Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

‘’Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]


Pak Jokowi-Pak Prabowo Yth,

Judul diatas, saya temukan Rabu malam lalu, saat saya nonton sebuah TV swasta. Saya tertegun memperhatikan mimik Profesor dari UGM Jogjakarta, usai diperiksa penyidik Polda Metro Jaya. Sore itu, muka Amien Rais, tidak tegang seperti saat ia belum diperiksa penyidik.

Sebelum memasuki ruang penyidikan, Amien Rais memulai pernyataannya dengan mengutip pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto yang menyebut pemanggilan Amien berdasarkan keterangan Ratna.

Amien, menganggap panggilannya sangat janggal. Mengingat, surat panggilan untuknya dibuat 2 Oktober berdasarkan keterangan Sarumpaet. Padahal Sarumpaet ditangkap tanggal 4 Oktober.

Tokoh reformasi ini menilai, pemanggilan terhadap dirinya sebagai upaya kriminalisasi. Malahan Amien Rais menyoroti kejanggalan penulisan namanya pada pemanggilan dirinya, bernama ’Amien Rais’. Padahal namanya sesuai KTP adalah ’Mochammad Amien Rais’. Amien Rais mencurigai penyidik Polda Metro Jaya, alergi dengan nama ’Mochammad’.

Tetapi berbalik 100 %, ketika Amien Rais menyudahi pemeriksaan pukul 16.05 WIB. Selama kurun waktu 6 jam di ruang Direktorat Reserse Umum Polda Metro Jaya, Amien mengaku tidak hanya diperiksa, tetapi juga diselingi makan, salat, hingga berbincang santai dengan penyidik.

Wajah dan intonasi bicara Amien Rais berbeda usai diperiksa sebagai saksi kasus hoax Ratna Sarumpaet. Amien Rais bahkan menyebut dirinya merasa dimuliakan penyidik. "Saudara-saudara, saya merasa dihormati, dimuliakan oleh para penyidik. Jadi betul-betul suasananya akrab penuh tawa, penuh canda’’

Menurut Amien, waktu lamanya 6 jam, sesungguhnya yang separuh untuk makan dan salat dan ngobrol ke sana-kemari. Makanya, Amien mengakui pertanyaan dari penyidik sangat jelas dan tidak berbelit-belit. Bahkan Amien Rais menegaskan, selama diperiksa tidak ada pertanyaan jebakan dari penyidik. Total ada 30 pertanyaan yang diajukan penyidik kepada Amien. Ketua Dewan Pembina PAN ini malah mengucapkan terima kasih kepada penyidik.

Perubahan drastis antara saat akan diperiksa dengan setelah diperiksa, ada muatan Su’udzon dari Amien Rais terhadap Polri. Usai keterangan pers setelah disidik, saya menilai Amien Rais, kecele.

Pak Jokowi-Pak Prabowo Yth,

Dalam ayat Al-Hujurat: 12, dinyatakan “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain”

Menurut saya, ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

Amirul Mukminin Umar bin Khathab juga pernah berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin, kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti berkata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.133) bahwa Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Artinya, orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya. Dan ia tidak mau membuat saudaranya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Penulis Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr, Edisi Indonesia Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah, Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penerbit : Titian Hidayah Ilahi Bandung, Cetakan Pertama Januari 2004]

Menurut guru ngaji saya, lingkungan yang kejam, kotor, dan tidak sehat, seringkali memberi pengaruh kuat bagi lahirnya kebiasaan buruk sangka. Bahkan, dalam budaya orang-orang ‘primitif’, buruk sangka seringkali menjadi acuan utama kehidupan sosial mereka.

Pak Jokowi-Pak Prabowo Yth,

Amien Rais, meski pernah menjadi Ketua MPR, ia adalah manusia biasa. Ini penilaian akal sehat. Justru kalau ada orang yang mengatakan Amien Rais, tak bisa disentuh oleh hukum, orang ini pasti tidak menggunakan akal sehat. Mengingat, Amien Rais, bukan nabi yang tak bisa dijangkau oleh Polri.

Maklum, manusia itu Makhluk hidup yang tidak luput dari Kesalahan sehingga sudah tentu sangat sering melakukan Buruk Sangka.

Guru ngaji saya pernah mengatakan bahwa ada tiga macam Suudzon yakni Suudzon Kepada Allah SWT, Suudzon Kepada Orang Lain dan Suudzon Kepada Diri Sendiri.

