Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan senior)

Pak Prabowo Yth,
Anda bersyukur, kini memiliki sejumlah ulama yang terang-terangan mendukung pencapresan Anda.
Ulama-ulama ini terdiri GNPF Ulama dan Persaudaraan alumni 212 bela Islam.
Kekuatan Anda dengan kalangan ulama, tidak main-main. Ternyata, saat Ijtima Ulama pertama maupun Ijtima Ulama kedua, keputusannya mendukung Anda dan Sandiaga Uno, maju dalam Pilpres 2019. Anda didukung melawan capres Jokowi yang berpasangan dengan KH Ma’ruf Amin.
Tapi ada yang bikin gempar kalangan politisi. Apa itu? Presidium Aksi Bela Islam, Kapitra Ampera, yang saat aksi bela Islam melawan Ahok, menjadi salah satu pengacara Habib Rizieq Shihab, malah mengungkapkan kekecewaannya, karena Aksi Bela Islam dulu berjuang untuk membela agama. Tapi sekarang, berbalik menjadi gerakan politik.
Lho? apakah pernyataan Kapitra ini bisa dipertanggungjawabkan? Anda bisa mengambil sikap, meski menunjuk tim lawyer atau tim sukses.
Bagi publik di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo yang saya serap, bila ada ulama yang mengklaim bela Islam dan kini terjun ke politik praktis, makna bela Islam, bisa bias. Maklum pendukung Jokowi, baik kader partai politik pendukungnya, relawan dan simpatisannya, ada yang muslim.
Kapitra, malah mempertanyakan aktivis pembela Islam kok ada di partai oposisi?
Padahal, kata Kapitra, aktivis GNPF Ulama dan Persaudaraan alumni 212, maunya bela Islam dengan ikhlas sekaligus mendukung perjuangan umat Islam, bukan menunggangi. Lho kok sekarang Kapitra, balik menyoroti. Ada apa? Benarkah antara Kapitra, seorang doktor ilmu hukum, kini tidak hanya berbeda dengan ulama-ulama yang ada dibelakang Anda. Tapi ada kecenderungan berlawanan atau bermusuhan.
Malahan Kapitra, juga menanyakan partai politik yang selama ini mendukung aksi Bela Islam, tapi kini maju mencalonkan diri berebut kedudukan presiden.
Demikian juga M Khilafah Alam salah satu Inisiator aksi Bela Islam 212.
M Khilafah mengakui, saat ini nama aksi bela Islam 212 kerap kali digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang sifatnya politis. Dan itu dilakukan oleh segelintir oknum yang mengatas namakan umat.
Padahal hal ini sangat bertentangan dengan semangat awal aksi 212 yang mengusung, semangat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
M Khilafah Alam, memberi contoh gerakan alumni 212 digunakan untuk dukung-mendukung calon Gubernur Sumsel.
Karenanya, M Khilafah, mendesak kelompok yang dengan sengaja mengklaim dan mempolitisasi umat Islam untuk mendukung salah satu Paslon kandidat gubernur di Sumsel, segera meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam di Sumatera Selatan.

Pak Prabowo Yth.
Minggu ini saya mencatat, Ketua GNPF Ulama Ustaz Yusuf Muhammad Martak, memastikan Ijtimak Ulama II digelar bukan untuk menentukan arah dukungan ulama pada Pilpres 2019. Selain itu, kata Martak, Ijtimak Ulama II digelar untuk membahas peranan ulama dalam mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Disamping itu Ijtimak Ulama kedua diadakan terkait semangat pergantian presiden. Siapa lagi yang dimaksudkan bila bukan Jokowi.
Database harian Surabaya Pagi, mencatat selama ini, Jokowi selalu menyempatkan berkunjung ke Pondok-pondok pesantren.
Jokowi, pernah berkunjung ke Pesantren Mamba’us Sholihin di Gresik. Dalam pertemuan itu, Jokowi yang masih menjabat Presiden. menggelar pertemuan tertutup dengan pengasuh ponpes, KH Masbuhin Faqih. Jokowi berkomunikasi sangat akrab dengan KH Masbuhin Faqih. Bahkan Jokowi, menggandeng tangan KH Masbuhin Faqih saat berjalan dan melakukan foto bersama.
Juga dengan Habib M Luthfi Bin Yahya, salah satu ulama besar di pulau Jawa.
Bahkan saat bertemu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Maimun Zubair, Jokowi menggandeng akrab. Pertemuan dengan KH Maimun, saat ada acara zikir kebangsaan dan peresmian pembukaan Rapat Kerja Nasional I Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur.
Maka itu, Ketua MUI yang juga Rais Am PBNU, KH Ma’ruf Amin, sebelum diumumkan menjadi bakal cawapres Jokowi, sudah blak-blakan.
Ma’ruf mengatakan Indonesia beruntung memiliki Presiden Joko Widodo . Sebab, kata dia, Jokowi mau bersilaturahmi dan mendengarkan keinginan para kiai, ulama, dan santri.
Ma’ruf Amin mencontohkan, permintaan umat Islam agar pembangunan ekonomi umat dilakukan dari bawah, diwujudkan Jokowi dengan membentuk Bank Wakaf Mikro (BWM), Koperasi Mitra Santri Nasional, dan Lembaga Ekonomi Umat (LEU) Mart.
Malahan Jokowi, juga menerima Tim 11 Ulama Alumni 212. Dalam pertemuan tertutup di Bogor, Ulama Amuni 212 meminta Jokowi selaku kepala negara untuk mengeluarkan kebijakan menghentikan kasus-kasus yang menjerat ulama dan aktivis 212.

Pak Prabowo Yth,
Sebagai jurnalis saya membaca secara riil pemilih yang ada di masyarakat pada tahun 2019 ini banyak simpul yang bisa mendukung Anda maupun Jokowi.
Pemilih riil selain ada ulama, ada parpol, ada caleg. kelompok profesional, purnawirawan TNI Polri, mahasiswa dan tokoh tokoh informal leader, selain relawan.
Dan ini bisa dilakukan berdasarkan kerjasama dan sinergi. Artinya, Anda sebaiknya jangan sampai tidak rukun dengan para ulama Alumni 212 dan GNPF Ulama. Syukur Anda bisa merangkul ulama- ulama non GNPF-U dan Alumni 212. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)