Proyek pembangunan gorong-gorongan yang mangkrak di Jalan Lontar, Sambikerep, Surabaya, Rabu (7/11). SP/JIMMI

Laporan : Jemmi Purwodianto, Noviyanti Tri, Alqomar

SURABAYA PAGI, Surabaya – Hujan disertai angin kencang yang merobohkan gedung olah raga (GOR) di Surabaya barat dan menewaskan seorang warga, diprediksi masih akan berlanjut. Bahkan, banjir masih jadi acaman bagi warga kota Surabaya. Pasalnya, proyek penanggulangan banjir seperti perbaikan saluran air maupun box culvert, belum sepenuhnya selesei. Malah ada yang mangkrak. Sementara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem akan terjadi di Surabaya pada November 2018 ini. Mulai hujan disertai angin puting beliung hingga hujan es.

------

Proyek pembangunan gorong-gorong yang masih belum tuntas itu, seperti terlihat di sepanjang Jalan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya barat, Rabu (7/11/2018). Pantauan Surabaya Pagi di lapangan, proyek ini seperti ditinggal oleh para pekerjanya. Banyak besi yang belum dicor yang menyebabkan kecelakaan kendaraan roda 2 akibat tergelincir dan terperosok. Sedang satu Bego terparkir hampir ke tengah jalan membuat kemacetan panjang.

Informasi yang didapat di lapangan, warga sepanjang Jalan Lontar yang terdampak pembangunan gorong-gorong mengeluh akan pembangunan yang sudah mangkrak hampir dua minggu. Selain takut akan meluapnya air ke jalanan saat turun hujan, warga juga khawatir akan berdampak pada perekonomian akibat pembangunan yang tak kunjung selesai.

Nia Yesi, warga Lontar, Rt 4 RW 2 mengatakan sudah hampir 2 minggu tidak ada aktivitas yang terlihat dalam pengerjaan gorong-gorong tersebut. Nia menilai, Pemkot Surabaya kurang serius dalam melakukan pembangunan tersebut. Selain menggangu karena debu, Nia khawatir jika nantinya turun hujan akan menyebabkan banjir hingga masuk ke dalam usaha laundry miliknya.

"Sangat mengganggu mas, debunya bikin pakaian yang sudah kami cuci jadi kotor lagi, kan ngefek sama usaha saya. Belum lagi ini sudah masuk musim hujan, nanti pasti banjir kalau kayak gini," kata Nia saat ditemui Surabaya Pagi.

Senada dengan Nia, Iqbal salah satu pegawai toko gorden mengatakan proyek tersebut tak kunjung selesai dan terkesan lamban. Sekarang malah mandeg. Ia takut akan berdampak pada perekonomian pedagang di sepanjang Jalan Lontar. Sebab, Iqbal sendiri merasakan jika penjualan gorden di tokonya menurun hingga 60 persen dari sebelum ada pembangunan gorong-gorong.

"Takutnya para pelanggan nanti cari tempat lain mas kalau jalannya tak kunjung selesai, gara-gara pembangunan itu. Selain itu banyak pengendara yang jatuh terpelosok karena ada sebagian yang belum dicor dan hanya ada besinya saja," cerita Iqbal.

Tak hanya itu, Widianto, warga Lontar RT3 RW 2 salah sstu penjaga warkop mengatakan ia mengetahui berhentinya proyek tersebut dikarenakan para pekerjanya banyak yang pulang kampung. Namun, ia tak tahu pasti penyebab mandegnya proyek tersebut. "Mandornya kan sering ngopi di sini mas. Waktu itu dia (mandor,red) bilang kalau anak buahnya pada pulang, ndak tau mas kenapa. Belum dibayar atau apa saya ndak tau pasti. Tapi sejak dari situ ndak ada pekerjaan sama sekali. Warga terpaksa menutupi bekas galian sendiri. Bahkan ada yang mengecor sendiri," tutur Widianto.

Hal sama dikatakan Mira, pengusaha cuci mobil Wozy Wozy. Banyaknya debu dan kemacetan akibat dari pembangunan gorong-gorong, membuatnya harus membuka kedai mie ayam di depan tempat pencucian mobil miliknya. Mira mengatakan, setiap harinya sebelum ada pembangunan gorong-gorong tersebut, ia mendapat pelanggan setiap harinya 25 sampai 30 pelanggan.

"Namun, ini sehari hanya 3 mobil yang datang mas, takutnya mereka pindah ke tempat lain, kan saya bisa rugi. Kalau rugi, karyawan saya manti bisa PHK, malah banyak pengangguran nanti," kata Mira.

Mira dan warga lainnya sangat kecewa akan kinerja PT Calvary yang melakukan pekerjaan dari Pemkot Surabaya tersebut. Sebab, pada awal sebelum pembangunan, ia mendapat pemberitahuan akan ada pekerjaan selama 2 bulan. "Namun nyatanya sampek 3 bulan lebih. Ini mangkrak hampir 2 minggu. Saya harap Pemkot cari kotraktor yang tepat, jangan belum selesai ditinggal mangkrak gini mas," ungkap Mira.

