Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Anda berdua tampaknya lihai dalam kelola isu politik. Tempe, yang selama ini baru merupakan menu kesukaan hampir orang Indonesia, mendadak menjadi isu politik. Bahkan isu ini sampai menggoyang istana dan anggota kabinet.

Mulanya, tempe dasri makanan bergizi dari kedelai dijadikan bahan temuan secara acak oleh Sandiaga Uno, Cawapres Anda Prabowo.

Pertama, saat blusukan di Pasar Prjosari, Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (24/10/2018). Siang ini, Sandiaga menemukan bakul tempe yang berjualan tempe set-setan. Sontak, Sandiaga terhenyak.

Sandiaga menyebut potongan tempe sasetan itu seperti tempe saset persis sampo. Juga ada tempe segede Ipad hingga tempe segede HP jadul.

Cawapres Prabowo membuat kesimpulan, tempe sekarang ada yang setipis kartu ATM, lantaran mahal. Pendapatannya ini setelah ia berbincang dengan warga di Duren Sawit, Jakarta, satu bulan sebelum mengunjungi Pasar di Bawen Semarang.

"Informasi harga tempe ini, kalau misalnya teman-teman itu mengartikannya sebagai suatu jeritan masyarakat, iya. Apakah ini hiperbolisme? Mungkin iya. Tapi menurut saya yang disampaikan masyarakat dan kita enggak boleh mendiskreditkan, mem-bully," kata Sandiaga lagi.

Selain menyebut mahalnya bahan baku tempe yaitu kedele, Sandiaga juga menilai temuan ini sebagai bentuk nyata kesenjangan yang terjadi di masyarakat.

Sorotan Sandiaga soal harga tempe ini dikaitkan terhadap penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang belum teralihkan. Dampak dari penguatan dolar, membuat harga kebutuhan pokok semakin meningkat, salah satunya tempe. Maklum, karena dolar harga kedele terus meningkat, Sehingga ukuran tempe sekarang diproduksi setipis kartu ATM.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Temuan dan pendapat Cawapres Sandiaga ini mendapat respon dari istana dan anggota cabinet kerja Presiden Jokowi.

Seminggu setelah pernyataan Sandiaga, Anda Capres Jokowi, blusukan ke Pasar Surya Kencana di Kota Bogor pada Selasa malam (30/10).

Anda Capres Jokowi, menemukan harga tempe masih tetap sama atau tidak naik. "[Tempe] Harganya tetap. Ya dari dulu kan senangnya tempe sama ngecek [harga] tempe naik atau enggak," kata Jokowi.

Saat blusukan kali ini, Anda Capres Jokowi tidak sebatas bertanya kepada pedagang, tetapi juga membeli sejumlah barang untuk mengetahui harga secara langsung. Anda antara lain membeli enam selonjor tempe yang cukup tebal, 10 ikat bayam, sawi, dua kilogram cabe rawit, dan dua kilogram cabe keriting. Beberapa buah seperti mangga dan pepaya juga dibeli.

Tempe, sampai akhir Oktober 2018 di Jakarta, dinilai Capres Jokowi harganya masih stabil. "Tempe harganya tadi Rp5 ribu bisa dipotong jadi 15. Tadi saya beli semuanya. Beli petai, tempe, tahu, ikan, daging Rp120 ribu, melinjo, cabai Rp30 ribu, pas naik bisa Rp80 ribu, tapi tadi cabai Rp30 ribu," ujar Jokowi, yang juga blusukan di beberapa pasar di Tangerang, Banten. Selain Pasar Anyar dan Pasar Tanah Tinggi.

Mendapati harga tempe di pasar tradisional ini, Anda Capres Jokowi , minta tidak ingin ada pihak yang berteriak-teriak harga bahan pokok di pasar tradisional naik. Terikan ini tak sesuai kondisi lapangan. Selain bisa berdampak ke penjualan di pasar.

"Ini jangan sampai ada yang teriak-teriak di pasar harga mahal. Pedagang pasar ngamuk semua, ibu-ibu enggak ada yang ke pasar nanti larinya ke mal," kata Jokowi.

Selain Anda melakukan cek di pasar, pembantu Anda Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita, pada bulan yang sama juga mengunjungi kawasan sentra produksi tahu dan tempe di kawasan Kalideres, Jakarta Barat.

