Sosialisasi gemar makan ikan bersama santri di Pondok Pesantren Al Ma’un Mukhamadiyah di Jl AH. Nasution, Kota Pasuruan, Minggu (04/11/2018).foto : SP/Kadir Zaelani.

SURABAYAPAGI.com, Pasuruan - Di Provinsi Jawa Timur, masyarakatnya boleh dibilang sangat kurang mengkonsumsi ikan, yaitu hanya 9 - 16 kg per kapita. Sedangkan untuk nasional, rata-rata masyarakat Indonesia mengkonsumsi 40 kg ikan per kapita. Padahal, masyarakat Indonesia harus mengkonsumsi ikan 50 kg per kapita.

"Kalau melihat data dan fakta seperti ini, sosialisasi gemar makan ikan harus terus disampaikan pada masyarakat Indonesia. Terutama di Jawa Timur, Seperti yang saya lakukan di SPEAM sekarang ini, " ujarnya datang menghadiri sosialisasi gemar makan ikan bersama santri di Pondok Pesantren Al Ma’un Mukhamadiyah atau lebih populer dengan sebutan Sekolah Pesantren Entrepreneur Al Ma’arif (SPEAM) di Jl AH. Nasution, Kota Pasuruan, Minggu (04/11/2018).

Kata Bu Susi, Menteri nyentrik ini, produksi ikan nasional mengalami kenaikan cukup signifikan. Kenaikan terjadi sejak UU No 36 tahun 2009, tentang ilegal fishing, yang menghalalkan pemusnahan kapal pencuri ikan. Saat ini (2018) produksi ikan Indonesia 13 juta ton. Artinya, naik satu strip dari produksi tahun lalu, yaitu 12 juta ton.

Tahun depan, diharapkan terus meningkat. Ini bisa terjadi kalau cara para nelayan menangkap ikan di laut dengan cara yang lebih arif. Tidak menggunakan bom, jaring trowl dan jaring cantrang.

"Jangan gunakan alat tangkap yang justru merusak ekosiatem laut. Gunakanlah cara yang bijak dan arif demi masa sepan anak cucu kita," papar Susi Pudjiastuti. Dalam acara makan ikan bareng ini, Ibu Susi menyumbang 1200 kg ikan segar.

Drs. Abu Natsir, Pembina dan Pengurus SPEAM yang juga sebagai Ketua Pengurus Daerah Muhamadiyah (PDM) Kota Pasuruan, mengucapkan terima kasih atas kedatangan Bu Menteri serta bantuan 1200 kg ikannya.

"Saya ucapkan terima kasih pada Ibu Susi yang sudi hadir dan memberi bantuan 1200 kg ikan. Dan kami berharap agar Ibu Susi juga bisa membantu kami mambangun laboratorium bahasa atau perpustakaan," harap H. Natsir. dir



foto : SP/Kadir Zaelani.