Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior Harian Surabaya Pagi)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Anda Capres Jokowi, saat ini masih menjadi pejabat publik. Baik sebagai presiden maupun kepala Negara. Jadi cara melakukan komunikasi politik antara Anda Capres Jokowi dengan Anda Capres Prabowo, mesti berbeda. Mengingat, Capres Prabowo, bukan pejabat publik.

Sebagai Capres yang masih menjadi pejabat publik, Anda Jokowi mesti mengerti etika pejabat publik yang sudah tertuang dalam Ketetapan (TAP) MPR tahun 2001. Dalam TAP MPR ini dijelaskan etika pejabat publik adalah etika yang selaras dengan visi dan misi Indonesia masa depan.

Jadi dalam melakukan komunikasi politik, seorang pejabat publik harus bersifat jujur, adil, dan tidak munafik. Nah, apakah pernyataan Anda yang belakangan ini mengundang kegaduhan di masyarakat pantas disampaikan capres yang masih menyandang pejabat publik?

Saya menyoroti komunikasi politik Anda Capres Jokowi, karena komunikasi bukan hanya sekedar komunikator, pesan, dan media. Namun ada efek yang ditimbulkan dari pernyataan Anda.

Apalagi bagi lulusan ilmu komunikasi, ada pemahaman bahwa dalam komunikasi ada faktor noise (gangguan) sehingga pada akhirnya itu menjadi menjadi bola liar atau publik opini.

Bola liar ini kemudian bisa menjadi menyesatkan
Sebagai pejabat publik, saat Anda Capres Jokowi melemparkan pernyataan sontoloyo dan politik genderuwo, apakah telah disadari bahwa dirinya harus memiliki kesadaran etis.

Menurut akal sehat saya, kesadaran etis ini yang menjadi pokok permasalahan. Artinya sebagai pejabat publik, Anda masih memiliki kesadaran etis bahwa Anda sekarang sedang menjabat sebuah amanat publik yang amat mulia yang harus dia emban, dan dia harus jelas untuk hidup sesuai dengan peranan sebagai capres yang masih menjabat presiden sekaligus kepala Negara Republik Indonesia.

Akal sehat saya bertanya, saat Anda melempar pernyataan sontoloyo dan politik genderuwo, Anda sedang galau dengan sorotan, sindiran dan kritik Anda Capres Prabowo bersama Sandiaga, Cawapres Prabowo.

Apakah saat mengeluarkan pernyataan itu, Anda Capres Jokowi, masih menomor sekiankan kepentingan-kepentingan lain yang bukan kepentingan publik?. Termasuk kemungkinan mengorbankan etiket (sopan santun), kompetensi, dan integritas.

Akal sehat mengatakan, kalau pejabat publik sudah kompeten tapi tidak berintegritas, ujungnya bisa tidak akan menghasilkan apa yang dituntut dari seorang pejabat publik.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Anda Capres Jokowi adalah asli orang Jawa. Tetapi bukan orang jawa yang berdarah biru. Dalam biografi Anda, sejak masa kanak-kanak Anda dekat dengan lingkungan sungai. Bahkan sering mandi di Kali Anyar di Gilingan, Solo.

Di sungai ini Anda mengaku juga tuut memancing, dan mencari telur bebek di pinggir kali.

Menurut Bandi, teman Anda, mandi beramai-ramai di Kali Anyar, kala itu digemari oleh anak-anak yang tinggal di pinggir kali, termasuk Anda.

Kisah Bandi, lokasi Kali Anyar hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah orangtua Anda, Noto Mihardjo (almarhum). Saat itu, air Kali Anyar waktu itu masih jernih dan bersih, berbeda dengan sekarang yang banyak sampah dan tercemar limbah rumah tangga dan lainnya.

Saya mencuplik kehidupan Anda di Solo sejak masa kanak-kanak, terkait dengan kepemimpinan Jawa, yang berasal dari lingkungan keraton Surakarta dan Jogjakarta.

Sejarah mengajarkan, terdapat sejumlah mitos yang melingkupi kepemimpinan Jawa. Mitos ini berupa keyakinan pimpinan jawamemiliki hubungan dengan kekuatan gaib Kangjeng Ratu Kidul.

Legitimasi mitos ini sering diperingati dengan aneka ritual. Artinya, setiap pimpinan di Jawa, hampir selalu berhubungan mistis dengan kekuatan di luar dirinya. Maklum, mitos selalu menjadi tumpuan gaib para pemimpin Jawa, agar legitimasinya lebih terpercaya.

Nah, sepanjang Anda memimpin empat tahun lebih sebagai Presiden sekaligus Kepala Negara, saya tidak pernah mengetahui (membaca) Anda melakukan ritual-ritual seperti presiden Soeharto, presiden kedua.

Bahkan saat menikahkan putri Anda Kahiyang Ayu dengan pria bermarga Nasution yaitu Bobby Nasution, upacara ritual dikombinasi modern. Misal pagar ayu menggunakan Polwan, Kowad, Kowal dan Kowau yang berpakaian adat se Nusantara.

Padahal, adat jawa darah biru, rtual-ritual dan upacara termasuk pernikahan harus sakral dan penting dalam budaya Jawa, mengikuti upacara dan ritual sejak zaman kerajaan Mataram.

