Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,

Anda berdua insha Allah tahu bahwa untuk masuk menjadi pemeluk agama Islam cukup membaca dua kalimat syahadat (syahadatain). Namun untuk mencapai tingkatan mukmin, harus melalui jalan panjang dan mendaki. Khususnya sampai pada derajat iman.

Anda berdua insha Allah ingin juga meraih presikat mukmin. Pada derajat mukmin, akal sehat saya mempercayai Anda tidak akan setuju kalau agama hanya digunakan untuk kepentingan politik. Apalagi kepentingan jangka pendek yaitu memenangkan Pilpres 2019.

Pada tanggal 29 September 2019 lalu, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, mengajak seluruh kader NU dan elemen bangsa yang ingin bergabung ke PKB. Ini karena PKB bisa dimasuki atau didukung seluruh elemen bangsa.

"Semoga yang nyoblos PKB didoakan husnul khotimah. Bareng sama kiai-kiai di Surga. Sing salate nggak pepek (salat tidak lengkap lima waktu), sungkan nyoblos PKB, ojok khawatir, karena sudah didoakan husnul khotimah," kata Cak Imin, panggilan Muhaimin Iskandar, dalam Konsolidasi Kader PKB se-Jatim di DBL Arena Surabaya, Sabtu (29/9/2018).

Hadir antara lain, KH Anwar Mansur, KH Anwar Iskandar (Gus War), KH Zainuddin Jazuli dan KH Abdus Salam Mujib.

Jumat usai Sholat Jumatan (11/10/2019) kemarin, saya ikut dalam pertemuan di sebuah gedung dekat Masjid di Jemursari Surabaya. Beberapa orang membahas pernyataan Cak Imin, yang untuk urusan coblos mencoblos, sampai berani mengatakan, orang yang sholatnya bolong-bolong alias gak jangkep, didoakan husnul khotimah.

Adaa peserta pertemuan yang bertanya, siapa yang mendoakan? Peserta lain menyuruh bertanya ke Cak Imin.

Akhirnya, ada kader NU kultural yang menyatakan dirinya menolak politisasi agama seperti yang disampaikan Ketua Umum PKB, Muhaimin. Penolakan politisasi agama dianggap wujud dari upaya memuliakan agama.

Saya setuju penolakan politisasi agama. Cara seperti yang disampaikan Cak Imin, dikhawatirkan bisa mencegah kemungkinan publik tidak percaya lagi pada agama Islam.

Berbeda dengan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin. Kyai yang kini telah menjadi Cawapres Anda Jokowi, mengatakan bahwa tidak ada antara agama dan politik dalam Islam.


KH a’ruf menganggap masalah politisasi agama merupakan respons atas kekurangtepatan pemahaman beberapa pihak terhadap hakekat agama dan politik serta hubungan keduanya.

Penegasan KH Ma’ruf ini disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI di Pondok Pesantren Al-Falah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (07/05/2018)

Kyai asal Banten ini, mengingatkan, dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dan politik, sehingga kurang tepat jika ada pihak-pihak yang menginginkan adanya pemisahan yang tegas di antara keduanya.

Menurut KH Ma’ruf, Islam juga mewajibkan adanya keadaban dan kesopansantunan (al-akhlak al-karimah) dalam setiap proses politik. Jadi adalah tidak tepat pula menjadikan agama sebagai kedok untuk membungkus kepentingan politik tanpa mengindahkan ketentuan agama.


Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,

Sebagai pemeluk Islam, saya sejak muda sudah diajarkan bahwa sholat merupakan ibadah yang paling membedakan pemeluk agama ini dengan agama lain. Kata sholat secara bahasa berarti do’a. Dan secara istilah, sholat adalah ibadah yang terdiri dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan syarat tertentu, dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam.

Sudah sejak SMP, diajarkan oleh guru agama bahwa hukum melaksanakan shalat lima waktu adalah wajib atau fardu `ain. Artinya, sesuatu yang diharuskan dan yang mengikat kepada setiap individu seorang muslim yang telah dewasa, berakal sehat, baligh (mukallaf).

Apabila salat wajib ini ditinggalkan. maka orang yang meninggalkannya mendapat dosa dari Allah SWT.

Sejarah yang saya pahami, perintah sholat berawal dari perjalanan Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan sebutan Isra Mi’raj.

Dalam buku Sejarah Ibadah yang ditulis oleh Syahruddin El Fikri, dikisahkan bahwa sholat Subuh pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Adam AS selepas diturunkan ke bumi.

Saat itu, pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah kegelapan, karena dimungkinkan manusia pertama yang turun pertama kali menjejak bumi pada malam hari. Ketika fajar telah nampak, nabi pertama itu melakukan sholat dua rakaat. Sedangkan, Nabi Ibrahim AS merupakan orang pertama yang melakukan Sholat Zuhur. Saat itu, Nabi Ibrahim, telah mendapat seruan untuk menggantikan posisi putranya Ismail dengan seekor kibas untuk disembelih, bertepatan dengan posisi matahari di atas kepala. Maka sebagai bentuk syukur, ayah Nabi Ismail ini melakukan sujud sebanyak 4 rakaat.

Sementara pelaksanaan Sholat Asar pertama kali adalah sebagai bentuk syukur Nabi Yunus. Saat itu, Nabi Yunus, telah keluar dari perut ikan paus yang telah menelannya. Ikan tersebut memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai ketika waktu Asar tiba.

Lalu, Nabi Isa AS dibebaskan oleh Allah dari kejahilan kaumnya ketika matahari telah terbenam. Maka sebagai bentuk syukurnya Nabi Isa, yang oleh pemeluk Kristen disebut Yesus, beribadah tiga rakaat dan ini menjadikannya orang pertama yang melaksanakan Sholat Magrib.