Menteri dari NasDem ini mengakui, di pasar memang ada tempe yang setipis kartu ATM. Namun tempe tersebut merupakan keripik tempe. Ia juga meluruskan ukuran tempe dan tahu pun masih tebal tidak seperti apa yang diberitakan soal ketebalannya berkurang menjadi tempe saset.

"Saya juga langsung telepon importir kedela, mereka bilang juga enggak naikkin harga," kata Enggartiarso, saat mengunjungi gudang Primer Koperasi Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Semanan, Jakarta Barat, Rabu (19/9/2018

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Mengapa Presiden sampai menteri perdagangan panik atas teriakan Cawapres Sandiaga Uno? Maklum, tempe dan tahu adalah makanan pendamping yang cukup popular di Indonesia. Baik masyarakat kelas atas maupun masyarakat kecil. Selain itu, harganya terjangkau, dan rasa dari kedua makanan berbahan kedelai ini juga pas di lidah orang Indonesia.

Realitanya, meski murah dan dipandang sebelah mata, adalah tempe yang menyelamatkan jutaan rakyat Indonesia dari penyakit kurang gizi dan busung lapar pada tahun 1945-hingga akhir 1960an. Saat itu, bila tidak ada tempe, yaitu pada saat ekonomi Indonesia terpuruk, ada juta anak yang terlahir kurang gizi. Sebelumnya, tempe juga menyelamatkan tahanan perang dunia II yang ditawan Jepang. Sejarah mencatat cukup besar jasa makanan yang terbuat dari fermentasi kedelai ini.

Dan meski menghina tempe, Presiden Soekarno pernah mengakui sangat menggemari tempe. Ada dua makanan yang tak pernah absen dari meja makan Istana. Gulai daun singkong dan tempe goreng. Mengingat bentuknya yang sederhana, Soekarno tak pernah menawarkan makanan ini pada tamu-tamu negara. Tapi gulai daun singkong dan tempe goreng adalah dua makanan yang paling disukai Soekarno.

Menurut dokter gizi saya, pasiennya yang kurang menyukai daging, disarankan mengonsumsi tempe dan tahu. Dua camilan ini bisa menjadi asupan protein pengganti. Kandungan gizinya bermantaat. Fakta yang diteliti dokter gizi ini, tempe memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dibanding tahu.

Untuk satu porsi tahu atau tempe yang setara dengan setengah cangkir, tempe mengandung sebanyak 15,4 gram protein. Sedangkan tahu mengandung protein yang lebih sedikit yaitu 10 gram.

Ini yang membuat importir yang mata duitan berambisi melakukan impor kedelai secara rutin dari Argentina, Chile, Brazil, paling besar dari Amerika Latin serta Filipina dan Malaysia.

Sampai Agustus 2018, impor kacang kedelai Indonesia terus mengalami kenaikan. Mengutip informasi dari United States Department Agriculture (USDA), hingga 16 Agusutus, ekspor kacang kedelai AS ke Indonesia sepanjang tahun 2018 telah mencapai 2,342 juta ton.

Angka ini naik 5,15% dari capaian periode sama tahun 2017 di 2,227 juta ton. Lebih rinci lagi, pada sepekan menuju 16 Agustus 2018, ekspor kedelai AS ke Indonesia mencapai 405.200 ton atau naik 92,31% dari yoy di 210.700 ton.

Ekonom Dradjad Wibowo, dari PAN mengungkapkan terdapat 4 perusahaan yang merajai sektor pengimpor pasokan kedelai ke tanah air.

Dari data-data importir Dradjad menunjukkan geliat pebisnis impor kedelai di RI yang menggiurkan. Makanya, KPPU diminta menelusuri apakah ada kartel terselubung, atau ada kaitan politik tertentu.

Importir itu, PT Sinar Unigrain Indonesia yang bermarkas di Surabaya. PT ini telah mengimpor kedelai hingga US$ 40,5 juta. Dan pemiliknya pemain muda Hariyono Tan.

Ada juga PT Golden Sinar Sakti yang terafiliasi dengan Sungai Budi Group (SBG). Sungai Budi Grup memiliki anak usaha lain yang telah listing di BEI seperti PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dan PT Budi Acid Jaya Tbk (BUDI).

Padahal, Golden Sinar Sakti merupakan pendatang baru. Ini menarik perhatian karena merupakan bagian dari Sungai Budi Group. Sungai Budi Group ini dimiliki salah satu dari orang terkaya Indonesia, yaitu Widarto.