Akal sehat saya bisa menerima, karena Anda bisa dianggap tidak termasuk keluarga Mangkunegaran. Dalam tradisi kepemimpinan jawa, orang cenderung menonjolkan figur kepemimpinan daripada sistem kepemimpinan.

Gambaran ini sering ditampakkan dalam gelar raja Jawa yang menggenggam semua aspek pemerintahan dari sosial dan pemerintahan. Antara lain mengenai ungkapan berbudi bawa leksana, bau dendha nyakrawati, amirul mukminin kalifatullah sayidin panatagama. Artinya kira-kira, pemimpin jawa itu pemurah laksana angin, yang menghukum dan menyempurnakan, pimpinan orang mukmin, wakil Allah di bumi, pimpinan yang mengatur agama.

Jadi, kepemimpinan Jawa juga bersifat metafisis, yakni selalu dikaitkan dengan hal-hal metafisik seperti wahyu, pulung, derajat, keturunan (nunggak semi), dan sebagainya. Seolah-olah, kemampuan memimpin bukan sebagai suatu kapabilitas, tetapi lebih condong sebagai miracle.

Woodward (1999:61) menyebut pimpinan yang tidak memiliki wahyu, sering diragukan keabsahannya. Soeharto sebagai contoh ketika lengser tahun 1998, dianggap kehilangan wahyu, sehingga bukan penguasa yang sah.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Saya pernah diajakan oleh guru bahasa daerah saya bahwa dalam masyarakat Jawa dikenal sistem komunikasi yang dikaitkan dengan nilai etika atau moral.

Disana, ada kalimat bahasa Jawa yang mempunyai struktur jejer, wasesa, lesan (subjek, predikat, objek).

Artinya ada unggah-ungguhing bahasa Jawa atau klasifikasi bahasa Jawa dalam interaksi sosial, Maklum mengandung apresiasi moral yang tinggi.

Dalam sistem komunikasi masyarakat Jawa kuno terdapat kebijaksanaan hidup dan pendidikan tradisional yang dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menggali butir-butir kearifan lokal. Kearifan lokal ini diselaraskan dengan studi kebahasaan dan komunikasi yang sempurna.

Akal sehat saya bisa mengerti bila publik mengusik pernyataan Anda Capres Jokowi, tentang kata sontoloyo dan genderuwo,

Dua kata ini menurut akal sehat saya yang juga orang jawa pinggiran, memiliki pesan komunikasi politik secara verbal. Dua kata meliputi bahasa dan opini publik.

Nah, penggunaan pesan dalam komunikasi politik yang sudah Anda lakukan selama ini menjadi multi tafsir.

Cawapres Anda Prabowo yaitu Sandiaga dan tim sukses Anda, memplesetkan macam-macam, antara lain dikaitkan genderuwo ekonomi dan politik.

Maklum, pesan dalam kegiatan komunikasi adalah inti dari komunikasi politik. Pesan dalam komunikasi poliotik bisa membawa informasi dan makna bagi siapa saja yang menginterpretasikannya.

Kenyataan yang saya serap dari reaksi tim Anda Capres Prabowo, pesan Genderuwo ini sampai menyasar ke teori peluru (bullet theory).

Teori peluru dalam pesan politisi genderuwo yang dilontarkan Anda Capres Jokowi, ada yang memahami sebagai peluru yang malah ditembakkan ke Anda Capres Jokowi, lagi. Ditembakkan untuk memengaruhi publik agar tidak suka atau antipati pada Anda Capres Jokowi.

Salah satunya, Direktur Materi Debat dan Kampanye Parabowo-Sandi (PADI), Sudirman Said. Mantan Menteri ESDM Anda Jokowi, ini malah menyatakan saat ini masih ada “genderuwo ekonomi” yang menggerogoti kekayaan Indonesia.

Nah, komunikasi politik yang Anda Jokowi lakukan soal politik genderuwo ada yang memahami sebagai komunikasi persuasi. Dalam komunikasi persuasi ada pengaruh kekuatan yang besar, yaitu tidak hanya karena “kekuatan” yang dimiliki oleh Anda sebagai komunikator tetapi lebih karena kedahsyatan isi atau konten pesan yang disampaikan untuk memengaruhi publik yaitu politisi genderuwo.

Sudirman Said, malah mengajak publik untuk waspada pada genderuwo ekonomi. Mengingat, bentuk politisi genderuwo, tidak nampak tapi menakutkan.

Direktur Materi Debat dan Kampanye Parabowo-Sandi berjanji bila Capres Prabowo bisa memberantas genderuwo ekonomi, maka politik Indonesia menjadi baik. Maklum, genderuwo ekonomi adalah orang-orang yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk menguasai negara dengan cara yang tidak transparan.

Sudirman bertekad, Capres Prabowo dan Cawapres Sandiaga, akan lebih fokus pada pemberantasan gendurowo ekonomi, karena politisi genderuwo adalah orang-orang yang ingin memperoleh kesempatan-kesempatan dalam pemerintahan Anda Capres Jokowi selama ini.

Jadi, pesan Anda Capres Jokowi, soal politik dan politisi genderuwo maupun sontoloyo, di masyarakat ada yang diterima secara positif maupun negatif.

Ini bergantung pada persepsi dan pemaknaan yang muncul dari publik yang menerima dan memaknai pesan Anda Capres Jokowi. Pesan yang dalam satu bulan bak peluru menyasar ke publik dengan ungkapan sontuloyo dan politik genderuwo. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)