Terpisah, Hasikh, Staf Kasi Pembangunan Kecamatan Sambikerep tak membantah jika pembangunan proyek tersebut berhenti. Hal ini dikarenakan bahan bangunannya yang belum ada atau masih proses. "Secara pasti saya kurang tau, kalau dari keterangan Kasi Keluarhan katanya RCPnya belum ada. Seminggu lagi dikerjakan kembali," kata Hasikh.

Kebiasaan Pemkot

Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Vinsensius Awey, menyesalkan mangraknya proyek saluran air atau gorong-gorong yang belum selesei. Padahal saat ini mulai memasuki musim hujan. Menurutnya, proyek saluran belum tuntas di akhir tahun menjadi kebiasaan Pemkot Surabaya. Akibatnya, pengerjaan proyek akan kewalahan apabila dilakukan saat musim hujan. “Setiap tahun seperti itu, menjelang akhir tahun banyak pembangunan saluran air,” ungkap Awey.

Politisi Nasdem ini mengaku proyek yang dikerjakan di akhir tahun kebanyakan berkaitan dengan saluran tersier yang ada di kawasan pemukiman. Pasalnya, tak memungkinkan waktunya jika mengerjakan saluran primer maupun sekunder.

“Kalau (saluran primer-sekunder) masuk pelelangan agak berat, banyak kontraktor yang gak berani,” katanya.

Pengerjaan saluran primer-sekunder, lanjut Awey, biasanya dilakukan pada semester satu hingga dua di bulan April-Mei. Kenapa banyak pengerjaan saluran tersier di akhir tahun? Awey mengungkapkan bahwa di akhir tahun, pengerjaan saluran tersier bisa dilakukan dengan cara penunjukan langsung (PL), karena nilainya tak lebih dari Rp200 juta.

Namun persoalannya, banyak pekerjaan yang dikerjakan dengan cara seperti itu yang justru menimbulkan masalah baru. “Banyak saluran tersier yang tak terkoneksi dengan saluran lainnya. Dengan nilai Rp200 juta pengerjaannya mungkin hanya beberapa meter saja,” paparnya.

Proyek Banjir Rp 400 Juta

Akibatnya, bakal terjadi banjir karena saluran tidak terkoneksi. Awey juga menyebut dana APBD yang dikelola Dinas PU Bina Marga dan Pematusan lebih dari Rp1 Triliun. Dari jumlah itu sekitar Rp400 juta diperuntukkan penanggulangan banjir. “Setiap tahun kisarannya sebesar itu, kalau melebihi kemungkinan khawatir tak terserap,” katanya.

Untuk mengantisipasi banjir, Awey meminta Dinas PUBMP memprioritaskan penanganan banjir pada daerah yang rawan. Bila perlu, alokasi dana banjir difokukan pada pembebasan banjir di daerah tersebut. Jadi, pemanfaatannya tak perlu disamaratakan. “Mungkin ada daerah tertentu terjadi genangan, tapi tak berpotensi banjir. Jadi penanganan difokuskan ke daerah yang banjir,” jelasnya.

Upaya lain yang harus dilakukan DPUBMP adalah dengan memperhatikan kondisi pompa air. DPUBMP perlu melakukan revitalisasi atau pemeliharaan pompa sebelum musim hujan. “Khawatirnya setelah memasuki musim hujan, banyak pompa yang rusak,” ungkapnya.

Kemudian, melakukan normalisasi saluran. Sedimentasi di saluran air seringkali menjadi penyebab terjadinya banjir. Untuk itu, anggota komisi C ini mengharapkan, DPUBMP intens melakukan pengerukan saluran. Antisipasi banjir lainnya menurut Awey yakni dengan memperbanyak bosem. “Keberadaan bosem mini di daerah rawan banjir diperlukan guna menahan air,” terang Awey yang pada Pemilu 2019 bakal maju sebagai caleg DPR RI dari Nasdem.

Prakiraan BMKG

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda menjelaskan saat ini wilayah kota Surabaya telah memasuki awal musim hujan atau disebut November dasar kedua. Artinya November pada tanggal 10-20 di sebagian besar wilayah Surabaya telah memasuki awal musim penghujan.

Taufiq Hermawan, prakirawan BMKG Juanda sekaligus Kepala Seksi Data dan Informasi, menjelaskan biasanya ketika masuk awal musim hujan terjadi adanya masa peralihan yang disebut masa pancaroba. Fenomena yang terjadi pada pancaroba diawali oleh terbentuknya awan Cumulonimbus (CB), yang memicu peluang cuaca ekstrim.

Menurut Taufik, awan CB dapat memacu angin kencang, hujan es, petir, angin kencang sesaat hingga angin puting beliung. Untuk itu, Taufik menghimbau agar dapat mengantisipasi terjadinya korban jiwa pada awal musim penghujan ini. “Masyarakat bisa update informasi dari BMKG agar dapat memantau perkembangan prediksi cuaca untuk 2 jam ke depan, wilayah mana yang berpotensi terjadi cuaca ekstrim,” pungkasnya. n