Golden Sinar Sakti telah mengimpor kedelai seharga US$ 40,78 juta. Selain PT Gerbang Cahaya Utama yang merupakan importir langsung dan pedagang kedelai terbesar di Jawa Tengah.

KPPU pernah merilis Gerbang Cahaya Utama menguasai pasar impor kedelai dalam negeri mencapai 47%. Gerbang Cahaya Utama telah mengimpor kedelai senilai US$ 48,76.

Perusahaan yang telah listing di BEI ini ternyata sebagai pengimpor nomor satu kedelai ke RI. Keempat PT Fishindo yang telah mengimpor kedelai senilai US$ 123,13 juta.

Dradjad menilai Fishindo yang sangat spektakuler. Tahun 2010 namanya tidak ada dalam 10 importir terbesar.

Tapi sejak Tahun 2011 dia melejit menjadi no 1, dengan nilai impor yang fantastis yaitu US$ 296 juta atau sekitar Rp 2,7 triliun. Fishindo ini ada kaitannya dengan Fishindo Kusuma Sejahtera Multi Agro, sebuah perusahaan terbuka, yang dimiliki Hio Baron Setiawan Sumadi atau Hio Sumadi.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Anda berdua pasti sadar bahwa di era demokrasi saat ini, dituntut adanya keterbukaan bagi siapapun. Dan keterbukan ini telah dijamin oleh Negara untuk setiap individu didalamnya.

Pertanyaan saya, ada apa lemparan isu dan opini soal harga tempe dari Cawapres Sandiaga, membuat Anda Capres Jokowi, panik. Termasuk menteri perdanganan Enggar.

Anda saat ini masih Presiden. Mengapa urusan mengecek harga tempe di pasar tradisional, Anda tanggapi sendiri. Mengapa tidak meminta tim sukses Anda atau menteri perdagangan yang melakukan pengecekan di pedagang dan produksen tempe?

Apalagi di kementerian perdagangan ada humas. Maklum humas di sebuah kementerian menjalankan salah satu fungsi manajemennya yaitu mengelola aspirasi atau pendapat. Apalagi berkenaan dengan citra presiden atau kementerian.

Maklum, pengelolaan opini publik pada instansi pemerintahan sangat penting. Apalagi ditahun politik terkait opini publik yang bersifat negative dan tidak menguntungkan bagi Anda Capres Jokowi, yang sejak Gubernur DKI suka blusukan di pasar-pasar dan mall.

Sampai Anda sendiri mekakukan sidak ke bakul tempe, apakah soal harga tempe yang naik Anda anggap sebagai suatu krisis?

Bila soal teriakan harga tempe sudah Anda anggap sebagai Krisis kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi kerakyatan, perlukah dibentuk tim penyelamat harga kebutuhan rumah tangga lintas kementerian?.

Mengingat krisis yang berhasil diatasi pada umumnya akan melahirkan nama besar, keharuman dan reputasi.

Dalam masalah teriakan harga tempe naik dan dipublikasikan, menurut saya masuk dalam konsep The immediate crisis. Mengapa? kejadian teriakan harga tempe naik telah membuat Anda terkejut. Dan Anda capres Jokowi, merasa masih ada waktu untuk melakukan respon dan antisipasi terhadap teriakan Sandiaga.

Suka atau tidak, teriakan Sandiaga yang diulang dari satu pasar tradisional lain, sudah menjadi konsumsi masyarakat.

Ada temuan, ada analisis dan pendapat Sandiaga. Inilah opini publik, yang oleh ahli komunikasi dianggap sebagai hasil dari proses penggabungan pikiran, perasaan, serta usul yang diungkapkan bakul tempe.

Menurut saya, teriakan Opini publik Sandiaga (baru) soal tempe ini sudah mencakup opini massa, opini kelompok, dan opini rakyat. Akal sehat saya, Opini publik dari Sandiaga Uno ini sadar atau tidak telah menimbulkan kontroversi, antara pemerintahan yang Anda Capres Jokowi pimpin dengan masyarakat dan elite politik yang pro Cawapres Sandiaga. Hasil serapan saya di beberapa pasar tradisional di Surabaya, opini publik yang dimunculkan Sandiaga bisa dilihat telaj memperlihatkan keinginan rakyat terkait kebijakan pemerintah Anda soal impor kedelai yang dikuasai empat importir besar.

Fakta ini yang mendorong akal sehat saya berkata hubungan opini publik soal Teriakan tempe mahal dengan komunikasi politik telah terjalin. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)