu partai saja. Berbeda dengan AHY, Sandi tidak memiliki gerbong politik seperti AHY. Sedang AHY setidaknya memiliki kekuatan di struktur Partai Demokrat," imbuhnya lagi.

Soal Mahfud MD

Hari menjelaskan tidak dipilihnya Mahfud MD karena dianggap tidak memiliki kekuatan di akar rumput NU. Terlebih lagi belakangan ini seperti ada konflik dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin). "Pak Mahfud MD bukan tipe NU yang kuat di akar rumput. Kalau di kalangan intelektual anak muda NU, dia mendapatkan penghormatan. Di luar itu Pak Mahfud MD ini HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)," terang Hari/

Yayan Sakti Suryandaru, pengamat Unair lainnya menambahkan nama Makruf Amin lebih bersih dari Mahfud MD. Karena selama ini Makruf Amin tidak terlalu banyak menyampaikan statementnya di publik. Berbeda dengan Mahfud MD yang sering muncul di publik. "Pak Ma’ruf Amin lebih diterima di kalangan umat Islam di Indonesia, dibandingkan dengan Mahfud MD. Kalau Mahfud itu kan kadang pernyataanya menimbulkan polemik, kalau Ma’ruf ini kan nggak terlalu sering muncul," ucapnya



Diprediksi Menang

Lebih berani Yayan sesumbar kalau Jokowi melawan siapapun pasti akan menang. Karena menurutnya masyarakat melihat Prabowo jenuh yang seolah ambisius untuk meraih jabatan. " Jokowi sendirian pun menang tanpa harus menimbang terlalu pusing siapa cawapresnya. Kalau Prabowo kan orang mungkin jenuh dengan ambisinya," tutur Yayan.

Begitupun dengan pakar komunikasi politik Suko Widodo. Ia mengungkapkan perseteruan dengan Muhaimin membuat Mahfud MD gagal digandeng Jokowi. Maka dengan mengambil alternatif Makruf Amin yang ditunjuk untuk menengahi NU dan PKB. "Itu jalan tengah karena PKB menolak Pak Mahfud MD karena Mahfud MD dianggap Gus Dur," ujarnya.

Mahfud MD diperkirakan akan bisa meraup kantong suara di Jatim, namun itu saja tidak cukup. Jokowi dengan menggandeng Makruf Amin ingin merangkul semua kalangan Islam di Indonesia. "Mungkin (Mahfud MD) di Jawa Timur akan bagus suaranya, tapi di luar itu tidak tahu. Sedang Makfur Amin lebih diterima semua kalangan. Termasuk untuk mengakomodasi suara kelompok Islam 212. Pertimbangannya itu," pungkasnya. qin/ali