Petugas PMK mengevakuasi jasad Johan Indra Jaya, korban yang tewas saat rumahnya terbakar, Selasa (20/11). FOTO SP/JULIAN

SURABAYA PAGI, Surabaya – Lantaran tak segera mendapat pertolongan, Johan Indrajaya (69) akhirnya tewas terpanggang. Rumah korban di Jalan Kutisari Selatan 15/55B Kelurahan Kutisari, Tenggilis Mejoyo, Surabaya itu ludes terbakar, Selasa (20/11/2018).

Sedang mobil Pemadam Kebakaran (PMK) tak bisa cepat ke lokasi kejadian, karena terhalang tenda hajatan warga dan kendaraan warga yang parkir di jalan kampung. Hambatan ini bukan kali pertama dialami petugas PMK. Sepintas tampak sepele, tapi akibatnya fatal.

Dari informasi yang didapat Surabaya Pagi di lokasi kejadian, kebakaran diketahui pertama kali oleh warga sekitar sekitar pukul 03.30 WIB. Saat kebakaran terjadi, tetangga korban mendengar suara ledakan besar dari arah rumah berukuran 90 meter persegi itu.

Ketika warga datang, api sudah membesar. Kemudian menelepon 112 (Command Center) dan berusaha memadamkan api dengan alat seadanya.

"Warga hanya berusaha memadamkan api dengan alat seadanya, karena api sudah sangat besar," ucap Tommy, warga setempat di lokasi kejadian.

Meski warga sudah menghubungi 112, namun mobil PMK baru tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 04.30 WIB. Maksub, tetangga korban menyebut sebenarnya petugas PMK sudah datang sekitar 7 menit setelah melaporkan kejadian ke 112.

Namun, mereka terhenti di pintu gang. Di pintu masuk gang sebelah kiri ada terop warga, dan di sebelah kanan ada balai RW di atas jalan. Tak hanya itu, ada mobil-mobil warga yang terparkir di kiri kanan jalan.

Saat petugas PMK datang, pemilik rumah yang tinggal sendirian itu sudah kehilangan nyawanya. Sedang api semakin membesar. "Kalau tidak terhalang terop dan gapura mungkin pak Johan bisa tertolong. Karena 10 menit (setelah kebakaran) itu masih ada teriakan dari dalam rumah," ungkapnya.

Setelah keluarga datang, korban langsung dievakuasi ke kamar mayat RSU dr. Soetomo, Surabaya. "Kasihan, Pak Johan hidup sendirian. Padahal umurnya sudah sangat tua," lanjut Maksub.

Sementara itu, Ryan, warga sekitar mengatakan jika Johan tinggal dirumah seluas 6x15 meter itu seorang diri. Sedangkan anak, istri dan keluarga lainnya tinggal di Kutisari Utara. "Dia (Johan,red) tinggal sendirian mas. Keluarganya kalau ndak salah di Kutisari Utara," kata Ryan.

Terhalang Mobil Parkir

Kabid Operasional, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, Bambang Vistadi mengungkapkan mobil pemadam terhalang tenda hajatan warga, sehingga petugas PMK harus memutar mencari akses lain.

Dalam pencarian akses, petugas kesulitan, sebab selain adanya bangunan pos RW bertingkat yang menyebabkan mobil pemadam tidak bisa masuk, banyak mobil warga yang terparkir di bagian kiri dan kanan sepanjang jalanan.

"Kami tadi agak kesulitan masuknya, yang besar terhalang pos RW, sementara mobil unit dari Jambangan yang kecil saja, terhalang karena banyak mobil parkir di jalan," ungkapnya.

Setelah tiba di lokasi, petugas menerima informasi jika ada korban yang terjebak. Dari informasi tersebut, petugas melakukan pemadaman dan upaya evakuasi penyelamatan lewat pintu belakang. Namun, korban pada saat itu sudah dalam kondisi tewas terpanggang di atas tempat tidur di kamar utama.

"Pada saat kami tiba, memang kondisi api sudah membesar di kamar utama dan atap mulai roboh. Kami kerahkan 8 unit PMK, dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 04.52 WIB," tambah Bambang.

Belum diketahui pasti penyebab kebakaran tersebut, namun diduga kuat karena arus pendek. "Kemungkinan besar arus pendek mas, sebab saat itu korban tidak memasak," tutup Bambang.

Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD Kota Surabaya, Vinsensius Awey menyayangkan terhambatnya mobil PMK saat menuju lokasi lantaran banyak mobil yang parkir di kanan kiri jalan. Sebab, penggunaan jalan yang seharusnya dilarang untuk parkir, sangatlah mengganggu pengguna jalan lainnya.

"Tak hanya PMK saja, nanti kalau ada ambulan, pasti mengganggu juga. Ini pemkot harus mencari solusi. Bayangkan 10 tahun mendatang, apa masyarakat ndak makin banyak yang punya mobil. Bagaimana pun, masyarakat ndak salah, sebab transportasi umum di Surabaya kurang memadai," kata Awey.

Menurut politisi Partai Nasdem ini, Pemkot Surabaya bisa memberikan solusi kepada masyarakat seperti memberikan tranportasi yang memadai atau menyediakan lahan parkir bagi pemilik mobil yang tak memiliki garasi.

Banyaknya tanah aset Pemkot di sejumlah wilayah kelurahan, bisa dimanfaatkan untuk lahan parkir dengan memanfaatkan pengurus kampung seperti RT, RW, atau Karang Taruna.

"Bisa juga pemilik tanah yang mau digunakan lahan parkir, pemkot bisa saja kerja sama itu, kan bisa bermafaat. Kalau tidak ada solusi, maka pasti jalanan akan dipenuhi kendaraan pribadi 10 tahun mendatang," tambah Awey.

Terkait perda 1 mobil 1 garasi, Awey mengatakan jika perda tersebut diterapkan di DKI Jakarta dan sempat gagal. Namun, Awey menilai jika pemerintah kota Surabaya menerapkan hal tersebut tentu akan menyulitkan warga Surabaya jika tidak didukung transportasi umum yang memadai.

"Tentu hal tersebut harus didukung ?engan transportasi yang memadai, jika tidak, maka sangat menyulitkan warga. Sebab, minimnya transportasi umum membuat masyarakat lebih memilih naik kendaraan pribadi," papar Awey.


Jalan kampung yang sempit dan banyaknya mobil parkir menghambat mobil PMK datang ke lokasi kebakaran di Kutisari Selatan 15/55B, Surabaya.

Sikap Walikota

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini angkat bicara soal kendaraan PMK yang kerap mengalami kesulitan mengakses lokasi kebakaran di permukiman padat penduduk.

Risma mengimbau agar pengurus RT, tidak hanya di kawasan kampung Kutisari Selatan 15, tapi di kampung lain yang padat penduduk di Surabaya, agar menata parkir mobil warga.

"Satu jalur saja dipakai parkir, sehingga satu jalur lain bisa dilewati kendaraan pemadam kebakaran," ujar Risma.

Selain itu, dia mengimbau pengurus RT dan warga kampung tidak membangun gapura atau Balai RW yang tingginya terlalu rendah sehingga menyulitkan mobil PMK. "Pernah saya itu sampai mendatangkan alat berat (untuk membongkar gapura) supaya kendaraan PMK bisa lewat," pungkas Risma. n jmi/alq