Amien Rais, sebelum ketemu penyidik sudah menduga bermacam-macam. Termasuk minta Kapolri dicopot. Tapi setelah diperiksa penyidik, Amien Rais, justru merasakan ada penghormatan. Orang Jogja bilang, kali ini Amien Rais kecele atau tertipu atau disappointed dan feel cheated.

Dalam literatur Islam, pengertian Suudzon adalah salah satu Sifat Buruk (Sifat Tercela) dengan mencari – cari kesalahan orang lain. Bahasa yang lebih sederhana orang yang Suudzon sama dengan Buruk Sangka.

Apalagi Sifat Buruk Sangka (Suudzon) ini dikeluarkan dari Hati Seorang Muslim. Hasilnya bisa berdampak Buruk dan berdampak Negatif.

Amien Rais, yang juga tokoh Islam, insha Allah tahu Larangan Berburuk Sangka yang diajarkan Nabi Muhammad SAW . Larangan Nabi berbunyi : ”Jauhilah Sifat Berprasangka karena sifat berprasangka itu sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kalian mencari kesalahan, memata – matai, janganlah kalian berdengki – dengkian, janganlah kalian belakang – membelakangi dan janganlah kalian benci – membenci.” Sama dengan zina, umat Islam diwajibkan menjauhi zina.

Pak Jokowi-Pak Prabowo Yth,

Dalam kasus Amien Rais ini, siang kemarin saya coba menguji akal sehat saya. Saya berpendapat secara personal sifat buruk sangka itu dapat membuat seseorang menjadi curiga terhadap orang lain, dan dapat membuat dirinya tidak nyaman apabila bersama dengan orang lain. Contoh Amien Rais.

Akibat dari buruk sangkanya, Amien Rais, dari pernyataan-pernyataannya telah menimbulkan pikiran negatif pada diri Kapolri dan jajarannya. Mengingat soal dirinya yang dipanggil sebagai saksi tersangka Ratna Sarumpaet, berjanji akan membongkar kasus-kasus dugaan korupsi di KPK yang mandeg. Nyatanya sampai semalam, janji Amien Rais tak pernah dipenuhi.

Mencermati pernyataan Amien Rais selama ini, menurut akal sehat saya tak ubahnya orang yang memiliki rasa curiga dan was-was.

Guru ngaji saya menilai, Suudzon adalah sebuah penyakit hati. Dan dampak yang ditimbulkan dari berburuk sangka ini ialah, saling memfitnah satu sama lain atau saling menyalahkan satu sama lain. Kasus kebohongan Ratna Sarumpeat adalah contoh.

Padahal, orang muslim yang taat tau bahaya dari fitnah itu sendiri.

Maka itu, saya nilai apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus kebohongan Ratna Sarumpaet, Anda Capres Prabowo, memberi komentar “luka di wajah” Ratna, hanya kata dia dan kata dia. Perkataan semacam ini orang Jogja menganggap, orang yang sedang menggunjing.

Saran saya politisi lain, bisa belajar hati-hati dalam menilai seseorang. Contoh, kasus Ratna, pengakuan yang tidak sama dengan kenyataannya. Padahal, Ratna ini aktivis pemberani sejak Orde Baru. Bisa jadi pidato, komentar dan pendapat yang disampaikan tak sesuai fakta (kebohongan).

Sampai saya menulis surat terbuka ini terngiang-ngiang penjelasan guru ngaji saya bahwa suudzon adalah orang yang bodoh.

Saya khawatir, bila orang suka su’ udzon mengambil suatu kebijakan di pemerintahan, bukan tidak mungkin dapat menyengsarakan rakyat, tetapi slogannya menyatakan “demi kepentingan rakyat”.

Benarkah politisi yang suka su’ udzon menganut prinsip machivelian yaitu “menghalalkan segala cara” demi meraih tujuan politik. Subhanalloh.

Padahal dari sudut pandang fungsi politisi, politisi adalah orang yang membicarakan pengelolaan kekuasaan untuk kepentingan mensejahterakan rakyat. Namun teori ini dalam kasus Ratna, bertolak belakang .

Akal sehat saya mengatakan dengan kejadian kasus kebohongan Ratna Sarumpeat, saya tak percaya Amien Rais itu seorang negarawan yang ahli dalam menjalankan negara dan pemerintahan.(tatangistiawan@gmail.com, bersambung)