Dan Nabi Musa AS adalah orang pertama yang mengerjakan Sholat Isya. Pelaksanaan sholat ini didasari atas bebasnya ia dari perasaan dukacita ketika tersesat ingin keluar dari negeri Madyan.

Perasaan yang menyebabkan tak nyaman itu diluluhkan-Nya pada waktu Isya akhir. Lalu bersembahyanglah Nabi Musa sebanyak 4 rakaat sebagai tanda syukurnya.
baik guru agama maupun guru ngaji privat saya, selalu wanti-wanti, agar saya jangan sampai meninggalkan sholat bila memang tidak berhalangan. Mengingat, siapa saja yang meninggalkan salah satu dari lima sholat wajib bila dia berdalih atau berkeyakinan bahwa sholat tidak wajib, maka pantaslah ia dinilai kafir. Nah, bagaimana Cak Imin, apakah Anda masih mendoakan muslim yang sholatnya tidak jangkep (lengkap), husnul Kotimah?

Cak Imin, perlu membaca ayat Al-Nisa: 103 yang mengatakan:
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.’’

Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Nabi saw. bersabda, “Antara kekufuran dan keimanan adalah meninggalkan sholat’. Cak Imin, apakah Anda sudah melupakan hadits ini?.


Pak Jokowi-Pak Prabowo Yth,

Saya pernah membaca sebuah hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Ahmad. Hadits ini menunjukkan tentang husnul khotimah pada seorang hamba, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan membuatnya beramal.”

Para sahabat bertanya; “Bagaimana membuatnya beramal?” beliau menjawab: “Allah akan memberikan taufiq padanya untuk melaksanakan amal shalih sebelum dia meninggal.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Makanya, orang yang meninggal dunia yang disebut mati dalam keadaan khusnul khotimah memiliki tanda-tanda. Diantara tanda-tanda itu ada yang hanya diketahui oleh orang yang akan meninggal, namun ada pula tanda-tanda itu bisa diketahui oleh semua orang.

Dan tanda yang hanya diketahui oleh seseorang yang hendak meninggal adalah adanya ‘bisyarah’ atau kabar gembira dari Allah bahwa dia telah mendapat keridhaan Allah dan berhak mendapat kemuliaan dari-Nya sebagai bentuk keutamaan yang diberikan Allah kepadanya.

Guru ngaji saya menyebut ada beberapa husnul khotimah yang dirinci oleh para ulama berdasar dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Diantaranya, seseorang yang mengucap kalimat ‘Laa ilaaha illallah‘, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam; “Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallooh’ maka dia akan masuk Surga.” (HR. Abu Dawud).

“Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang meninggal karena penyakit tha’un, sakit perut, tenggelam, orang yang kejatuhan (bangunan atau tebing) dan meninggal di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

Kemudian, husmul khotimah adalah orang yang meninggal dalam suatu urusan di jalan Allah (Sabilillah) . Seperti seseorang yang meninggal dalam perjalanan dakwah atau meninggal sewaktu mengajar ilmu agama atau ketika melakukan amal kebajikan kepada sesama yang diniatkan ikhlas karena Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari diatas. Fisabilillah adalah berjuang di jalan Allah juga dalam pengertian luas sesuai dengan yang ditetapkan oleh para ulama.

Guru agama saya tidak percaya dan tidak yakin, ada orang sholatnya bolong-bolong bisa husnul khatimah.

Usai sholat magrib, di ruangan pertemuan tadi, saya bertanya dalam hati, mengapa agama sangat mudah dijadikan alat politik pada Pilpres 2019 ini. Mengapa tokoh NU sekelas Cak Imin, bermain-main menggambarkan orang sholat tidak lengkap didoakan husnul khotimal.

Akal sehat saya berbisik, pernyataan Cak Imin ini bisa karena semangat emosional agar PKB banyak yasng mencoblos, baik dalam Pilpres maupun Pileg.

Saya menduga pernyataan Cak Imin ini merupakan unsur memperkokoh dukungan rakyat kepada PKB, partai yang dipimpinnya.

Maka itu, saya juga heran, Cak Imin tidak mempertimbangkan bahwa salah satu unsur terpenting dalam agama adalah keimanan yang dalam bahasa teknisnya merupakan keterlibatan emosi dalam membangun keyakinan pada sesuatu yang gaib dan yang maha kuasa.

Persoalannya, perintah sholat 5x waktu dalam sehari untuk muslim ini apa masih diyakini oleh Ketua Umum PKB sebagai pembeda dengan agama-agama lain, termasuk agama samawi.

Akal sehat saya mengatakan, bisa terjadi ucapan Cak Imin ini dipengaruhi unsur emosi. Artinya dengn sentuhan emosi, sholat tak jangkep bisa husnul khotimah, kemungkinan besar bisa membawa dalam satu arus (emosi) yang sama.

Maka, politisasi agama menjadi gerakan politik yang kadang dianggap punya efektivitas memp-engaruhi pemilih.

Bisa jadi, persoalan dalam Pilpres 2019 kali ini, yang menjadi masalah sebenarnya bukan pada aspek penyaluran aspirasi politik rakyat ke PKB dan Capres yang didukung PKB?, tapi bisa jadi agama digunakan Cak Imin, sebagai sarana kampanye untuk meraih kekuasaan.

Bila anggapan ini benar, bisa menjadi potensi pemecah belah umat Islam yang saat ini belum atau tidak terkonsentrasi pada capres-cawapres yang didukung Cak Imin. Apa begitu Cak Imin? (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)