Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Pak Jokowi Yth,
Dua hari lagi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menetapkan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Pilpres 2019.
Penetapan itu, berbarengan dengan penetapan calon legislatif (caleg) anggota DPR, DPRD, dan DPD.
Terhitung 20 September hingga 16 November 2018, dibuka agenda penyelesaian sengketa penetapan pencalonan anggota DPR, DPD, dan DPRD serta pencalonan presiden dan wakil presiden
Dan, masa kampanye pemilu baru akan berlangsung mulai 23 September 2018 sampai 13 April 2019. Berarti dimulainya kampanye tinggal lima hari.
Sedihnya, minggu lalu ada seorang ustadz memviral ceramahnya di media sosial. Ustadz ini menyerang KH Ma’ruf Amin, Tuan Guru Bajang (TGB), hingga Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Ustadz ini diketahui bernama Yahya Waloni. Pria ini baru empat tahun menjadi mualaf. Dalam pidatonya yang berdurasi sekitar 10 menit diposting dalam akun YouTube ’Cahaya Tauhid’, tampak Yahya berdiri diatas mimbar. Dan Video yang diposting pada 11 September itu hingga kemarin sudah dilihat lebih 100 ribu orang.
Dalam video itu tampak Yahya tengah berceramah di depan mimbar. Tidak diketahui lokasi ceramahnya, kotanya maupun waktunya. Namun dalam ceramahnya, Yahya menyerang Ma’ruf Amin yang merupakan cawapres Joko Widodo dengan sebutan Kyai uzur dan akan mati.
Yahya juga menyerang, TGB yang kini telah menyatakan dukungannya untuk Jokowi. Pria berwajah tambun ini mempelesetkan nama TGB dengan ’Tuan Guru Bajingan’. Disamping itu, Yahya juga mendoakan Megawati, Presiden RI ke-5 ini cepat mati.
Selain diposting di YouTube, petikan video ceramah Yahya Waloni juga direpost dalam akun Facebook ’Humor Politik’. Video tersebut sudah ditonton sebanyak 180 ribu kali dan dibagikan hampir 3 ribu orang.


Pak Jokowi Yth,
Jujur, saya heran dengan ceramah Yahya Waloni, yang menyerang tokoh agama, pejabat Gubernur dan Ketua Umum Parai Politik papan atas. Akal sehat saya mengatakan, tidak percaya, Yahya Waloni, seorang ustad, ulama atau pemuka agama.
Minimal, menurut akal sehat saya, kesan saya, Yahya tak mengerti tugas ulama, ustadz atau pemuka agama Islam dengan utuh dan benar.
Bisa juga Yahya, bukan ulama yang sebenarnya, tapi mualaf yang diseting sebagai ulama oleh sekelompok politik yang tidak suka dengan Anda.
Akal sehat saya berbisik untuk mendalami ilmu agama Islam, tidak cukup waktu empat tahun. Apalagi, ia berangkat dari seorang mualaf.
Dalam Islam, Mualaf adalah sebutan bagi orang non-muslim yang mempunyai harapan masuk agama Islam atau orang yang baru masuk Islam. Pada Surah At-Taubah Ayat 60. disebutkan bahwa para mualaf termasuk orang-orang yang berhak menerima zakat.
Guru ngaji saya mengajarkan bahwa ulama biasanya bisa berdakwah secara umum terkait agama. Mengingat, isi dan materi dakwah harus membawa esensi kebaikan dari ajaran Islam. Maklum, dakwah adalah amanat, maka ulama wajib bertanggung-jawab atas amanat yang diserap dari
Al-Quran.
Dan ini hukumnya wajib. Bahkan menyampaika. teks ayat Al-Quran. Dan bukan kandungan isinya, apalagi hukum-hukum di dalamnya. Sebab urusan kandungan dan hukum-hukumnya, mayoritas ulama tidak mau mengarang sendiri semau kita. Ulama harus merujuk kepada para ulama yang memang ahli di bidangnya.
Nah, Yahya, tak menyebutkan dasar hukum menghujat sesama manusia, apalagi dengan ulama.
Dalam durasi ceramahnya, Yahya
tidak melakukan pengutipan
Pengutipan teks ayat Al-Quran. Mengingat, mengutip teks ayat Al Quran, ada syaratnya, yaitu harus tanpa kesalahan atau kekeliruan dalam pengutipan. Mengingat Al-Quran itu adalah wahyu dan kalamullah. Bila salah kutip, dia malah berdosa gara-gara salah kutip, salah tulis dan salah ejaan

Pak Jokowi Yth,
Melacak keberadaan Yahya Waloni, menjadi tugas aparat kepolisian.
Polri berwenang melacak, dimana posisi Yahya Waloni, kini berada. Mengingat, Polri memiliki Direktorat tindak pidana siber.
Direktorat ini telah bersinergi dengan Badan Siber Nasional dibawah koordinasi Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan.
Saya masih ingat, pembentukan Direktorat Siber Polri ini telah disetujui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).
Harapannya Direktorat dibawah Bareskrim Polri untuk dapat mencegah kejahatan- kejahatan yang dapat memecah belah NKRI berkembang dengan bebas. Termasuk penyalahgunaan media sosial. Sekaligus untuk menjawab fenomena kejahatan internasional melalui medsos.
Direktorat ini pernah menangkap seorang pria berinisial AA (34) yang diduga melakukan ujaran kebencian lewat media sosial yang ditujukan kepada Presiden Jokowi dan tokoh Muhammadiyah Syafii Ma’arif.
Bahkan beberapa kali Satgas Patroli Medsos Dittipidsiber Bareskrim Polri ini melakukan penangkapan terhadap pelaku penyebaran hate speech berupa penghinaan dan pencemaran nama baik kepada Presiden Jokowi dan ulama Buya Syafii.
Disamping itu, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pernah menangkap pemilik akun Twitter @ibhaskiss atas nama Ibhas Kiswotomo. Ibhas ditangkap atas dugaan menyebar ujaran kebencian. Melalui akun Twitter dan Facebooknya, Ibhas menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau kelompok tertentu. Selain itu, konten yang dia bagikan di media sosial juga mengandung unsur diskriminasi suku, agama, ras, dan antargolongan ( SARA).
Dengan track record yang dimiliki, saya optimistis, Polri bisa menangkap Yahya Waloni.

Pak Jokowi Yth.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah pernah menjelaskan, “Allah Ta’ala melarang dari perbuatan sikhriyyah terhadap manusia, yaitu sikap merendahkan orang lain dan menghina mereka. Hal ini sebagaimana terdapat pula dalam hadits Nabi. Rasulullah bersabda, ‘Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain’, maksudnya adalah menghina dan menganggap orang lain lebih rendah, dan ini adalah perbuatan haram. Boleh jadi orang yang dihina lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dan lebih Allah cintai.
Oleh karena itu Allah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim)
Dan Syaikh As Sa’di rahimahullah juga menjelaskan: “Padahal boleh jadi pihak yang dicela itu justru lebih baik daripada pihak yang mencela. Bahkan inilah realita yang sering terjadi. Mencela hanyalah dilakukan oleh orang yang hatinya penuh dengan akhlak yang tercela dan hina serta kosong dari akhlak mulia.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Muslim) “ (Taisiir Al Kariimi Ar Rahman).
Berdasarkan hadits hadits sahih ini, setiap manusia tidak mengetahui hakekat seseorang. Boleh jadi orang yang dicela oleh Yahya Waloni, lebih mulia di sisi Allah dan boleh jadi KH Ma’ruf, TGB dan Megawati, lebih banyak amal kebaikannya, boleh jadi dia lebih bertakwa.
Subhanalloh.
Dan saya masih ingat, Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak muliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan mengetahui hak-hak orang alim.
Dengan pijakan ini, bisa jadi Yahya Waloni, bukan umat Rasullah. Masya Alloh. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)